Kamis, 13 September 2012

Akan Indah pada Waktunya


Akan Indah pada Waktunya

By: Yanz


*Yanz POV*

PUUK!!!

“Aaakh… cukup! Kesabaranku sudah habis, dari tadi aku sudah sabar kau main drum di saat aku belajar dan sekarang kau melempar stik drummu ke kepalaku, kau cari mati hah?” teriakku sekuat tenaga padamu.

“Balikin sini stik gue!!!!!” katamu ketus. Aku menatap sangar, kugigit rahangku dengan keras hingga rahangku menegas dan tubuhku bergetar karena emosi tertahan sudah mau meledak. Kupatahkan stik itu dengan penuh emosi dan melemparkan ke wajahmu sekuat tenaga.

“Makan tuh! Puas lo!” teriakku geram dan mendeath glare-mu.

Kau menggerang dan menerjangku kekasur, kita bergulat, aku hanya menangkis seranganmu dan menahan diriku agar tidak melawan tindakanmu… ingin rasanya kubunuh kau detik itu juga andai kau bukan kakak kembarku Daniel! Kita tercipta sebagai kembar identik, sama-sama memiliki tubuh langsing tinggi, kulit putih, wajah oriental nan cute,  namun kepribadian yang jauh berbeda, aku heran kenapa begitu..

Selama ini aku berusaha menyayangimu layaknya sodara kembarku hanya saja kau tidak pernah menunjukkan rasa sayangmu padaku. Ingin rasanya aku berfoto bersamamu terus mengoploadnya ke jejaring social dan memamerkanmu, “Hei guys, aku punya kembaran… mirip sekali kan?”  atau pun berjalan ke mall bersamamu menghabiskan waktu tapi sayang sekali kau tidak pernah sudi melakukannya foto terakhir kita hanya di saat TK dulu. Bahkan kau tidak mau ada yang tau bahwa kita kembar, kau memilih sekolah yang berbeda dariku semenjak SD, sekolah yang sekiranya jauh dari jangkauanku kau rela menempuh perjalanan jauh demi berpisah denganku, setiap kali temanku datang kau pasti bersembunyi kau tak mau menampakan dirimu karena kau tak mau ada yang tau kita kembar, bagaimana dengan temanmu? Sayangnya kau tak memiliki satu teman dekat pun, haha kesian.

Aku tau persis kebencianmu kepadaku tercipta saat bangku TK dan sekarang sudah kuliah pun kau masih kekeuh pada pendirianmu, yaitu membenciku. Saat TK dulu, aku sudah menunjukkan kesupelanku, aku selalu berusaha ramah, menebar senyum dan tak memilih teman sehingga siapapun ingin dekat denganku. Sedangkan kau? Kau selalu merengut, nada bicara tinggi, ketus dan bicara hanya sedikit itu pun isinya selalu makian. Kau kesal, kita kembar identik tapi kenapa hanya aku yang dikerubuti teman-teman di TK? Sedangkan kau hanya bermain di ayunan sendirian menatapku yang berlari-lari dengan puluhan teman di taman, kau menatapku dengan mata sedihmu.

Bagimu aku tak lebih dari seseorang yang hanya cari muka dan cari perhatian, kau sangat marah dengan apapun yang aku miliki hingga kau mendorongku di toilet sekolah. Saat itu banyak saksi yang melihat tindakan kekerasanmu yang membuat orang-orang kasiahan denganku dan semakin memojokkanmu, mengacalah wahai Daniel kau layak mendapatkannya bukan?

Semenjak SMA kita sudah memiliki style masing-masing agar kita tak identik lagi. Kau lebih suka dandanan emo yang sangat gothic, mengecat rambutmu dengan warna hitam kebiruan, make up pucat dengan mata dihiasi eyeliner yang lebih menonjolkan sisi gelapmu. Sedangkan aku lebih ceria, aku suka Jepang maupun Korea sehingga aku mengecat rambutku dengan warna pirang keemasan dengan model harajuku sehingga seperti ulzzang, namun aku masih memberikan kesan cool+cute, teman-temanku bilang aku ini androgini, lihatlah tatapanku sangat cool bukan. Aku suka menghabiskan waktuku dengan club costum player (cosplayer) dan club cover dance, sehingga menambah banyak teman yang sehati denganku. Sedangkan kau suka dengan music keras seperti screamo dan sebagainya, bermain bass, drum ataupun berteriak-teriak di kamar sepanjang hari.

Aku selalu mengeluh pada mama bahwa aku terganggu dengan hobimu yang memainkan alat musik berisik itu dalam kamar, ingin aku punya kamar pribadi namun mama melarang keras. “Yanz. Kalian sudah sangat jarang bertemu, paling tidak kamar lah yang menjadi penyatu kalian,” itu saja yang diucapkan mama. Membuatku menghela nafas pasrah.

Seperti halnya di awal kami sedang bergulat di atas kasur, ini bukan sekedar main-main antara sodara namun kau benar-benar bernafsu membunuhku. Kau melayangkan tinju kesana kemari yang selalu berhasil aku tahan, aku pun berhasil menindihmu. Kududuki perutmu dan menahan tanganmu di atas kepala, persis sama disaat aku meniduri para bottomku. Well… aku seorang bisex dan aku seorang top, aku suka memadu kasih dengan cowok-cowok bishie atau cute boy yang biasanya anak-anak SMP atau pun yang seumuran denganku, yang masih memiliki sisi polos.

Kau menggerang dan berusaha memberontak namun kau tidak mampu melawan otot-otot tanganku yang kokoh hasil fitnes ini, ide jahil malah terbesit dalam fikiranku. Tanpa perduli kau sodaraku, aku mendekatkan wajah ke lehermu dan…

Take me by the tongue
And I’ll know you
Kiss me till you’re drunk
And I’ll show you all

The move like jagger
I’ve got the moves like jagger
I’ve got the moves like jagger


Sayang sekali HPku berbunyi, aku mengurungkan niat untuk ‘memakanmu’ wahai Niel. Aku keluar dengan membawa HPku dan mengangkatnya.

“Ada apa, Dimas?” tanyaku kepada temanku Dimas yang sedang menelepon.

“Aku lagi ada masalah… aku mau curhat, boleh ya aku ke rumahmu? Dimana alamatmu? Aku sangat butuh kamu sekarang!” ucapnya panik dari sebrang sana.

Aku pun memberikan alamatku pada Dimas. Ah ya, ini adalah Dimas sahabat baikku atau tepatnya seniorku di kampus. Kami saling kenal saat moska dulu, dia adalah salah satu panitia yang sangat baik padaku hingga akhirnya dia meminta nopeku, kami jadi sering smsan, teleponan atau pun jalan bareng.

Walau pun umur persahabatan kami baru setengah tahun tapi kami sudah sangat terbuka, dia mengaku kalau dia seorang gay dan memiliki BF yang bernama Andika, dia selalu curhat tentang BFnya padaku. Aku pun menceritakan bahwa aku seorang bisex tapi aku lebih serius sama cewek, sama cowok aku cuma main-main. Ya walau kami sama-sama pecinta lelaki namun aku dan Dimas tidak memiliki hubungan special, aku dan dia hanya bersahabat. Aku top dan dia pun top mana cocok, seperti yang aku bilang aku sukanya brondong imut. Kuakui dia tampan, rahangnya tegas, tubuhnya atletis namun gak segede ade ray juga lah, maximal kaya model L-man lah, aku pernah mandi bareng dia di sauna sehabis fitness, mantab perutnya kotak-kotak! Kapan aku punya seperti itu? Apapun yang ada pada Dimas sangat menegaskan dia manly dan tampan namun dia bukan typeku sehingga aku bisa menahan hasratku.

Dia sudah duduk di hadapanku di ruang tamu sekarang, dengan wajah murung dia bercerita bahwa hubungannya dengan sang BF sudah diujung tanduk. Aku hanya berusaha bilang sabar, namanya cinta terlarang ini jangan dibawa serius kalau ujung-ujungnya bakal married sama cewek, bakal nyakitin hati doang wahai kawanku.

Dia menunduk, menatap kakiku yang terekspose karena aku cuma pakai boxer pendek dan kaos oblong.

“Kakimu bagus ya kaya para personil SNSD,” desisnya. Aku tergelak tawa mendengarnya.

“Hahaha… SNSD mana ada yang buluan kaya aku!” teriakku sambil terpingkal.

“Bulu apa hayoo?” godanya.

“Bulu apa aja boleh, kamu mau liat?” tanyaku gak kalah menggoda.

“Hahaha… makanya dicukur dulu bulunya biar kaya SNSD!” pintanya.

“Ogah! Hilang nanti kelelakianku!” ujarku sambil menjulurkan lidah. Kebetulan saat itu kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah sehingga aku dan Dimas bisa membahas apapun meski pun sangat intim. Terlihat di sela-sela dinding muncul kepalamu walau sedikit. Aku memicingkan mata dan berpikir apa yang kamu lakukan di sana? Tumben-tumben kamu menghintip.

Dimas akhirnya memutuskan pulang setelah dia merasa lega menumpahkan isi hatinya padaku, aku pun tersenyum puas bisa menenangkan hati sahabatku satu itu. Aku masuk kamar berniat mengambil laptop dan memainkannya di ruang keluarga. Saat aku masuk kamar aku melihatmu yang menatapku sedikit canggung dan ragu-ragu, aku berusaha cuek dan mengambil laptopku.

“He-hei!” panggilmu terbata.

Aku yang sudah di depan pintu pun menoleh, “Apaan?”

“Yang tadi itu siapa?” tanyamu dengan tatapan antusias.

Aku tersenyum menggoda, “Temenku di kampus, kenapa? Kau tertarik?”

Wajahmu sedikit memerah, “Kau bicara apa sih! Mana mungkin tertarik…”

“Kau gay ya?” tanyaku tanpa beban, awalnya aku cuma asal ngomong tapi melihat ekspresi gugupmu mataku langsung membulat, hah apa benar tebakanku bahwa kau gay? Yaampun, kenapa kita punya penyakit yang sama Niel? Ah maaf, kasar sekali bahasaku, gay bukan penyakit kok jangan khawatir aku tak akan memandangmu rendah jika memang perasaan itu tak bisa kau tolak. “Nyantai aja sama aku Niel…” bujukku.

“Gue gak tau kenapa… rasanya hati gue kesetrum lihat temen lo tadi… Yanz, dapetin dia demi gue dong! Please…”

Aku terperangah mendengarnya, “Yaudah, nanti aku kenalin kamu sama Dimas, dia anaknya baik banget loh, dewasa ya pokoknya the best lah…  aku gak keberatan kalau kamu sama dia,”

“Gak! Pokoknya gak boleh ada yang tau kita ini kembar, apalagi dia. Lo, dapetin hati dia buat gue.. nanti setelah berhasil baru gue yang jalanin…”

“Enak di kamu, Niel. Ogah… lagian dia sahabat aku, aku canggung kalau pdkt segala walau dia juga gay…”

“Ayolah… masa lo tega sama kembaran lo ini?” katamu memelas. Aku sedikit menimbang, mungkin hubungan kita bisa membaik jika aku berhasil membahagiakanmu, Niel.

Tak lama kemudian aku mendapatkan HPku berbunyi, ternyata Dimas. Aku mendengar suara seraknya di sana, sepertinya dia menangis? Dia bercerita bahwa hubungannya dengan BFnya berakhir. Net not, kebetulan sekali, lowongan untukmu sudah terbuka lebar, Niel.

Aku berusaha menabahkan Dimas, memberikan banyak kata-kata bijak sebagai motivasi. Keperihan hatinya membuatku yakin bahwa Dimas adalah pria yang tulus dan selalu serius dalam menjalani hubungan, tanpa basa basi aku langsung menembaknya di telepon.

“Gak usah sedih Dim, masih ada aku di sini… aku siap jadi pengganti Andika. Kamu kenal siapa aku kan? Selama ini kita nyaman-nyaman aja kan? Jangan berlarut-larut dalam kesedihan…”

Terdengar Dimas berdehem dan membersihkan hidungnya yang ingusan haha malang sekali kau kawan, “Aku gak yakin, Yanz… gak mungkin secepat ini.”

Aku pun berusaha manja dan mulai memanggilnya ‘kakak’, “Kak, apa kakak gak minat sama Yanz?” tanyaku sok manja, padahal aku ingin terpingkal detik itu juga. Dapat kulihat Niel yang duduk di depanku mendengar obrolan kami dengan seksama.

“Jujur, aku suka kamu Yanz.. tapi… akhh… aku gak bisa jelasin… bisakah malam ini kau datang ke tempat kostku?” aku mengangkat alis, tersenyum kemudian mengiyakan apa maunya.

Aku menatapmu sejenak. Walau kembar identik tapi kita sangat berbeda, demi kebahagiaanmu aku mengiyakan scenario yang kamu rangkai walaupun sangat merepotkan. Aku pun mengajakmu ke salon, mengubah gaya dan warna rambutmu. Mengajariku mengobrol ala aku, aku yang santai, murah senyum, ramah dan sopan walau pun kamu sangat kesulitan menghilangkan kebiasaan ‘gue-elo’ milikmu.

Sesuai rencana, kamu datang ke kost Dimas.. tangan dinginmu menggegam tanganku dengan erat, dapat terlihat kamu sangat gugup malam itu. Aku pun meninggalkanmu setelah mengantarmu di depan kost Dimas.

-0-0-0-

KRRIIIING!!

Jam wakerku berbunyi menandakan sudah jam 7 pagi, aku menoleh ke kasur di sampingku. Hah, kamu belum pulang??? Apa kamu asik indehoyan dengan Dimas tadi malam? Haha… aku tidak sabar mendengarkan ceritamu.

Kulihat kau muncul dari balik pintu, senyummu lebar dan terlihat bahagia, aku pun girang melihatnya.

“Bagaimana?!!” tanyaku antusias.

“Kami jadian! Kayaknya…” katamu ragu.

“Kok kayaknya?”

“Dia bilang ‘kita jalani aja dulu’ saat gue tanya dia anggat gue apa dia cuma bilang ‘secret’ huh…”

“Itu sudah ada kemajuan kali, ayo cerita ngapain aja tadi malam?” tanyaku antusias, sumpah saat melihat kau bahagia aku pun ikut berjingkrak, aku yang malam tadi putus dari cewekku pun akhirnya bisa melupakan kesedihanku sejenak.

Kau pun mulai bercerita, katamu dia anak yang sangat asik, dewasa, bikin nyaman dan hobi dia suka sekali menatap kakimu saat mengobrol… kebiasaan Dimas tuh, saat bersamaku pun begitu. Pasti dia memuji kaki kita yang sama ini seperti GB Korea haha. Kalian mengobrol hingga jam 1 malam, saat kamu minta antar pulang dia malah menahanmu dan memelukmu sangat hangat, wajahmu memerah saat itu karena bisa merasakan lekuk indah tubuh sexynya. Kamu pun memutuskan menginap, kalian tidur di ranjang yang sama, saling tatap dan berpegangan tangan. Dimas menciumi wajahmu sebelum tidur dan memelukmu sepanjang malam, kau terlihat sangat gugup dan polos. Pagi harinya saat kau izin pulang kau menemukan Dimas hanya dengan handuk kecil di pinggangnya karena dia baru mandi, kau dapat melihat dada bidangnya dan tubuh sexynya  saat itu. Wajahmu memerah. Dengan gugup kamu minta izin dan Dimas memberikanmu ciuman yang sangat hot pagi itu. Aku berjingkrak, demi apapun malam yang sangat so sweet buatmu Niel, setelah 20 tahun hidup dalam perang dingin akhirnya kita pun bisa curhat seakrab ini, ini lah yang aku idam-idamkan di dalam hubungan yang namanya bersodara.

“Tapi gue kesel dia kayanya ragu sama gue,”

“Maklum lah, kan dia habis putus paling kamu dijadikan pelarian..” kataku santai. Kau terperangah, matamu membesar dengan tatapan kosong.

“Gue… pelarian?” lirihmu dengan air mata yang berlinang di tatapan kosongmu. Astaga! Aku salah omong! Bodoh sekali aku, kenapa aku meluluh lantakkan harapanmu? Aku panik, berusaha menyeka air matamu tapi sifat kasarmu kembali kumat, kau menepis tanganku dengan kasar.

“Umm.. anu, ini cuma belum waktunya… tolong kamu sabar , semua perlu proses! Dimas baru saja sakit hati jadi dia…”

“GAK USAH BANYAK BACOT LO! Gue tuh cuma pelarian kan, gue tuh gak berharga! Gue cuma tong sampah buatnya.”

Aku menghela nafas, aku berusaha meyakinkanmu kalau semua tak semudah itu. Aku paham betul perasaan Dimas saat ini karena kehancuran hatinya sama denganku yang juga baru putus dari pacarku yang niatnya akan aku nikahi. Tapi kamu dengan kekeras kepalaanmu meraung-raung dan bilang akan menyerah mendapatkan Dimas karena kamu tak mau mendapatkan posisi hina yang namanya ‘pelampiasan’. Come on Niel, dengan berjalannya waktu selama kamu pandai menata sikap pasti Dimas akan bertekuk lutut padamu! Tapi kenapa harus menyerah secepat ini? Kau tidur di kasurmu, terisak dengan pedihnya. Sesakit itu kah Niel perasaanmu? Aku berusaha mendekat, memelukmu dari belakang. Kuusap dan kucium kepalamu, rasanya aku lah sang kakak sekarang? Kau itu rapuh Niel… sangat rapuh, kau kasar hanya berusaha menutupi kerapuhanmu.

Aku tak mengerti bagaimana rasa sakitmu karena jika aku di posisimu tentu aku akan bersabar dan tak akan semudah itu menyerah jika memang cinta, astaga! Aku ingat sesuatu… aku pun ternyata sama denganmu, aku tidak memperjuangkan cintaku dan sekarang aku menyerah.. barusan aku bilang jika aku kamu aku tak akan menyerah, dengan gengsi dan ego yang kubuang aku kirim pesan ke tunanganku. Kau menyadarkanku Niel, bahwa aku pun tak lebih baik darimu.

“Aku akan bujuk Dimas ya agar dia jangan menggantung perasaanmu ya?” kataku berbisik lembut.

“GAK! Cuekin Dimas Yanz! Cuekin dia! Gue gak mau tau pokoknya lo harus putus kontak sama dia biar dia kangen sama gue!” what the hell, kau sangat menyebalkan Niel. Tanpa persetujuanmu aku pun mengirim pesan ke Dimas, hah bebanku ada dua sekarang. Masalah percintaanku saja gak kelar sekarang harus mengurus percintaan kembaranku. Aku bicarakan sebijak mungkin dengan Dimas agar dia yakin aku bisa lebih baik dari mantannya bahwa mantannya yang selingkuh itu gak pantas buat dikenang, semua harus move on gak bisa jalan di tempat… aku yakin sekeras dan sengambekan apapun Niel dia punya cinta yang tulus dan cuma sosok Dimas lah yang aku percayakan menjaga Daniel.

“Barusan aku sms Dimas dia ngajak jalan tuh entar malem…” kataku padamu. Kau menonjokku dengan keras.

“LO TUH GAK BISA DIBILANGIN YA! GUE BILANG CUEKIN DIA! BATALIN GAK JANJINYA!!!!”

Aku terjengkal di bawah ranjang, “Cinta itu perlu diperjuang kan!!!!” teriakku penuh emosi.

“Harga diri gue gak mengizinkannya ngerti gak lo! Gue gak mau dia nganggep gue cowok kegatelan!!”

“Tinggal bilang aja kalau kita orang yang beda apa susahnya!”

“GAK SUDI!”

BRUUK! Untuk kali pertama aku melayangkan tinjuan ke wajahmu.

“Mau sampai kapan lo sembunyikan identitas kita? Gue capek! Lo cowok bukan sih? Apa salahnya cowok tuh agresif! Cewek agresif aja udah biasa tapi lo tuh gengsinya terlalu besar! Mimpi lo buat dapetin Dimas kalau sifat lo kaya gini! Terserah lo deh mau datang atau gak entar malem gue gak perduli,” emosiku tanpa sadar memuncak, aku dapat melihatmu yang tersungkur di kasur dengan linangan air mata.

-0-0-0-

Sial, malam ini aku janjian dengan tunangan+Dimas dalam waktu yang bersamaan, ini semua gara-gara Niel. Dari pagi dia hanya meringkuk di kamar bagaikan mayat hidup yang gak mau mandi, makan atau pun beraktivitas. Aku nyerah ngehadapin kamu ini, apapun yang aku katakana gak akan di dengar, cuma hati nuranimu yang bisa menasehatimu.

Aku memutuskan ketemuan dengan mereka di suatu tempat yang memiliki café bersebrangan, di seberangnya aku dengan tunanganku sedangkan sebrangnya aku dengan Dimas. Lihatlah, betapa lelahnya aku bolak-balik berlari secepat yang aku bisa. ini sudah yang ke empat kalinya aku berlari, terlihat semburat curiga di wajah Dimas.

Aku duduk di depan tunanganku sekarang, “Sesungguhnya aku masih mencintaimu… semua begitu berat, berat rasanya jika kita harus mengakhiri perjalanan kita sejauh ini begitu saja…” kataku lemas dan penuh penghayatan.

“Aku…” katanya.. namun aku potong.

“Tunggu sebentar! Aku mules!” teriakku sambil berlari.

“Mules terus! Ada apa sih!” aku pun berlari ke café seberang ternyata tunanganku mengikuti.

Saat aku sampai di meja Dimas aku terperangah, “Niel kau datang juga?” desisku saat menemukan si pirang keras kepala itu di bangku di hadapan Dimas. Tunanganku pun berdiri di hadapanku, mereka berdua heran melihat dua pemuda pirang dengan wujud yang sangat mirip. Kami diselimuti keheningan.

Aku berdehem, sebagai orang yang (sok) bijak, aku membuka suara. Kujelaskan detilnya bahwa kami sebenarnya kembar dan lain lain.

“Sulit dipercaya… tapi, aku sudah curiga dengan perbedaan ini…” kata Dimas.

Niel terdiam, wajahnya masih muram. “Jadi kesimpulannya gimana nih Dimas?” tanyaku.

“Kembar identik, namun aku tau persis perbedaan kalian. Yanz itu santai, asik, sosok sahabat yang aku idamkan. Sedangkan Niel, dia polos, manis… bahasa tubuhnya yang salting membuatku merasa hatiku tergelitik akan tingkahnya, dia sosok kekasih yang aku idamkan…”

“Jadi?” tanyaku antusian.

“Niel jadilah kekasihku…” ucap Dimas. Aku tersenyum lebar, kau terpaku melihat Dimas dengan wajah memerah.

“Aku juga masih mencintaimu Yanz,” kata tunanganku/calon istriku yang berdiri di samping. Kami semua tersenyum bahagia dengan berakhirnya konflik ini.

Akhirnya setelah 20 tahun hidup bersama dengan pertengkaran aku dan kamu pun sudah bisa rukun selayaknya seorang pasangan kembar Niel… semua orang berdecak kagum melihat 2 pemuda cute dan cool bagaikan youngmin dan kwangmin (boyband boyfriend) ini aku pun memutuskan mengecat rambut jadi hitam agar lebih manly kami pun berdampingan penuh kerukunan. Pada akhirnya semua perseteruan ini akan indah pada waktunya, badai telah berlalu.

TAMAT

NP: Komentar kalian adalah nafas dan semangatku dalam berkarya, komentarlah!

Salam manis Yanz.

FB: http://m.facebook.com/daniel.yanuar4

4 komentar:

  1. wiiiihhhhhh, keereeennnn. Eh tp bro g kembar kan??? Ato emang kembar? :-/

    BalasHapus
  2. kurang greget, tp idenya sudah bagus, over all bagus lah..

    BalasHapus
  3. keren banget ceritanya,,,kalian berdua memang kembar apa gak sebenarnya...
    DOMINOQQ

    BalasHapus
  4. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus