Kamis, 13 September 2012

My Guardian Angel


Yanz present~
Kuroshitsuji Fanfiction
Tittle: My Guardian Angel

 “Silahkan dipakai Tuan Muda,” katanya menyodorkan seragamku, matanya merah dan menatap sayu, dia seperti vampire ditambah lagi kulitnya yang sangat putih, pucat, pakaiannya pun sangatlah rapi dengan kemeja beserta jas hitam, seperti seorang buttler.

“Siapa kau?” tanyaku.

Dia hanya tersenyum, “Nama saya Sebastian Michaelis. Anda Tuan Muda Ciel Phantomhive kan? Saya adalah asisten ayah Tuan Muda di perusahaan, dikarenakan tempat kost saya sedang digusur, ayah Tuan Muda menawarkan menetap disini, walau pun saya sempat menolak tapi beliau berkata kalau beliau memiliki anak yang sangat manis dan kesepian jadi saya tertarik,” katanya panjang lebar dan tersenyum lembut lagi.

Aku mendengus, “Jangan memanggilku Tuan Muda karena aku sudah dewasa, kau tidak bisa melihatnya hah? Dan jangan berbicara dengan bahasa yang terlalu formal, terlalu aneh untuk kudengar.”


“Baiklah Ciel.”

“Keluar!” kataku ketus. Dia membungkuk, kemudian menuruti perkataanku.

Dengan cepat aku memakai seragam SMAku, ya aku sudah kelas 2 SMA sekarang dan menurutku aku sudah dewasa. Pagi tetap sama seperti biasa, dihiasi dengan teriakan dan umpatan kedua orang tuaku. Ini semua membuatku gila, keluargaku semakin hancur saja. Aku berusaha tidak perduli, mengambil roti dengan cepat dan pergi dari rumah jahanam itu untuk ke sekolah bersama supirku. Kutatap pemandangan dari balik jendela mobil, air mataku jatuh meski pun aku seka berkali-kali. Hei, siapa pun kalian pasti akan terpukul bukan jika keluarga kalian terancam hancur?

Aku semakin iri ketika melihat sepasang suami istri mengantarkan anak mereka ke sekolah, mereka terlihat bahagia. Aku merindukan masa itu.

Keseharian di sekolah juga seperti biasa, aku belajar dengan serius tanpa bergaul. Tak ada satu pun orang yang mau berteman dengan orang yang dingin sepertiku, aku sama sekali tidak ramah. Aku pun tidak butuh mereka, aku bisa hidup sendiri, itu sudah biasa.

Aneh? Ya kalian mungkin menganggapku aneh, bagaimana bisa pemuda tampan sepertiku tapi anti social. Cukup bayak yang berusaha mendekatiku tapi tak bertahan lama.

Setelah sekolah usai pun aku tidak ada niatan berkunjung kemana pun, aku hanya ingin segera pulang, mengurung diri di kamar seperti biasa. Karena aku suka keheningan yang membuatku tenang.

Aku terkejut melihat Sebastian ada di depan sekolahku, dikerubuti banyak gadis. Dengan bangganya dia mengibaskan rambut dan tersenyum ramah untuk tebar pesona sehingga membuat banyak gadis labil di sana berteriak histeris, aku hanya mendengus kesal.

“Sedang apa kau disini?” suaraku langsung membubarkan gumpalan gadis tak jelas tadi. Seolah aku memiliki aura hitam mematikan mereka semua mundur dengan perasaan takut. Sebastian tersenyum ramah.

“Aku menjemputmu Ciel, aku khawatir jika anak kecil sepertimu pulang sendiri,” katanya masih dengan senyuman yang kuras dimirip-miripin sama malaikat.

“AKU BUKAN ANAK KECIL BODOH! Dan aku punya supir, kau kemanakan supirku?!!” teriakku murka. Semua orang memperhatikan kami, Sebastian tetap dengan senyumannya.

Dia tidak membalas perkataanku melainkan membuka pintu belakang dan mempersilahkanku masuk, aku terdiam memandangnya ketus. Orang bodoh macam apa dia. Dia mengusap kepalaku, berdiri ke belakangku dan mendorongku masuk, aku meronta-ronta namun kalah kuat dengannya. Menyebalkan.

Sepanjang jalan dia berusaha mengajakku mengobrol namun hanya kudiamkan.

“Kau semakin manis saja kalau manyun begitu,” katanya sambil melirikku sesaat di spion.

“Aku tidak manis!!” teriakku sambil membuang pandanganku kembali ke jendela.

Pemuda itu… hah! Kenapa dia suka sekali menggodaku? Ah bukan hanya aku, tapi terlihat dia suka menggoda semua orang, tapi aku salut dengan sifat sopannya. Bagaikan seorang tuan putri aku dibukakan pintu olehnya, matanya yang sayu dan teduh selalu menatapku dan menuntunku.

Aku berlari menjauhi Sebastian, mencari kamarku dan langsung membanting pintu kamarku, kubuka jendela dan menghempaskan tubuhku ke kasur. Angin sepoi-sepoi sore itu, lokasi kamarku memang sangat pas.

Nyaris saja aku terlelap namun aku merasa ada yang mengusik telapak kakiku, aku terbangun dan mataku terbelelak melihat Sebastian dengan bulu ayam di dekat kakiku. Dia tersenyum tanpa dosa.

“Apa yang kau lakukan heh?” bentakku padanya.

“Makan dulu, Ciel. Nanti tubuhmu tidak mau besar,” katanya dengan senyum menjengkelkan itu.

“Aku sudah besar!” teriakku sambil menyembunyikan wajahku di atas bantal karena aku tidur telungkup.

Dia menepuk bokongku, aku tersentak kaget. Wajahku sangat memerah, “Ka-kau?!!!”

Dia tidak menjawab melainkan menyodori sendok ke wajahku, “Makanlah dulu?”

Aku menggeleng kuat, menepis sendok dan piring yang di pegang sehingga berhamburan kemudian memakinya sekuat tenaga. Dia tetap tak bergeming. Hanya senyumannya yang kulihat.

Aku kembali mendengar keributan orang tuaku di luar. Kutatap jam dinding sejenak, buat apa mereka ribut jam segini? Dadaku kembali sesak, rasanya psikisku benar-benar rusak dengan semua beban ini.

Lengan kokoh itu menarik pinggangku, membiarkan kepalaku mendarat hangat di dadanya. Ah… Sebastian, dia memelukku? Dadaku berdegup kencang, kenapa bisa begini? Apa karena ini untuk kali pertama aku merasa nyaman berdekatan dengan seseorang?

“Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang, tapi esok hari kau harus bangkit,” ucapnya lembut.

Aku tertegun, kucengkram kemeja putihnya dan menangis sekencang mungkin di dadanya. Bisa kurasakan dia mengecup kepalaku berkali-kali, perasaanku bercampur aduk antara malu dan sedih.

-0-0-0-0-

Dua bulan sudah aku hidup bersama Sebastian, hidup terasa lebih berarti semenjak ada dia. Dia sosok yang sangatlah lengkap untukku, dia bisa menjadi kakak, sahabat bahkan dia sama manisnya seperti… seorang kekasih, namun tidak ada pernyataan sedikit pun dari kami berdua. Apa dia hanya menganggapku sebagai adik? Atau parahnya sebagai majikannya sehingga dia melayaniku sedemikian rupa?

Entahlah, yang pasti dia bisa menutupi luka menganga di hatiku dengan cintanya. Aku memasang wajah ketus seperti biasa, Sebastian berbaring di sampingku. Kami berbaring di atap rumah, menikmati indahnya ribuan bintang malam ini karena cuaca begitu cerah.

“Hei ada bintang jatuh!” teriak Sebastian girang sambil menunjuk-nunjuk langit, “Cepat make a wish!” sambungnya.

Aku memejamkan mata, memohon agar tidak ada satu pun hal yang bisa memisahkanku dengan Sebastian.

“Apa permohonanmu?” tanyanya antusias.

“Tidak penting…” jawabku dingin.

“Ahaha… apa jangan-jangan kau memohon dapat ciuman dariku malam ini?” tanyanya asal.

Oh Sebastian, andai kau memberikannya malam Ini aku pun tidak bisa menolak, “Jangan berfikir yang tidak-tidak ya! Mana mungkin!” teriakku kasar. Sebastian tertawa lepas.

“Padahal itu harapanku tadi…” katanya setelah tawanya reda.

Aku menoleh ke arahnya dengan cepat, aku terkejut. Tenggorokanku tercekat, wajahku sangat memerah. Apa? Sebastian berharap menciumku malam ini? Yang benar saja. Dadaku, susah sekali menstabilkan detak jantungku.

Dia pun menoleh ke arahku, dengan segera kubuang pandangan. Dia mengusap rambutku dengan lembut.  Dia memegang bahuku, mengarahkan tubuhku agar berhadapan dengannya, kami bertatapan sangat lama.

“Selain orang tuaku, Tuan Muda Ciel lah yang selalu ingin aku jaga,” katanya dengan senyuman lembutnya. Bibirku bergetar, apa itu artinya aku sangat berarti untuknya? Tapi berarti dalam arti apa? Ayolah Sebastian, katakan sekarang! Jangan menggantungku terlalu lama. Dia menarik daguku dan…

CUP…

Ciuman lembut itu mendarat hangat di bibirku, aku membatu. Tubuhku langsung panas dingin, getaran di hatiku semakin dasyat, berteriak girang. Aku semakin hanyut saat tangan hangatnya mendorong tengkukku untuk memperdalam ciuman dan meraba-raba pipiku. Aku hanya diam menerima lumatannya, dia… mencuri ciuman pertamaku, tapi aku tidak menyesal karena aku sangat mencintainya.

HPnya berbunyi sehingga dia melepaskan ciuman kami, terlihat dia sedikit shock setelah mengangkat telepon, “Itu bukan urusanku, aku tidak mau terlibat lagi!!” bentak Sebastian lewat telepon, ini kali pertama buatku melihatnya marah. Siapa memang orang yang membuatnya marah?

Kemudian dia langsung mematikan teleponnya, dia menatap lurus dengan pandangan yang gusar, “Ada apa?” aku angkat suara.

Dia berbalik menghadapku dan dengan mudahnya memasang senyuman malaikat itu ke arahku lagi, “Bukan apa-apa Ciel,” katanya lembut sambil mengelus rambutku.

Waktu terus berjalan, kemesraan pun selalu Sebastian berikan setiap harinya, itu sangat manis. Dia pun selalu menjagaku dan setia di sisiku meski pun ya kalian tau sendiri sifatku, pemberontak, egois, kasar dan  keras kepala. Tapi dia tetap berdiri kokoh di sampingku.

Kemurkaanku semakin parah tiap kali terserang penyakit, aku masih ingat berpuluh-puluh perawat berhasil aku tendang dari rumahku. Tapi lain halnya dengan Sebastian, meski pun aku mengumpatnya, menepisnya ketika dia berusaha memberikanku makanan atau obat, dia tetap tersenyum dan mengadalkan jurusnya untuk membuatku patuh, yaitu sebuah ciuman. Ya, aku memang selalu luluh oleh kemesraannya.

Tidak hanya sabar dalam menghadapiku, dia pun cerdas. Terbukti dia bisa membantuku belajar dan mengerti semua pelajaranku, pantas saja ayah sangat mengandalkannya. Meski pun lelah karena bekerja dari pagi hingga jam 3 sore dia tetap setia menemaniku. Ya, aku memang merengek-rengek pada ayah agar jangan memberi Sebastian lembur agar dia bisa menjemputku ke sekolah dan menemani sisa waktuku di rumah.

Hal yang paling aku sukai adalah ketika akan tidur, ya karena akhir-akhir ini kami selalu tidur bersama. Namun Sebastian belum pernah ‘menyentuhku’, hal yang paling intim yang dia lakukan terakhir adalah mengecup leherku sehingga meninggalkan bercak merah, tapi dia tidak pernah menuruti nafsunya untuk melakukan lebih, semua dia atur perlahan mungkin karena tidak ingin membuatku takut.

Posisiku selalu terjepit olehnya jika tidur bersama, tangan kokoh itu melingkar di pinggangku, lututnya berada di atas pahaku. Dia menjadikanku guling, mungkin guling tertampan yang pernah dia miliki. Aku mendongak, menatap wajah teduhnya yang masih terlihat tampan meski pun tertidur lelap. Aku mencoba memiringkan tubuh agar berhadapan dengannya, kami tidur di bantal yang sama sangatlah rapat. Saking rapatnya aku dapat merasakan tiap lekuk tubuhnya yang padat itu, aku heran tubuh ini terlalu sexy untuk seseorang yang berkerja di kantor. Apa dulu dia pernah menjadi kuli bangunan? Hah entahlah, yang pasti aku sangat menikmati berapat ria dengannya, kepalaku bersembunyi di lehernya yang bisa kukecup sepanjang malam. Hingga akhirnya kehangatan itu menghanyutkanku ke alam mimpi.

Pagi pun selalu mengejutkan, apalagi ketika aku yang terbangun lebih dulu. You khow what, senjata kami akan selalu mengacung tinggi di pagi hari meski pun tak ada rangsangan dan wajahku sangatlah memerah menemukan tubuh kami masih menempel dan… penisku menempel dengan penisnya meski pun kami sama-sama terbungkus kain. Dapat kurasakan benda itu, ingin aku menjamahnya tapi gengsiku menahan hasrat itu. Tapi satu hal yang tidak bisa kutahan, ‘milikku’. Ditambah lagi aroma khas dan wajah Sebastian membuatku semakin tidak bisa menahan diri, hingga aku memutuskan memanjakan ‘adik’ku itu dengan tanganku sambil menatap wajah Sebastian, menganggap dialah yang menyentuhku, semoga dia tidak sadar dengan aktivitas memalukanku ini.

Semua terasa indah apalagi sekarang orang tuaku kembali rukun, sampai pada akhirnya hari itu datang,  hari dimana aku mengumpat sekuat tenaga di depan pagar sekolah karena tidak menemukan batang hidung Sebastian saat itu. Aku mengiriminya pesan bahkan meneleponnya berkali-kali namun tidak ada respon, ah Sebastian kau kemana hah?

Aku menatap tajam ketika  mobil yang kutunggu datang juga setelah menunggu sekian lama, “Kau kemana saja hah? Apa kau tidak tau aku sudah menunggu selama 3 jam!!!” bentakku.

“Maafkan aku Ciel, tadi ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa kutinggalkan. Kebetulan signal sedang buruk sehingga aku tidak bisa menghubungimu.”

“Jangan banyak alasan! Apa kau tidak lihat betapa lelahnya aku menunggumu seperti orang bodoh hingga langit kuning begini?”

“Maafkan aku Ciel, sekarang aku sudah datang. Berikan pelukan hangat cepat?” katanya riang.

Aku sok jual mahal, berjalan menjauhinya berharap dia mengejarku dan memohon-mohon hingga aku tidak kesal lagi. Benar saja Sebastian mengejarku namun aku mempercepat langkah atau tepatnya berlari hingga ada sebuah mobil yang menghampiriku dan orang-orang di sana menangkapku dengan sigap. Aku meronta-ronta, terlihat Sebastian berlari sekuat tenaga mengejar mobil yang menculikku namun sia-sia.

Aku tidak menyerah, berusaha sekuat tenaga mengalahkan 3 pria besar yang mengekangku ini hingga akhirnya aku menyerah menemukan sebilah belati tajam mengarah ke leherku. Ya tuhan, kenapa aku mendapatkan posisi menjepit ini.

“Kau tidak bisa menolak tawaranku, malaikat kesayanganmu sudah ada di dalam genggamanku,” kata pria sangar di depanku sambil menelepon sedangkan tangannya yang memegang pisau mengusap-usap pipiku dengan ujung pisau pelan.

Aku yakin, lawan bicaranya adalah Sebastian dan aku pun ingat akan sesuatu… waktu di atas atap, Sebastian marah besar pasti karena bajingan ini. Aku dapat mendengar Sebastian mengumpat di seberang sana. Setelah berbincang atau tepatnya berteriak-teriak orang itu pun mematikan teleponnya.

Dia menatapku dengan senyuman sinis, “Kau tau… orang yang kau anggap sebagai malaikat itu sebenarnya seorang iblis…” desisnya. Mataku terbelalak.

“Apa maksudmu?!!!” teriakku murka.

Dia tertawa keras, “Dia seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Gara-gara dia yang dulunya partnerku itu meninggalkanku maka aku dipenjara sedangkan dia… hahaha bahagia sekali rupanya hidupnya.”

Sebastian… pembunuh… tubuhku langsung bergetar, apa yang penjahat ini katakan tidak sama dengan apa yang aku simak selama ini. Aku menggeleng keras, itu masa lalu Sebastian! Semua orang juga punya masa lalu kelam, Sebastian yang aku kenal sekarang adalah sosok guardian angel, bukanlah pembunuh berdarah dingin di masa lalunya!

Penjahat itu terus menghasutku namun aku hanya diam, “Dia akan terjebak hahaha… begitu dia datang menjemputmu, aku akan menghabisinya setelah itu kau pun akan menyusul..”

Mataku kembali membesar, aku menatap tak percaya. Tuhan, lindungi kami.

Sesampainya di sarang iblis itu, aku disiksa, dimaki dan ada juga gay yang berusaha menyentuhku namun dilarang si raja iblis, “Jangan sentuh dia! Dia milikku,” begitulah bunyinya.

Dia mengusir semua anak buahnya, mendekati aku yang sudah terpasung di atas kursi. Belati tadi kembali mengelus pipi mulusku. Saat dia berusaha menciumku aku langsung meludahi wajahnya. Hampir saja dia menikam wajahku dengan pisau itu namun ada sebuah tangan yang menahannya dari belakang.

“Menyentuhnya sama saja cari mati,” ucap sebuah suara yang aku sangat kenal. Sebastian.

“Lari bodoh! Kau dijebak!” teriakku. Sebastian menatap tajam, mata itu jarang sekali dia tunjukkan.

Penjahat itu tertawa karena dengan mulus Sebastian masuk dalam jebakannya gara-gara aku. Aku berusaha melepaskan tali-tali ini berhubung perhatian mereka tertuju pada Sebastian. Ya mereka, karena anak buah yang tadi keluar sudah masuk kembali dan mengelilingi Sebastian. Tuhan, bagaimana ini. Habislah kami.

Mereka yang jumlahnya belasan mulai menyerang Sebastian namun hanya bermodalkan kaki panjangnya Sebastian menyapu habis mereka hingga terjengkal. Mereka bangkit, melayangkan tinju yang dapat ditahannya dan menyerang balik. Namun apalah daya, Sebastian kalah jumlah, beberapa kali pukulan keras mendarat di rahangnya, perutnya atau pun punggungnya. Aku meringis ngeri. Sedangkan ketua penjahat menjilat-jilat pisau sambil menyimak anak buahnya.

Yeah, ikatanku terlepas. Dengan keberanian yang tersisa aku mengangkat bangku dudukku tadi kemudian mengibaskan pada mereka semua yang mengeroyok Sebastian. Dia kembali bangkit dan menyerang mereka satu persatu. Begitupun aku, kulayangkan tinjuan dan tendangan sekuat tenaga yang membuat darah berhamburan dari mulut mereka.. aku pun tak luput dari hantaman, beberapa kali aku terjengkal mendapati tendangan kuat namun kembali bangkit dengan luapan emosi aku memberantas mereka semua bersama Sebastian. Baru saja bernafas lega namun kembali dikejutkan, “AAAARRGHH!!!” ketua penjahat tadi berlari ke arahku dengan pisaunya yang mengacung tinggi, gerakannya terlalu cepat hingga aku tak sempat menghindar…

CRAAT!!

Darah berhamburan kelantai, aku membuka mataku yang sempat terpejam, “Se-Sebastian!” teriakku perih. Aku melihat Sebastian memelukku dan di bahunya menancap sebilah belati. Aku mencabutnya dengan cepat hingga dia menggerang. Dia berbalik, matanya menatap tajam, sebelumnya dia merampas belati di tanganku. Dia menerjang penjahat itu, menghajarnya dengan tenaga yang tersisa dan dengan mata kepalaku sendiri… aku melihat sisi psikopat Sebastian yang merajam penjahat itu puluhan kali, lututku bergetar.

DORR! DOOR! DOR!

Tiga tembakan mengarah ke Sebastian, aku menganga lebar. Sebastian tersungkur di lantai. Aku melirik orang yang menembak tadi kemudian melempar kursi yang tepat menimpa kepalanya. Aku mendatangi Sebastian.

“Sebastian! Apa kau tidak apa-apa?” tanyaku. Bodoh sekali memang pertanyaanku berusan, bagaimana bisa dia baik-baik saja ketika belati mengoyak tubuhnya dan 3 peluru bersarang ditubuhnya. Sebastian bangkit, menatapku dengan senyuman lembut seperti biasa.

“A-akuh.. emmh.. baik-baik saja… bibirmu terluka Ciel,” katanya sambil menyeka bibirku. Bukannya bersih namun wajahku semakin kotor karena darah yang memenuhi tangannya.

“Aku tidak apa-apa! Ayo cepat pergi dari sini!” aku berusaha kuat, menahan isak tangisku. Jika aku panik tak akan membantu sama sekali. Aku merangkulnya, dia berjalan pincang karena dua peluru bersarang di kakinya namun aku semakin kagum karena dia tetap tersenyum. Aku, dengan tenaga yang tersisa berusaha berjalan mengitari jalan sepi yang sangat jarang dilewati pengendara. Cuaca sangat dingin hingga nafasku berasap, tuhan jika malam ini salju turun maka kami tak akan bisa bertahan.

“Cu-cukup Ciel… aku… aku sudah sangat menderita,” lirihnya. Ya tentu dia sangat menderita berjalan selama 2 jam tak menemukan titik terang.

“Bertahanlah… aku yakin pasti kita menemukan bantuan!” teriakku berusaha meyakinkan. Dia melirik sungai yang ada di pinggir jalan itu.

“Kumohon… bantu aku mempermudah proses ini. Aku sangat kesakitan,” suaranya sangat pilu. Aku tidak bisa lagi menampung air mataku.

Sebastian, kau bagaikan lampu pijar, redup namun pasti memberikan cahaya baru dalam kehidupan kelamku. Senyum ini terasa lebih berarti dengan dengan kehadiranmu yang memberikan nafas dalam semangatku. Dulu, tubuh ini sangatlah rapuh... beban hidup bagikan larva yang menggila menyapu dan membakar setiap jengkal kebahagianku namun kehadiranmu bagaikan hujan yang sejuk dan mendinginkan hatiku. Rasa nyaman yang kau ciptakan membuat taman hati ini lebih indah, dihiasi bunga segar dan kupu-kupu cantik berterbangan... bertahanlah untukku, karena kau nafas untuk semangatku, jangan biarkan tubuh rapuh ini kembali terjengkal dalam kegelapan masa lalu...

Namun dia tersungkur di tanah, aku berusaha membangunkannya namun sudah tidak ada lagi usaha untuknya bertahan, “A-aku… akhh… aku mencintaimu Ciel…” ucapnya dengan suara serak. Aku memeluk kepalanya dan mengangguk.

“Aku juga mencintaimu Sebastian..” ucapku sambil terisak.

Darah di tubuhnya terus mengalir, dia bisa kehabisan darah. Bau anyir menyeruak, membuatku ingin muntah dan dadaku sakit karena Sebastian lah yang harus merasakan nyeri yang luar biasa ini. Dia menatapku sayu, mulutnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak mampu. Dingin sangatlah menusuk tulang, benar-benar akan turun salju. Aku memeluk Sebastian, menggosok tangannya.

Kutatap jalan dibelakang, darah… ya terlalu banyak darah yang Sebastian seret sepanjang jalan. Dia tidak akan bisa bertahan kalau  tak ada bantuan! Arrghh!

Aku tidak mau menyerah, berat memang tubuh Sebastian tapi aku menyeretnya. Dia menggerang, aku tidak sanggup melihatnya kesakitan sehingga kembali berlutut di sampingnya. Kuciumi wajahnya berharap cinta bisa menguatkannya.

“Bantu aku menyelesaikan rasa sakit ini, demi cintamu. Kau tak mau kan aku menderita?”

Aku menggeleng kuat, “Bertahanlah!” dia pun menggeleng. Matanya sayu seperti biasa, namun kali pertama aku melihat mata ini mengeluarkan air, tanda keperihannya sudah sangat dalam. Haruskah aku membunuhnya demi cintaku padanya, aku tidak sanggup... aku tidak mungkin sanggup bila menemukan kenyataan di pagi hari Sebastian sudah tak ada di sampingku lagi, tak ada yang mengobrol denganku dirumah dan senyumannya… aku sangat tergila-gila dengan senyuman itu. Bahuku bergetar hebat karena tangisku semakin kuat.

“Kematian bukan hal buruk, kematian membawa kita pada tuhan… jangan ragu Ciel, aku sudah siap.”

Dia menunjuk sungai, aku mengerti. Aku tidak boleh egois kali ini, aku memang menginginkan Sebastian tapi aku pun tak sanggup jika dia harus kesakitan lebih lama. Aku berfikir logis, sudah separah ini keadaannya tak mungkin pihak medis bisa menyelamatkan ditambah sekarang tak ada bantuan lalu kuseret dia ke sana lalu kurebahkan di pinggir sungai. Kupegangi kepalanya, “Apa kau yakin Sebastian?” lirihku. Dia tersenyum dan mengangguk. Aku menekan tubuhnya ke dalam air. Aku menggerang, tangisku pecah dan tubuhku lemas melihat buih di air sudah tak ada, Sebastian telah pergi.

END

Review please??? Review kalian adalah semangat buatku

Ketika Pelabuhan Menjadi Saksi


Ketika Pelabuhan Menjadi Saksi

By: Yanz

*Daniel POV*

Kutatap beragam perahu lalu-lalang di sungai malam itu, warna-warni lampu di sana begitu indah tapi tak seindah isi hatiku yang porak poranda. Aku terduduk di pinggir pelabuhan di tengah malam, kegiatan rutin yang kulakukan untuk melampiaskan rasa sakit yang harus kurasakan.

“Risky…” lirihku sambil menatap sebuah foto yang ada di tangan mungilku. Entah apa yang ada dalam pikirannya, kenapa begitu mudah dia meninggalkanku? Setelah beribu janji dan kata cinta yang dia ungkapkan sekarang hanya menyisakan luka menganga di dadaku. Harusnya aku tau, percintaan di dunia terlarang ini hanya mempermainkanku, dia dan yang lain hanya menginginkan tubuhku, setelah bosan akan membuangku tanpa beban.

Berkali-kali kuseka linangan air mata yang mengalir di pipiku, sebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa aku malu harus terpuruk karena cinta dan menangisi apa yang tak perlu kutangisi, tapi aku tidak bisa menyangkal kalau aku sangat rapuh sekarang.

“Umm.. Boleh gabung?” tanyamu. Aku terkejut, reflek kuseka air mataku dan kubuang foto Risky yang tadi kugenggam. Oh Tuhan, itu satu-satunya kenanganku bersama BF pertamaku itu.

Aku mendongak menatapmu yang setengah membungkuk kemudian mengangguk lemah, “Kenapa berwajah masam begitu? Kau seperti seorang istri yang baru saja kehilangan sang suami  haha..” ejekmu, aku tersentak mendengar perkataanmu dan menonjok bahumu pelan. Kesedihan seorang bot tepatnya, segitu feminimnya kah aku sehingga kau mengejekku begitu?

“Ehmm… sorry kalau membuatmu tersinggung. Aku Rangga…” ucapmu seraya menyodorkan tangan, aku menatapmu datar.

“Daniel…” jawabku singkat dan menyambut uluran tanganmu.

“Rumahku di sana, tidak jauh dari pelabuhan ini. Aku tak sengaja menatapmu yang duduk sendirian tengah malam di tempat sepi ini, apa ada masalah?” ucapmu panjang lebar.

Aku mendengus, “Aku hanya ingin menenangkan batinku,” ucapku dengan senyuman yang dipaksakan.

Kau membuka jaketmu kemudian menyelimutiku dari belakang, aku menatapmu dingin, berusaha menolak pemberianmu itu, “Pakailah… tengah malam, di pinggir sungai itu sangatlah dingin,” ucapmu dengan penuh tekanan, aku menurut. “Lagi patah hati ya? Hah… dunia memang sempit, kita bisa menemukan orang yang sedang patah hati di mana pun, begitu pun aku. Aku tau apa yang kau rasakan,” ucapmu sok tau. Aku tersenyum pahit.

“Kau sakit hati kenapa?” aku mencoba ingin tau, mungkin mengetahui penderitaan orang lain bisa membuatku sadar bahwa aku tak sendiri.

“Kekasihku baru saja meninggal…” lirihmu dengan senyuman getir. Aku membulatkan mata, rupanya kau punya beban yang lebih menyakitkan dari pada aku yang hanya dicampakan.

“Meninggal kenapa?” tanyaku antusias.

“Kurasa kita tak perlu membahasnya, kau sendiri kenapa?” tanyamu yang kemudian berbaring di sampingku, apa kau bisa melihat indahnya bintang malam ini?

Aku pun ikut berbaring di sampingmu, “Aku dicampakan..”

Kau tertawa mengejek, “Yang mencampakanmu adalah orang terbodoh di dunia. Dia tak melihat betapa imutnya kau, tak bosan dipandang…”

Aku memandangmu, “Hahaha… begitulah kenyataannya..” aku tertawa tak kalah mengejek, mengejek diriku sendiri tepatnya.

“Aku mau mengobati lukamu, kau juga obati lukaku. Kita sama-sama mengobati,” desismu sambil menggenggam tanganku. Aku langsung bangkit dari pembaringanku, menatapmu kecut dan tertawa sinis.

“Begitu mudahnya kau mengatakannya. Aku masih rapuh dan belum siap merasakan sakit di waktu yang cukup singkat.”

Berani sekali kau menembakku? Apa kau mempunyai gay radar yang bisa langsung mendeteksi bahwa aku mempunyai orientasi sexual yang menyimpang? Tanganku dingin detik itu juga, dadaku mendesir entah takut atau gugup.


“Tidak ada salahnya kan mencoba? Sakit ini perlu disembuhkan secepat mungkin.”

“Sembuh untuk kembali sakit? Haha..”

Kau menatapku dengan tatapan yang… entahlah, itu terlihat tulus bagiku, “Aku merasakan kemistri yang cocok padamu saat pertama melihatmu tadi.”

“Haha… karena fisikku? Kau ingin menciumku, mencumbuku dan meniduriku kan? Enyahlah…” ucapku sinis.

“Aku mengerti kau perlu waktu, aku akan menunggu sampai kau siap. Aku pun perlu waktu agar lebih mengenalmu,” lirihmu. Kita diselimuti keheningan beberapa saat sampai akhirnya kau bilang, “Tunggu sebentar,” kau bangkit, berjalan ke belakangku tepatnya ke dalam rumahmu. Aku mengangkat satu alisku.

Kulihat kau segera kembali dengan beberapa kertas dan lilin-lilin, kau kembali duduk di sampingku. Aku menatapmu heran, “Tulislah apa yang ingin kau ungkapkan dalam kertas ini,” katamu menyodorkan kertas dan pulpen kepadaku, kau pun menulis sesuatu kemudian melipat kertas itu dengan sangat tekun dan jadilah sebuah kapal kertas. Kau letakkan lilin kecil itu di atas kapal kertas, menyalakannya kemudian menghanyutkannya ke air, “Ini cara mengungkapkan perasaan ataupun doa yang paling indah bagiku,” ucapmu dengan senyuman.

Kapal itu hanyut menjauh, terlihat makin indah aku pun tertarik melakukan hal yang sama. Kutulis isi hatiku, melipatnya, menyalakan lilin kemudian menghanyutkannya. Aku tersenyum kagum, “Kita bikin yang banyak!” ucapku semangat. Kau tertawa dan mengangguk tak kalah semangat. Semalaman suntuk, kita melipat kertas dan menghanyutkannya ke sungai bersama cahaya indah lilin sepanjang malam.


-0-0-0-

Kau tak gentar meski pun berkali-kali aku menolakmu, aku tidak mencintaimu. Bagaimana bisa aku mencintai seseorang lagi sedangkan aku baru saja sakit, aku perlu waktu. Apa kau mengerti? Tapi kau tak menyerah, kau sangat yakin bahwa aku akan jatuh cinta padamu. Aku tertawa mengejek.

Setiap hari kau bersamaku, mendampingku dan sangatlah kebetulan ternyata kita kuliah di kampus yang sama meski pun kau seniorku.  Tatapan hangat itu perlahan namun pasti melelehkan tajamnya es yang mengoyak-ngoyak hatiku, apalagi ketika kau mengusap kepalaku, mengecup kening dan pipiku aku merasa damai. Kau bilang kau tidak bisa tidur karena memikirkanku, kau sangat mencintaiku tanpa ada keraguan sekarang setelah sebulan, dua bulan, tiga bulan bahkan sekarang sudah setahun perkenalan kita. Maaf jika aku belum bisa menjawab perasaanmu, aku tau aku mulai merasa nyaman bersamamu tapi aku masih berhati-hati… berikan aku sedikit keyakinan.

“Ambilkan gayungnya tolong?” pintamu, ya aku memang mengambilnya sesuai permintaanmu namun aku malah menyirammu dengan air. Kau melotot denganku, bukannya takut aku malah terpingkal melihat matamu yang nyaris keluar. Kita sedang mencuci motormu di atas pelabuhan samping rumahmu itu, aku sangat suka mengerjaimu, membuatmu marah walau aku tau kau tidak benar-benar marah. Kau angkat ember penuh sabun motor yang ada di dekat kakimu kemudian kau siramkan padaku, aku memandangmu sinis saat kau tertawa melihatku yang berlumuran busa sekarang.

BRUSSHH!!

Aku mendorongmu ke sungai dan tertawa terpingkal-pingkal, namun tawaku langsung sirna saat tak menemukan kau mengapung, “Rangga? Rangga! Bagaimana ini, aku tidak tau jika kau tidak bisa berenang Rangga!” teriakku panik. Pandanganku liar, dimana kau? Aku pun memutuskan ikut terjun ke sungai, aku menyelam walau pandanganku kabur. Air kotor ini sama sekali tidak membantu.

Aku tersengal-sengal, aku… akhh… ini tidak mungkin, dadaku terasa nyeri, aku.. aku tidak siap! Aku langsung berusaha naik ingin mencari bantuan namun…

“AAAAA!!!!!!!” aku berteriak terkejut karena merasakan ada yang menarik pinggangku hingga aku kembali terjatuh ke air.

“Ahahaha… kau sangat panik ya tadi? Kau khawatir kan?” ejekmu sambil menarik pinggangku dan memelukku dalam air. Wajahku sangat memerah antara marah dan malu.

“Sialan kau ya! Kau membuatku khawatir saja!!!” teriakku emosi sampai tak terasa mataku basah.

“Cup.. cup cup… yang penting kan aku sudah selamat..” katamu sambil memelukku makin erat. Aku mendorongmu, aku kesal kau mempermainkanku.

“Hei, kenapa kamu yang marah? Aku pasti mati tadi andai aku tidak pandai berenang,” katamu datar. Aku terhenyak, aku merasa sangat bersalah.

“Maaf…”

“Maaf saja tidak cukup,” katamu dengan senyuman khasmu.

Aku mengernyitkan kening, “Aku harus menebusnya dengan apa?” tanyaku ketus.

Kau tersenyum penuh kemenangan, “Kau harus menjadi pacarku,” katamu. Wajahku sangat memerah kali ini, kau mendekat, menatapku lekat. Aku tidak berani menatap matamu namun aku mengangguk pelan, “YES AKHIRNYA!!!” teriakmu senang. Aku pun memeluk dada bidangmu, aku mulai mencintaimu Rangga.

Semenjak aku menerimamu kau memintaku tinggal bersamamu mati-matian walau aku menolak, “Ayolah biar aku lebih leluasa menjagamu,” katamu lirih. Benarkah? Menurutku biar kau lebih leluasa menyentuhku bukan? Tapi aku faham, sudah sepantasnya aku sebagai kekasih mengerti apa maumu, aku pun memutuskan tinggal bersamamu, lumayan untuk menghemat biaya kostku.

Kehidupan baru ini sungguh indah, aku tidak lagi sendiri. Setiap malam ada orang yang aku peluk, yang mengajakku mengobrol, bermanja ria dan aku sangat senang saat kau… ehmm, wajahku terasa memerah sekarang jika membahasnya. Saat tubuh kokohmu menaikiku, memberikan kecupan sana-sini, memberikan sentuhan terlembut dan nikmat yang pernah aku rasakan, meski pun terasa sangat menyakitkan ketika kau ‘memasukiku’ namun memandangmu membuatku lebih damai, tidurku sangat lelap setelahnya. Pagi hari nan indah ketika menemukan kau memelukku dari belakang, saat bibir lembabmu menyentuh tengkukku, saat tanganmu melingkar di pinggangku dan saat kejantananmu menempel di bagian belakang tubuhku… aku merasa sangat hangat dan nyaman, kugenggam tangan kokohmu yang melingkar di pinggangku, aku akan sangat mengingat tangan ini.

“Apa kita akan memiliki baby setelah kejadian semalam?” bisikmu di dekat telingaku.

Aku tersentak, “Aakh! Kau gila!” teriakku dengan wajah yang memerah.

Kau memasukkan tangan ke dalam bajuku dan mengelus perutku, “Aku anggap kita akan memiliki baby Niel…” bisikmu jahil sambil menjilat tengkukku, aku menggeliat. Kau paling pandai membuatku terambung ke surga, Rangga.

Dapur pun tak kalah menyenangkan bersamamu, aku masih ingat ketika kita merayakan anniversary kita di tahun pertama, kita membuat kue dengan brutalnya. Yang benar saja, kau mengadon kue di atas kepalaku? Atau lebih tepatnya kau menghambur-hamburkan tepung ke atas kepalaku aku pun tak mau kalah kulemparkan telur kepadamu, kita benar-benar kotor sekarang. Kau menerjangku hingga aku terbaring di atas lantai sedangkan kau menindih tubuhku, kau acak-acak rambutku yang penuh tepung hingga debunya bertebaran. Aku memanyunkan bibir, kau mencolek hidungku, aku menyukainya… itu terlihat manis, aku pun balas mencolek hidungmu, kau tertawa. Kau dekatkan wajah, deru nafasmu bisa kurasakan hingga akhirnya bibir kita bertemu, kau mencium kemudian melepaskan dan begitu seterusnya… caramu itu membuatku gila, kau mempermainkanku hah? Aku tidak tahan sehingga menahan tengkukmu dan menciummu lebih lama.. I love the way you kiss me, Rangga.

Setahun…
Dua tahun…
Dan semakin lama hubungan ini berjalan..

Kau pun sudah sarjana dan memiliki pekerjaan tetap, kau sudah mapan, Rangga aku bangga padamu. Hanya saja… aku merasa ada yang hilang, kebersamaan kita yang hilang… kau semakin sibuk dengan pekerjaanmu hingga selalu pulang larut malam bahkan pagi hari. Aku meringkuk di atas kasur, tubuhku lemas tak berdaya bagaikan tak dapat asupan makanan, ya aku kekurangan asupan… asupan manjaanmu Rangga. Berkali-kali aku membalik tubuh dan melihat jam dinding, malam ini bahkan lebih gelisah dari pada malam sebelumnya, apa akan terjadi hal buruk?

Dengan semangat aku berlari keluar saat mendengarkan bell pintu, tapi sedikit heran buat apa kau memencet bell? Bukankah kau memiliki kunci serep? Dengan rasa penasaran kubuka pintu. Kulihat kau dirangkul seorang pria sebaya denganmu, aroma alkohol menyeruak di tubuhmu, kau mabuk sekarang. Aku memandang sinis pada kalian, siapa pria yang membawamu Rangga?

Dia dengan bantuanku membawamu ke kasur dan merapikan tubuhmu, aku diam dan menatap dingin terhadap pria yang membawamu.

“Perkenalkan, aku Tama… teman sekantor Rangga, kau pasti Daniel adiknya Rangga yang sering dia ceritakan,” ucapnya dengan menyodorkan tangan.

“Hn… sebaiknya kau pulang,” ucapku datar. Dia tersenyum palsu, berbenah diri kemudian pulang.

Semua mulai berubah, ketakutanku mulai menyeruak… aku takut, apa kau bisa melihat ketakutanku Rangga? Kau mulai jarang mengobrol denganku, semua pertanyaanku hanya dijawab singkat, tidak seperti dulu. Semua pesanku ke HPmu kau abaikan ketika di kantor, katamu kita tak perlu sms segala karena kita satu rumah, tapi aku merindukanmu Rangga. Berulang kali kutatap pintu setelah pulang kuliah, kutatap HPku, tak ada jejak darimu.

Dan ketakutanku semakin terbukti saat kau membawa orang yang bernama Tama itu kembali ke rumah, di ruang TV kalian bercengkrama begitu akrab, begitu terbuka… aku iri, kau sama sekali tidak terbuka denganku, kau tak pernah menceritakanku tentang aktivitasmu? Tentang perasaanmu?

Aku hanya bersembunyi di balik pintu kamar, berusaha tak mengintip namun tetap kuintip, dadaku sakit… kenapa kalian seakrab itu?

Berulang kali aku bertanya dan aku memintamu agar jangan terlalu dekat dengan orang lain tapi kau mengabaikanku, “Jangan campuri urusam pribadiku!” hanya itu yang terlontar dari mulutmu, tapi kenapa? Apa aku sudah tidak berarti buatmu? Aku ini bagian dari hidupmu, wajar jika aku mau tau.

Dan hari kemurkaanku datang, ketika tanpa sengaja kulihat kau bermanja-manja bahkan berciuman dengannya. Dadaku sakit, tenggorokanku tercekat, Tuhan… butakan aku sekarang juga agar aku tidak bisa melihat hal nista ini. Aku terisak di balik pintu kamar, bersendar, memeluk lutut dan menangis di sana.

Aku mencoba meminta pengertianmu kalau aku sakit dengan semua ini, tapi seolah kau tak perduli, yang kau fikirkan hanya perasaanmu tanpa memikirkan perasaanku. Kau bilang ini hanya hal kecil, kalian hanya sahabat, tapi ini di luar batas! Apa kau tak sadar hah?

Aku lelah, hatiku paling lelah… tapi aku sangat membutuhkanmu, Rangga. Aku berusaha bangkit, pemikiran jahat keluar… semua harus diperjuangkan, begitu pun kau Rangga.

Aku mendatangi Tama, kulemparkan uang ke wajahnya, “Enyahlah…” ucapku dingin.

Dia mengelak, berusaha menjelaskan bahwa kau dan dia tak ada hubungan special tapi aku cukup sakit dengan apa yang aku lihat. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanku, “Pergi atau kau akan meregang nyawa detik ini juga,” kataku sinis dengan menodongkan pisau ke lehernya. Akhirnya dia menyerah, aku pulang dengan hati yang sedikit lega.

“Kau apakan Tama?” tanyamu dingin sambil menatapku sinis.

“A-aku… aku rindu kamu yang dulu, kamu yang dulu kemana?”

“Aku tanya kamu kemanakan Tama!” kali ini kau membentakku.

“Aku memintanya agar tau diri dan jangan mengusik hubungan kita…”

“Minta maaf gak?” katamu sinis.

“JANGAN HARAP!!” teriakku kesal.

Kau mencengkram tanganku dengan kuat, “Minta maaf!”

“Harusnya kamu sadar kenapa aku begini… kau sudah kelewatan!”

“Kau tau, dia sahabat baik aku! Dia yang bisa bikin aku nyaman saat aku jenuh..”

“Kenapa kamu gak bilang kalau aku membosankan, kau mau aku berubah seperti apa? Aku bisa jadi apa yang kamu mau! Apa gak cukup dengan aku? Aku kurang apa silakan bilang…”

Kau menatapku datar, “Terserah… aku tidak perduli…”

Dadaku bagai tersengat listrik detik itu juga, tubuhku lemah… aku berlutut di lantai dan menatap dengan tatapan kosong, ini kah akhir dari segalanya?

Lagi…

Aku berusaha meyakinkanmu kalau aku begini karena aku mencintaimu, tapi kau semakin menggila.. sepertinya kau lupa dengan rasa cintamu terhadapku dulu, kau lupa bahwa kau yang mengemis cintaku dulu… ini memang sudut pandangku, dan bagiku aku yang tersakiti… kenapa demi seseorang yang kau beri julukan sahabat kau menyia-nyiakanku begini? Kau tidak lagi pernah merespon ucapanku, bahkan kau tidak sudi menatapku, harusnya aku yang marah!

Aku dengan harga diriku yang jatuh memintamu kembali ke masa lalu, dimana kau sangat hangat, dimana kau berjanji menjagaku, tapi sekarang kau benar-benar lenyap… segitu muaknya kah kau denganku hingga kau meninggalkanku di rumah ini sendiri, dadaku nyeri, bernafas pun aku susah.

Dengan langkah gontai aku kembali ke pelabuhan dimana kita pertama kali bertemu, aku duduk di tempat aku duduk dan sakit hati beberapa tahun lalu. Aku tengok sebelah kanan, dulu kau di sini, tersenyum manis dan menyelimutiku dengan jaketmu. Bahkan kau berikan rasa sakit yang melebihi Risky karena kita sudah lama bersama, aku sudah terbiasa dengan sosokmu .

Aku menyeka air mataku, aku seorang Daniel mungkin semua kisah cintaku akan selalu berakhir begini, aku sudah biasa… aku hanya perlu waktu untuk bangkit. Aku mencoba menyibukkan diri dengan belajar karena sebentar lagi aku mendekati skripsi, namun kenyataan pahit kembali aku teguk.

“Menjijikkan…” itu yang diucapkan teman-teman kampusku setelah melihat foto-foto mesraku bersamamu tersebar luas, aku tersentak.. sebenci ini kah kau denganku, Rangga? Sehingga kau tega… bukan hanya menyakiti perasaanku tapi juga merusak kehidupanku. Aku harus merelakan diri dengan cacian, kucilan, dan tatapan sinis yang harus aku terima. Aku masih bisa tabah dengan semua ini, aku yakin diantara ratusan orang yang memandang jijik padaku masih ada yang menerimaku apa adanya dan yakin bahwa manusia tak ada yang sempurna, termasuk aku. Aku pun tak luput dari sebuah kebusukan, aku yakin jika mereka memang teman sejati mereka tak akan membiarkanku terpuruk sendiri. Benar saja, aku masih diterima.

Namun… satu hal yang aku lupakan, KELUARGAKU. Begitu ingat aku pun langsung berlari mencari motorku, detik itu juga aku pulang ke rumah yang ada di kecamatan lain. Air mataku berlinang di balik helmku, aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi sekarang, aku tidak menyangka jika orang yang dulu mencintaiku bisa setega ini, dia benar-benar tidak memikirkanku lagi… dia ingin aku hancur luar dalam.

Tatapanku kosong sesampainya di pintu, menatap seorang ibu yang meratapi kebiadapan anaknya, dia terisak penuh sesal… apakah ibu menyesal melahirkanku? Maafkan aku ibu, tidak seharusnya aku begini.

BRUUK!!

Sebuah hantaman keras dari ayahku membuatku luluh lantak, aku hanya mampu menunduk, aku tidak bisa melawan, “Kau bukan anak kami lagi, pergi sana!” bentaknya dan menendangku sekuat tenaga dan menutup pintu rapat.

Kupakai kembali helmku, bahkan air mataku kering sekarang… aku sudah puas dengan air mata yang membuatku lemah, tak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara sekarang… aku tau mereka hanya akan bilang, “Sabar ya…” jika aku menceritakan pahitnya hidupku, tapi aku tidak butuh itu.. cukup hatiku yang bicara dan memintaku sabar. Nafasku terasa sesak sekali, dadaku sakit… Tuhan.. bukankah engkau tak akan mencoba hambamu di luar kemampuannya? Apa engkau pikir aku kuat Tuhan sehingga kau berikan aku kehidupan sesakit ini? Aku tidak sanggup, Tuhan jemput aku… aku tau bunuh diri itu bukan hal yang baik,  sehingga aku tak akan melakukan itu, namun ambil aku Tuhan, aku sudah tidak sanggup…

Mataku kembali basah karena air mata siap tumpah, penglihatanku kabur sehigga aku tidak melihat lampu merah. Aku menerobosnya dan…

BRUUUUKKK!!!

Semua hanya sekejab, aku merasa truk itu menghantam tubuhku.. aku terlempar jauh dan terhempas, aku bahkan tidak lagi bisa merasakan sekujur tubuhku, air mataku jatuh… Tuhan, aku tau kau tidak tidur… kau dengarkan doa terakhirku, akhirnya aku bisa mengakhiri segala rasa sakitku…

TAMAT

NP: Maaf, sama sekali gak ada niatan buat merusak reputasi dunia gay, aku hanya meluapkan kegalau-anku. Kata bang Adi Nugroho, manfaatkan kegalauanmu dengan menulis cerita… ya aku berharap bisa menularkan kegalauanku terhadap para pembaca XP, aku ngetiknya jam 3 pagi loh wuahaha disaat aku terserang galau tiada tara yg membuatku susah terlelap aku hanya bisa mengetik cerita ini. salam manis Yanz…

Akan Indah pada Waktunya


Akan Indah pada Waktunya

By: Yanz


*Yanz POV*

PUUK!!!

“Aaakh… cukup! Kesabaranku sudah habis, dari tadi aku sudah sabar kau main drum di saat aku belajar dan sekarang kau melempar stik drummu ke kepalaku, kau cari mati hah?” teriakku sekuat tenaga padamu.

“Balikin sini stik gue!!!!!” katamu ketus. Aku menatap sangar, kugigit rahangku dengan keras hingga rahangku menegas dan tubuhku bergetar karena emosi tertahan sudah mau meledak. Kupatahkan stik itu dengan penuh emosi dan melemparkan ke wajahmu sekuat tenaga.

“Makan tuh! Puas lo!” teriakku geram dan mendeath glare-mu.

Kau menggerang dan menerjangku kekasur, kita bergulat, aku hanya menangkis seranganmu dan menahan diriku agar tidak melawan tindakanmu… ingin rasanya kubunuh kau detik itu juga andai kau bukan kakak kembarku Daniel! Kita tercipta sebagai kembar identik, sama-sama memiliki tubuh langsing tinggi, kulit putih, wajah oriental nan cute,  namun kepribadian yang jauh berbeda, aku heran kenapa begitu..

Selama ini aku berusaha menyayangimu layaknya sodara kembarku hanya saja kau tidak pernah menunjukkan rasa sayangmu padaku. Ingin rasanya aku berfoto bersamamu terus mengoploadnya ke jejaring social dan memamerkanmu, “Hei guys, aku punya kembaran… mirip sekali kan?”  atau pun berjalan ke mall bersamamu menghabiskan waktu tapi sayang sekali kau tidak pernah sudi melakukannya foto terakhir kita hanya di saat TK dulu. Bahkan kau tidak mau ada yang tau bahwa kita kembar, kau memilih sekolah yang berbeda dariku semenjak SD, sekolah yang sekiranya jauh dari jangkauanku kau rela menempuh perjalanan jauh demi berpisah denganku, setiap kali temanku datang kau pasti bersembunyi kau tak mau menampakan dirimu karena kau tak mau ada yang tau kita kembar, bagaimana dengan temanmu? Sayangnya kau tak memiliki satu teman dekat pun, haha kesian.

Aku tau persis kebencianmu kepadaku tercipta saat bangku TK dan sekarang sudah kuliah pun kau masih kekeuh pada pendirianmu, yaitu membenciku. Saat TK dulu, aku sudah menunjukkan kesupelanku, aku selalu berusaha ramah, menebar senyum dan tak memilih teman sehingga siapapun ingin dekat denganku. Sedangkan kau? Kau selalu merengut, nada bicara tinggi, ketus dan bicara hanya sedikit itu pun isinya selalu makian. Kau kesal, kita kembar identik tapi kenapa hanya aku yang dikerubuti teman-teman di TK? Sedangkan kau hanya bermain di ayunan sendirian menatapku yang berlari-lari dengan puluhan teman di taman, kau menatapku dengan mata sedihmu.

Bagimu aku tak lebih dari seseorang yang hanya cari muka dan cari perhatian, kau sangat marah dengan apapun yang aku miliki hingga kau mendorongku di toilet sekolah. Saat itu banyak saksi yang melihat tindakan kekerasanmu yang membuat orang-orang kasiahan denganku dan semakin memojokkanmu, mengacalah wahai Daniel kau layak mendapatkannya bukan?

Semenjak SMA kita sudah memiliki style masing-masing agar kita tak identik lagi. Kau lebih suka dandanan emo yang sangat gothic, mengecat rambutmu dengan warna hitam kebiruan, make up pucat dengan mata dihiasi eyeliner yang lebih menonjolkan sisi gelapmu. Sedangkan aku lebih ceria, aku suka Jepang maupun Korea sehingga aku mengecat rambutku dengan warna pirang keemasan dengan model harajuku sehingga seperti ulzzang, namun aku masih memberikan kesan cool+cute, teman-temanku bilang aku ini androgini, lihatlah tatapanku sangat cool bukan. Aku suka menghabiskan waktuku dengan club costum player (cosplayer) dan club cover dance, sehingga menambah banyak teman yang sehati denganku. Sedangkan kau suka dengan music keras seperti screamo dan sebagainya, bermain bass, drum ataupun berteriak-teriak di kamar sepanjang hari.

Aku selalu mengeluh pada mama bahwa aku terganggu dengan hobimu yang memainkan alat musik berisik itu dalam kamar, ingin aku punya kamar pribadi namun mama melarang keras. “Yanz. Kalian sudah sangat jarang bertemu, paling tidak kamar lah yang menjadi penyatu kalian,” itu saja yang diucapkan mama. Membuatku menghela nafas pasrah.

Seperti halnya di awal kami sedang bergulat di atas kasur, ini bukan sekedar main-main antara sodara namun kau benar-benar bernafsu membunuhku. Kau melayangkan tinju kesana kemari yang selalu berhasil aku tahan, aku pun berhasil menindihmu. Kududuki perutmu dan menahan tanganmu di atas kepala, persis sama disaat aku meniduri para bottomku. Well… aku seorang bisex dan aku seorang top, aku suka memadu kasih dengan cowok-cowok bishie atau cute boy yang biasanya anak-anak SMP atau pun yang seumuran denganku, yang masih memiliki sisi polos.

Kau menggerang dan berusaha memberontak namun kau tidak mampu melawan otot-otot tanganku yang kokoh hasil fitnes ini, ide jahil malah terbesit dalam fikiranku. Tanpa perduli kau sodaraku, aku mendekatkan wajah ke lehermu dan…

Take me by the tongue
And I’ll know you
Kiss me till you’re drunk
And I’ll show you all

The move like jagger
I’ve got the moves like jagger
I’ve got the moves like jagger


Sayang sekali HPku berbunyi, aku mengurungkan niat untuk ‘memakanmu’ wahai Niel. Aku keluar dengan membawa HPku dan mengangkatnya.

“Ada apa, Dimas?” tanyaku kepada temanku Dimas yang sedang menelepon.

“Aku lagi ada masalah… aku mau curhat, boleh ya aku ke rumahmu? Dimana alamatmu? Aku sangat butuh kamu sekarang!” ucapnya panik dari sebrang sana.

Aku pun memberikan alamatku pada Dimas. Ah ya, ini adalah Dimas sahabat baikku atau tepatnya seniorku di kampus. Kami saling kenal saat moska dulu, dia adalah salah satu panitia yang sangat baik padaku hingga akhirnya dia meminta nopeku, kami jadi sering smsan, teleponan atau pun jalan bareng.

Walau pun umur persahabatan kami baru setengah tahun tapi kami sudah sangat terbuka, dia mengaku kalau dia seorang gay dan memiliki BF yang bernama Andika, dia selalu curhat tentang BFnya padaku. Aku pun menceritakan bahwa aku seorang bisex tapi aku lebih serius sama cewek, sama cowok aku cuma main-main. Ya walau kami sama-sama pecinta lelaki namun aku dan Dimas tidak memiliki hubungan special, aku dan dia hanya bersahabat. Aku top dan dia pun top mana cocok, seperti yang aku bilang aku sukanya brondong imut. Kuakui dia tampan, rahangnya tegas, tubuhnya atletis namun gak segede ade ray juga lah, maximal kaya model L-man lah, aku pernah mandi bareng dia di sauna sehabis fitness, mantab perutnya kotak-kotak! Kapan aku punya seperti itu? Apapun yang ada pada Dimas sangat menegaskan dia manly dan tampan namun dia bukan typeku sehingga aku bisa menahan hasratku.

Dia sudah duduk di hadapanku di ruang tamu sekarang, dengan wajah murung dia bercerita bahwa hubungannya dengan sang BF sudah diujung tanduk. Aku hanya berusaha bilang sabar, namanya cinta terlarang ini jangan dibawa serius kalau ujung-ujungnya bakal married sama cewek, bakal nyakitin hati doang wahai kawanku.

Dia menunduk, menatap kakiku yang terekspose karena aku cuma pakai boxer pendek dan kaos oblong.

“Kakimu bagus ya kaya para personil SNSD,” desisnya. Aku tergelak tawa mendengarnya.

“Hahaha… SNSD mana ada yang buluan kaya aku!” teriakku sambil terpingkal.

“Bulu apa hayoo?” godanya.

“Bulu apa aja boleh, kamu mau liat?” tanyaku gak kalah menggoda.

“Hahaha… makanya dicukur dulu bulunya biar kaya SNSD!” pintanya.

“Ogah! Hilang nanti kelelakianku!” ujarku sambil menjulurkan lidah. Kebetulan saat itu kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah sehingga aku dan Dimas bisa membahas apapun meski pun sangat intim. Terlihat di sela-sela dinding muncul kepalamu walau sedikit. Aku memicingkan mata dan berpikir apa yang kamu lakukan di sana? Tumben-tumben kamu menghintip.

Dimas akhirnya memutuskan pulang setelah dia merasa lega menumpahkan isi hatinya padaku, aku pun tersenyum puas bisa menenangkan hati sahabatku satu itu. Aku masuk kamar berniat mengambil laptop dan memainkannya di ruang keluarga. Saat aku masuk kamar aku melihatmu yang menatapku sedikit canggung dan ragu-ragu, aku berusaha cuek dan mengambil laptopku.

“He-hei!” panggilmu terbata.

Aku yang sudah di depan pintu pun menoleh, “Apaan?”

“Yang tadi itu siapa?” tanyamu dengan tatapan antusias.

Aku tersenyum menggoda, “Temenku di kampus, kenapa? Kau tertarik?”

Wajahmu sedikit memerah, “Kau bicara apa sih! Mana mungkin tertarik…”

“Kau gay ya?” tanyaku tanpa beban, awalnya aku cuma asal ngomong tapi melihat ekspresi gugupmu mataku langsung membulat, hah apa benar tebakanku bahwa kau gay? Yaampun, kenapa kita punya penyakit yang sama Niel? Ah maaf, kasar sekali bahasaku, gay bukan penyakit kok jangan khawatir aku tak akan memandangmu rendah jika memang perasaan itu tak bisa kau tolak. “Nyantai aja sama aku Niel…” bujukku.

“Gue gak tau kenapa… rasanya hati gue kesetrum lihat temen lo tadi… Yanz, dapetin dia demi gue dong! Please…”

Aku terperangah mendengarnya, “Yaudah, nanti aku kenalin kamu sama Dimas, dia anaknya baik banget loh, dewasa ya pokoknya the best lah…  aku gak keberatan kalau kamu sama dia,”

“Gak! Pokoknya gak boleh ada yang tau kita ini kembar, apalagi dia. Lo, dapetin hati dia buat gue.. nanti setelah berhasil baru gue yang jalanin…”

“Enak di kamu, Niel. Ogah… lagian dia sahabat aku, aku canggung kalau pdkt segala walau dia juga gay…”

“Ayolah… masa lo tega sama kembaran lo ini?” katamu memelas. Aku sedikit menimbang, mungkin hubungan kita bisa membaik jika aku berhasil membahagiakanmu, Niel.

Tak lama kemudian aku mendapatkan HPku berbunyi, ternyata Dimas. Aku mendengar suara seraknya di sana, sepertinya dia menangis? Dia bercerita bahwa hubungannya dengan BFnya berakhir. Net not, kebetulan sekali, lowongan untukmu sudah terbuka lebar, Niel.

Aku berusaha menabahkan Dimas, memberikan banyak kata-kata bijak sebagai motivasi. Keperihan hatinya membuatku yakin bahwa Dimas adalah pria yang tulus dan selalu serius dalam menjalani hubungan, tanpa basa basi aku langsung menembaknya di telepon.

“Gak usah sedih Dim, masih ada aku di sini… aku siap jadi pengganti Andika. Kamu kenal siapa aku kan? Selama ini kita nyaman-nyaman aja kan? Jangan berlarut-larut dalam kesedihan…”

Terdengar Dimas berdehem dan membersihkan hidungnya yang ingusan haha malang sekali kau kawan, “Aku gak yakin, Yanz… gak mungkin secepat ini.”

Aku pun berusaha manja dan mulai memanggilnya ‘kakak’, “Kak, apa kakak gak minat sama Yanz?” tanyaku sok manja, padahal aku ingin terpingkal detik itu juga. Dapat kulihat Niel yang duduk di depanku mendengar obrolan kami dengan seksama.

“Jujur, aku suka kamu Yanz.. tapi… akhh… aku gak bisa jelasin… bisakah malam ini kau datang ke tempat kostku?” aku mengangkat alis, tersenyum kemudian mengiyakan apa maunya.

Aku menatapmu sejenak. Walau kembar identik tapi kita sangat berbeda, demi kebahagiaanmu aku mengiyakan scenario yang kamu rangkai walaupun sangat merepotkan. Aku pun mengajakmu ke salon, mengubah gaya dan warna rambutmu. Mengajariku mengobrol ala aku, aku yang santai, murah senyum, ramah dan sopan walau pun kamu sangat kesulitan menghilangkan kebiasaan ‘gue-elo’ milikmu.

Sesuai rencana, kamu datang ke kost Dimas.. tangan dinginmu menggegam tanganku dengan erat, dapat terlihat kamu sangat gugup malam itu. Aku pun meninggalkanmu setelah mengantarmu di depan kost Dimas.

-0-0-0-

KRRIIIING!!

Jam wakerku berbunyi menandakan sudah jam 7 pagi, aku menoleh ke kasur di sampingku. Hah, kamu belum pulang??? Apa kamu asik indehoyan dengan Dimas tadi malam? Haha… aku tidak sabar mendengarkan ceritamu.

Kulihat kau muncul dari balik pintu, senyummu lebar dan terlihat bahagia, aku pun girang melihatnya.

“Bagaimana?!!” tanyaku antusias.

“Kami jadian! Kayaknya…” katamu ragu.

“Kok kayaknya?”

“Dia bilang ‘kita jalani aja dulu’ saat gue tanya dia anggat gue apa dia cuma bilang ‘secret’ huh…”

“Itu sudah ada kemajuan kali, ayo cerita ngapain aja tadi malam?” tanyaku antusias, sumpah saat melihat kau bahagia aku pun ikut berjingkrak, aku yang malam tadi putus dari cewekku pun akhirnya bisa melupakan kesedihanku sejenak.

Kau pun mulai bercerita, katamu dia anak yang sangat asik, dewasa, bikin nyaman dan hobi dia suka sekali menatap kakimu saat mengobrol… kebiasaan Dimas tuh, saat bersamaku pun begitu. Pasti dia memuji kaki kita yang sama ini seperti GB Korea haha. Kalian mengobrol hingga jam 1 malam, saat kamu minta antar pulang dia malah menahanmu dan memelukmu sangat hangat, wajahmu memerah saat itu karena bisa merasakan lekuk indah tubuh sexynya. Kamu pun memutuskan menginap, kalian tidur di ranjang yang sama, saling tatap dan berpegangan tangan. Dimas menciumi wajahmu sebelum tidur dan memelukmu sepanjang malam, kau terlihat sangat gugup dan polos. Pagi harinya saat kau izin pulang kau menemukan Dimas hanya dengan handuk kecil di pinggangnya karena dia baru mandi, kau dapat melihat dada bidangnya dan tubuh sexynya  saat itu. Wajahmu memerah. Dengan gugup kamu minta izin dan Dimas memberikanmu ciuman yang sangat hot pagi itu. Aku berjingkrak, demi apapun malam yang sangat so sweet buatmu Niel, setelah 20 tahun hidup dalam perang dingin akhirnya kita pun bisa curhat seakrab ini, ini lah yang aku idam-idamkan di dalam hubungan yang namanya bersodara.

“Tapi gue kesel dia kayanya ragu sama gue,”

“Maklum lah, kan dia habis putus paling kamu dijadikan pelarian..” kataku santai. Kau terperangah, matamu membesar dengan tatapan kosong.

“Gue… pelarian?” lirihmu dengan air mata yang berlinang di tatapan kosongmu. Astaga! Aku salah omong! Bodoh sekali aku, kenapa aku meluluh lantakkan harapanmu? Aku panik, berusaha menyeka air matamu tapi sifat kasarmu kembali kumat, kau menepis tanganku dengan kasar.

“Umm.. anu, ini cuma belum waktunya… tolong kamu sabar , semua perlu proses! Dimas baru saja sakit hati jadi dia…”

“GAK USAH BANYAK BACOT LO! Gue tuh cuma pelarian kan, gue tuh gak berharga! Gue cuma tong sampah buatnya.”

Aku menghela nafas, aku berusaha meyakinkanmu kalau semua tak semudah itu. Aku paham betul perasaan Dimas saat ini karena kehancuran hatinya sama denganku yang juga baru putus dari pacarku yang niatnya akan aku nikahi. Tapi kamu dengan kekeras kepalaanmu meraung-raung dan bilang akan menyerah mendapatkan Dimas karena kamu tak mau mendapatkan posisi hina yang namanya ‘pelampiasan’. Come on Niel, dengan berjalannya waktu selama kamu pandai menata sikap pasti Dimas akan bertekuk lutut padamu! Tapi kenapa harus menyerah secepat ini? Kau tidur di kasurmu, terisak dengan pedihnya. Sesakit itu kah Niel perasaanmu? Aku berusaha mendekat, memelukmu dari belakang. Kuusap dan kucium kepalamu, rasanya aku lah sang kakak sekarang? Kau itu rapuh Niel… sangat rapuh, kau kasar hanya berusaha menutupi kerapuhanmu.

Aku tak mengerti bagaimana rasa sakitmu karena jika aku di posisimu tentu aku akan bersabar dan tak akan semudah itu menyerah jika memang cinta, astaga! Aku ingat sesuatu… aku pun ternyata sama denganmu, aku tidak memperjuangkan cintaku dan sekarang aku menyerah.. barusan aku bilang jika aku kamu aku tak akan menyerah, dengan gengsi dan ego yang kubuang aku kirim pesan ke tunanganku. Kau menyadarkanku Niel, bahwa aku pun tak lebih baik darimu.

“Aku akan bujuk Dimas ya agar dia jangan menggantung perasaanmu ya?” kataku berbisik lembut.

“GAK! Cuekin Dimas Yanz! Cuekin dia! Gue gak mau tau pokoknya lo harus putus kontak sama dia biar dia kangen sama gue!” what the hell, kau sangat menyebalkan Niel. Tanpa persetujuanmu aku pun mengirim pesan ke Dimas, hah bebanku ada dua sekarang. Masalah percintaanku saja gak kelar sekarang harus mengurus percintaan kembaranku. Aku bicarakan sebijak mungkin dengan Dimas agar dia yakin aku bisa lebih baik dari mantannya bahwa mantannya yang selingkuh itu gak pantas buat dikenang, semua harus move on gak bisa jalan di tempat… aku yakin sekeras dan sengambekan apapun Niel dia punya cinta yang tulus dan cuma sosok Dimas lah yang aku percayakan menjaga Daniel.

“Barusan aku sms Dimas dia ngajak jalan tuh entar malem…” kataku padamu. Kau menonjokku dengan keras.

“LO TUH GAK BISA DIBILANGIN YA! GUE BILANG CUEKIN DIA! BATALIN GAK JANJINYA!!!!”

Aku terjengkal di bawah ranjang, “Cinta itu perlu diperjuang kan!!!!” teriakku penuh emosi.

“Harga diri gue gak mengizinkannya ngerti gak lo! Gue gak mau dia nganggep gue cowok kegatelan!!”

“Tinggal bilang aja kalau kita orang yang beda apa susahnya!”

“GAK SUDI!”

BRUUK! Untuk kali pertama aku melayangkan tinjuan ke wajahmu.

“Mau sampai kapan lo sembunyikan identitas kita? Gue capek! Lo cowok bukan sih? Apa salahnya cowok tuh agresif! Cewek agresif aja udah biasa tapi lo tuh gengsinya terlalu besar! Mimpi lo buat dapetin Dimas kalau sifat lo kaya gini! Terserah lo deh mau datang atau gak entar malem gue gak perduli,” emosiku tanpa sadar memuncak, aku dapat melihatmu yang tersungkur di kasur dengan linangan air mata.

-0-0-0-

Sial, malam ini aku janjian dengan tunangan+Dimas dalam waktu yang bersamaan, ini semua gara-gara Niel. Dari pagi dia hanya meringkuk di kamar bagaikan mayat hidup yang gak mau mandi, makan atau pun beraktivitas. Aku nyerah ngehadapin kamu ini, apapun yang aku katakana gak akan di dengar, cuma hati nuranimu yang bisa menasehatimu.

Aku memutuskan ketemuan dengan mereka di suatu tempat yang memiliki café bersebrangan, di seberangnya aku dengan tunanganku sedangkan sebrangnya aku dengan Dimas. Lihatlah, betapa lelahnya aku bolak-balik berlari secepat yang aku bisa. ini sudah yang ke empat kalinya aku berlari, terlihat semburat curiga di wajah Dimas.

Aku duduk di depan tunanganku sekarang, “Sesungguhnya aku masih mencintaimu… semua begitu berat, berat rasanya jika kita harus mengakhiri perjalanan kita sejauh ini begitu saja…” kataku lemas dan penuh penghayatan.

“Aku…” katanya.. namun aku potong.

“Tunggu sebentar! Aku mules!” teriakku sambil berlari.

“Mules terus! Ada apa sih!” aku pun berlari ke café seberang ternyata tunanganku mengikuti.

Saat aku sampai di meja Dimas aku terperangah, “Niel kau datang juga?” desisku saat menemukan si pirang keras kepala itu di bangku di hadapan Dimas. Tunanganku pun berdiri di hadapanku, mereka berdua heran melihat dua pemuda pirang dengan wujud yang sangat mirip. Kami diselimuti keheningan.

Aku berdehem, sebagai orang yang (sok) bijak, aku membuka suara. Kujelaskan detilnya bahwa kami sebenarnya kembar dan lain lain.

“Sulit dipercaya… tapi, aku sudah curiga dengan perbedaan ini…” kata Dimas.

Niel terdiam, wajahnya masih muram. “Jadi kesimpulannya gimana nih Dimas?” tanyaku.

“Kembar identik, namun aku tau persis perbedaan kalian. Yanz itu santai, asik, sosok sahabat yang aku idamkan. Sedangkan Niel, dia polos, manis… bahasa tubuhnya yang salting membuatku merasa hatiku tergelitik akan tingkahnya, dia sosok kekasih yang aku idamkan…”

“Jadi?” tanyaku antusian.

“Niel jadilah kekasihku…” ucap Dimas. Aku tersenyum lebar, kau terpaku melihat Dimas dengan wajah memerah.

“Aku juga masih mencintaimu Yanz,” kata tunanganku/calon istriku yang berdiri di samping. Kami semua tersenyum bahagia dengan berakhirnya konflik ini.

Akhirnya setelah 20 tahun hidup bersama dengan pertengkaran aku dan kamu pun sudah bisa rukun selayaknya seorang pasangan kembar Niel… semua orang berdecak kagum melihat 2 pemuda cute dan cool bagaikan youngmin dan kwangmin (boyband boyfriend) ini aku pun memutuskan mengecat rambut jadi hitam agar lebih manly kami pun berdampingan penuh kerukunan. Pada akhirnya semua perseteruan ini akan indah pada waktunya, badai telah berlalu.

TAMAT

NP: Komentar kalian adalah nafas dan semangatku dalam berkarya, komentarlah!

Salam manis Yanz.

FB: http://m.facebook.com/daniel.yanuar4

Pemberi Harapan Palsu


Pemberi Harapan Palsu

By: Yanz


*Daniel POV*

“Aaakhh… sudah Ris… stop!” teriakku.

“Sabar Niel, sedikit lagi keluar!”

“Gak! Sakit, bodoh! Hentikan… aaaarghh gue gak tahan!”

Risky menjitakku dengan keras, “Siapa suruh punya jerawat hah? Gue paling gak suka sama yang namanya J-E-R-A-W-A-T meski pun adanya di muka lo,” kata Risky ketus sambil memencet hidungku dengan penuh nafsu *?* ingin mengeluarkan cairan putihnya.

“Sialan banget sih lo Ris, wajah wajah gue napa lo yang sewot???”

“Karena lo makluk yang paling sering gue liat, Daniel bodoh.”

Risky pun akhirnya berhasil membuat hidungku berdarah dan mengelap wajahku dengan tissue, aku hanya merengut karena hidungku yang kesakitan. Tega sekali pemuda 20 tahun, kece kaya emo yang tinggal satu kost denganku yang bernama Risky ini memencet hidungku sampai pesek begini, dia fikir Daniel pemuda 19 tahun ini yang sangat tampan rupawan dan cute pisan ini rela hidungnya diperkosa heh?

Kurang kerjaan memang.. tapi ada saja rutinitas aneh yang kami lakukan bersama tiap harinya. Semenjak lulus SMA kami hidup bersama dalam sebuah tempat kost yang luar biasa besar dan banyak penghuninya. Pemuda pintar dan kaya raya yang bernama Risky itu melanjutkan kuliahnya di UNLAM, ya dia sangat beruntung bisa masuk ke universitas negri di sini, sedangkan aku sudah bodoh, miskin pula. Jadi aku memutuskan bekerja untuk menanggung kehidupanku, kasihan orang tuaku yang renta masih saja membiayai aku.

Meski pun status sosial kami berbeda namun kami bersahabat sejak SMP. Dia pemuda yang murah hati yang selalu ada buatku apalagi ketika aku membutuhkannya. Aku sangat mencintainya.

Lah loh? Bingung kenapa seorang Daniel yang tampan bagaikan Zac Efron ini bisa jatuh cinta dengan Risky yang bagaikan Chef Juna itu? Aku gay, lebih nyaman sama sosok cowok terutama sosok Risky yang membuatku aman.

Aku suka nebak-nebak sebenarnya Risky ini normal kaga sih? Kalau gak normal kenapa dia gak bilang dan kalau normal kenapa dia suka banget bikin aku geer?

Okay, mari aku ingat-ingat sedikit betapa baiknya dia padaku. Dulu zaman SMP aku itu bahan bully, nasib lah cowok tampan punya badan kecil mungil dan pembawaan lemah bikin aku terlihat seperti cewek, tapi sorry sorry saja bro, aku tidak gemulai, seenaknya saja menjudge orang dari luarnya. Nah saat 3 cowok ngebully aku di WC dulu datanglah sosok Risky bak Kamen Rider pake sempak di luar kaya superman, eh gak ding… Risky datang dengan gagahnya dan tatapan tajamnya itu membuat sapi gelundungan (sumpah ini gak nyambung banget).

“Jangan gangguin dia, dia milik gue. Ganggu dia sama saja lo cari mati,” kata Risky dingin sambil ngeluarin kaki Barbie, aku pun bingung buat apa dia bawa-bawa kaki Barbie disaat-saat yang menegangkan ini? Apa buat nyolokin hidung tuh para preman supaya hidung mereka kehilangan keperawanannya? Entahlah, yang pasti saat itu Risky telah membuat mereka takluk hanya dengan gertakannya.

Dulu juga saat perkemahan, aku dan Risky kesasar. Kami bermalam di hutan, tepatnya dalam sebuah pohon yang memiliki lubang. Malam itu hujan sangat lebat dan belum juga ada yang menemukan kami. Aku menggigil kedinginan, Risky memelukku dari belakang, menggesek-gesekkan tubuhnya agar aku hangat dan meniup hangat pundakku. Semalaman dia memelukku dan itu cukup lah membuatku geer badai…

Waktu SMA aku selalu membawa bekal karena makanan di kantin terlalu mahal tapi saat aku membawa kotak bekalku yang niatnya akan aku makan di belakang sekolah, tiba-tiba anak-anak di sekolah berlarian dan menabrakku alhasil makananku berhamburan di lantai. Dengan wajah murung aku memunguti makananku namun dia datang, tanpa izin dia menarik lenganku… oh rupanya dia paham sekali aku kelaparan dan mentraktirku di kantin. Hmm makanan disini sangatlah enak, andai aku bisa selalu merasakannya, gak heran harganya mahal (buat aku).

Dibalik semua kebaikannya yang aku ingat dia memiliki satu sifat yang membuatku muak. Dia sangat terobsesi akan popularitas, katanya sih, “Aku harus popular dengan bakat atau pun sensasiku, semua cara patut dicoba karena hidup itu adalah perjuangan… banyak lovers banyak rezeky.”

Ya begitulah, sok-sokan kaya artis, fans page dia di FB sudah dua ratus ribu dan follower di twitter dia ada dua jutaan, orang-orang mungkin nanya apa dia artis? Siapa sih Risky? Apa bakatnya? Dia gak punya bakat, dia hanya cowok ganteng yang pandai cari muka dengan fans. Orangnya memang kadang ketus dan mahal senyum namun pandai tebar pesona dengan cewek-cewek. Ini dia yang membuatku ragu akan feelingku, dia pecinta wanita mungkinkah menyukaiku?

-0-0-0-

“Eh Niel lo tau gak kalau cewek-cewek di kosan dan di kampus banyak yang fujoshi?” tanya Risky yang memecahkan lamunanku. Oh ya, kami tinggal di kosan yang campur aduk cewek dan cowok, lalai nih pendirinya, asal laku doang kosannya, banyak free sex deh jadinya.

Sedangkan fujoshi itu adalah cewek-cewek yang suka dengan gay, namun ada juga pendapat lain mengatakan fujoshi hanya suka anime jejepangan yang gay yang disebut yaoi? Yang pasti mereka para cewek yang suka melihat boy x boy yang mereka anggap fans service. Aneh memang kok ada cewek yang suka gay?? Namun species yang baru aku temukan setahun terakhir ini membuatku cukup berdecak kagum, ternyata masih ada para cewek yang mau menerima kondisi para kaum pelangi dengan bahagia.

“Oh ya? Asik dong… gue baru nemu satu tuh si Dina..” jawabku ke Risky. Kami asik dengan laptop masing-masing, Risky duduk di kursi belajar sedangkan aku tengkurap di kasur.

“Banyak tuh… cewek-cewek di kosan heboh ngomongin super junior yang ciuman, mereka gay ya?”

Aku mendengus, “Mereka gak gay kali, tradisi cowok korea tuh kalau mereka sangat akrab dengan sahabat yang dianggap kaya sodara ya mereka ciuman buat ungkapan rasa sayang. Bisa juga buat mendongkrak popularitas dengan fans service,” kataku panjang lebar.

“Nah ini dia topik yang gue incar, mendongkrak popularitas dengan fans service?” tanyanya dengan tatapan antusias. Aku menatapnya ngeri.

“Ya kan para cewek fujo bakal seneng kalau lihat pasangan yaoi…” kataku datar.

Dia tersenyum penuh arti dengan mengelus-elus dagu, “Ayo kita bikin FS dan bikin cewek-cewek pada histeris!”

“Gila lo, sama aja cari mati namanya… gue gak sudi…” ya aku sebagai real gay malu lah mengumbar kemesraan yang namanya FS.

Tanpa persetujuan Risky langsung menarik tanganku agar keluar kamar, aku berusaha memberontak namun genggamannya lebih kuat. Terlihat para cewek-cewek berkumpul depan TV, kayanya lagi ngegosib.

Mereka tersenyum merekah melihat dua cowok kece mendatangi mereka. Sengaja Risky duduk di kerumunan mereka dan menggenggam erat tanganku. Terlihat tuh cewek-cewek mulai histeris, aku cuma tersenyum risih.

Terlihat Risky main mata denganku seolah memberikan kode, dia menatap mataku bergantian dengan menatap pahanya. Apa maksudnya coba? Saking gilanya dia minta aku hisap penisnya depan cewek-cewek? Oh aku memang menyukainya namun aku tak segila itu. Aku menggeleng keras.

Dia menatap ketus dan menarik kepalaku, aku terbaring di atas pahanya.

“KYAAA~ kok so sweet banget sih kalian?” tanya Anisa, salah satu Fujo sepertinya.

“Iya dong… gue kan sayang banget sama Daniel…” kata Risky yang kemudian membungkuk dan menciumi wajahku. Aku terpaku dengan wajah memerah.

“Cerita dong? Sayang yang bagaimana? Kalian ngapain aja?” mereka melemparkan pertanyaan beruntun.

Risky mengelus wajahku dengan lembut, dia mengangkat tubuhku yang lebih kecil kemudian memangkuku sedangkan tangannya melingkar di pinggangku, “Ya gitu deh… bibir Niel adalah candu buat gue dan tubuhnya itu hmm.. yummy…”

“Hahaha iya sih, Niel itu uke banget… tapi Risky juga uke…” (Uke= bot sedangkan seme= top)

“Gak ah… Risky seme kok, dia kan lebih cool dan sangar…”

Dan banyak lagi pujian dari para fujo itu yang membuat kepala Risky semakin melayang… lelah dengan drama karangan Risky aku pun pamit masuk kamar duluan.

-0-0-0-

Aku mengetuk-ngetuk jari di atas meja, kelihatannya Risky bukan type orang yang membully kaum pelangi, apa baiknya aku mengaku? Dan menyatakan cinta dengannya? Tapi aku gak tau kata-kata apa yang harus aku ucapkan. Aku menarik nafas sejenak kemudian menatap laptopku dan mengetik boyzforum.com salah satu jejaring social khusus gay yang paling sering membuatku tersenyum. Aku masuk dalam room boyslove dan menemukan sebuah postingan yang tepat sekali buatku yaitu tentang cara menyatakan cinta dengan cowok straight. Aku baca dengan jeli dan sangat percaya diri setelah terhipnotis akan postingan itu.

KREAK…

Risky masuk ke dalam kamar, “Ahahaha puas banget gue, mereka jadi antusias sama cerita cinta kita.”

Aku mendekat dan berdiri berhadapan dengan Risky, kuraih tangannya, “Ris… gue cinta lo… dari dulu, sejak SMP gue cinta lo…”

Risky terdiam, tatapannya kosong. Bibirku bergetar, aku tidak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku untuk meyakinkannya seperti yang ada dalam tips.. ternyata teory beda halnya dengan praktek, tenggorokanku tercekat aku takut dengan responnya bagaimana jadinya, “Hahaha…” dia tertawa sinis kemudian membalikkan tubuh membelakangiku. Aku semakin khawatir dan mataku berkaca-kaca.

Setelah beberapa detik dia membalikkan tubuh, “Gue juga cinta lo, Niel…”

DEG…

Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar tapi dia meraih rahangku kemudian melumat bibirku, aku terbelalak. Tangannya menekan tengkukku kemudian memperdalam ciuman, “Eummhh… emmmhh… I love you beib… ummhh..” ucapnya disela-sela ciuman.

Aku sesak, rasanya tidak percaya dia benar-benar mencumbuku sekarang… dia menerima cintaku persis seperti mimpiku. Dia menciumiku dengan ganas, menyerang leherku dan melucuti pakaianku.


“Aaaakhh… eummhhh.. Ris… ahkhhh..” aku mendesah saat dia memainkan nippleku sedangkan mulutnya bermain di leherku.

Aku tak mau kalah, aku pun mendorongnya, menindihnya kemudian menciumi lehernya, dia menatapku aneh… penisku sudah sangat tegang akan cumbuan-cumbuan yang kurang lebih setengah jam itu, aku mau lebih, kuraba selangkangannya namun aku terkejut. Dia tidak tegang sepertiku.

“Ri-ris… lo kenapa…” kataku menggantung dan turun dari badannya.

“Kenapa tidak tegang sepertimu hm? Ayo Niel, mari kita lanjutkan haha… mumpung gue dirasuki setan…”

“Lo bukan gay ya?!!” tanyaku dengan sedikit membentak.

Dia mendekatkan wajah ingin menciumku kembali namun aku membuang muka, “Lo kenapa sih??? Bukankah badan gue yang lo pengen, dasar gay?” tanyanya sinis.

Aku tersentak, “Lo anggap gue apa Ris? Lo fikir gue maniak yang cuma ngincar badan lo hah?”

“Emang itu kan yang dicari para gay?” tanyanya sinis.

“Gak Ris! Gue gak kaya gitu! Gue sayang lo, gue cinta lo… kenapa lo tega merendahkan gay kaya gini sih Ris???”

“Apa sih yang lo harapin dari dunia gay hah? Cinta? Mimpi lo… gue gak doyan cowok, tapi karena gue sayang lo sebagai sahabat gue kasih nih badan gue!”

“Diam lo! Lo gak ngerti perasaan gue Ris… gue butuh cinta lo…” kali ini aku terisak dan menunduk.

Risky tersenyum dia mengangkat daguku dan mendekatkan wajah, “I love you…”

“Lo tuh cuma PHP ris! (pemberi harapan palsu)… lo cuma bohong sama gue, mata lo gak bilang begitu.”

“Terus kalau gue berhasil kaya lo gimana? Apa yang lo harapkan dari dunia gay kalau pada akhirnya kita married sama cewek hah??? Lo mau makin sakit hati… gue sayang lo, Niel. Gue sayang lo kaya sodara gue sendiri.. gue kecewa ternyata lo itu bisa terjerumus.. gak bisa jaga diri ya lo?”

“Gue benci lo Ris… gue benci lo… kalau lo gak sama dengan gue harusnya lo jangan baikin gue kaya gini..”

“Jangan childish, Niel. Masa lo gak bisa terima kalau gue gak bisa cinta lo, perasaan kan gak bisa dipaksa.”

“Gue marah bukan hanya karena lo nolak gue Ris, tapi karena lo hina dunia gue! Lo pikir gay cuma mikirin sex hah? Tarik kata-kata lo!” teriakku dengan penuh tekanan.

Risky menghela nafas, “Jangan semakin jauh… lo mau sama siapa? Si Tiwi? Andin atau siapa? Gue punya banyak kenalan yang cantik Niel asal lo jangan kaya gini… tapi ya kalau lo bahagia kaya gini gue nyerah deh… seperti yang gue bilang di awal, silakan pakai badan gue. Itu kan yang sangat lo harapkan?”


Aku hanya terisak sambil meremas sprei..
Aku bangkit dari dudukku di atas kasur kemudian berlari ke kamar mandi, kunyalakan shower. Aku masih menyesali hal barusan. Betapa terhinanya aku jika dia mengecap dunia gay seburuk itu. Kenapa seorang Risky bisa bermulut sebusuk itu. Aku benci dia, sungguh aku benci dia… dia sentuh aku namun dia sendiri tak menikmati, apa baginya aku hanya mainan.

Aku duduk dibawah shower, membiarkan butiran air dari atas menerpa tubuhku dan menyembunyikan tangisku. Aku menangis perih karena sangat terhina dengan semua ini.

Setelah keluar dari kamar mandi Risky langsung menghampiriku sedangkan aku hanya menatap dingin, “Maaf Niel, ya gue kenal banget sama lo.. ya gue percaya lo bukan gay yang suka main sex… Niel, gue sayang lo, jangan benci gue karena masalah ini please?”

Aku mengambil koper dan membereskan pakaianku, “Niel… Niel lo mau apa hah?”

“Gue pamit Ris, gue mau balik sama ortu gue…”

“Apa-apaan sih lo Niel, gue gak ceraikan lo… kaya lagu jaman dulu aja lo yang pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku~”

Aku tertawa disela-sela tangisku karena melihat tingkah Risky, “Sorry Ris… eumm kebetulan gue kangen sama ortu gue…”

Aku terus memasukkan pakaianku dalam koper namun Risky kembali mengeluarkannya, “Hargai keputusan gue Ris… hati gue sakit banget dan gue perlu waktu buat nenangin diri…”

Terlihat Risky menatap sayu dan memandangku penuh kasih sayang, “Maafin gue kalau bikin lo kecewa… maaf gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo…” katanya memelukku kemudian mengecup keningku. Selesai perpakaian dan memberesi barang aku melangkah keluar ditemani Risky yang membantu angkat koperku. Aku berpamitan dengan pemilik kost dan juga teman-teman kost. Mereka sangat kecewa terutama para fujo yang baru saja berharap akan dapat FS setiap hari.

Aku tersenyum getir, sebelum masuk taxi aku membalikkan tubuh. Kutatap sosok-sosok akrab yang aku kenal 2 tahun ini. Kutatap Risky, kutatap pintu, taman, gerbang.. bayang-bayang kegilaanku bersama Risky terlihat di sana. Mataku kembali berkaca-kaca, sebelum menangis aku melambaikan tangan dan masuk ke dalam taxi.


-epilog-

Lima tahun kemudian

Aku berada di pelaminan sekarang, menyalami tiap undangan yang datang. Aku memutuskan menikahi sahabatku di desa setelah usahaku sebagai pengusaha kuliner sangat melesat 3 tahun terakhir, aku mapan. Perlahan tapi pasti dunia pelangi menjauhiku karena kesibukanku, karena keluargaku, tak sempat lagi aku berfikir untuk menyelami dunia ini. Kita memang gay, tapi inilah takdir kita. Pria terlahir untuk wanita.

Bagaimana dengan Risky? Kami cukup sering kirim-mengirim email untuk melepaskan kerinduan kalau aku sempat, aku pun mengundangnya ke acara pernikahanku ini. Namun aku cemas karena sudah jam 2 dia belum juga datang.

Namun senyumku merekah saat menemukan sosok itu, Risky.. dia semakin gagah saja, tapi siapa yang ada di sampingnya? Apa itu tunangan yang benama Nia yang sering Risky ceritakan di email?

“Selamat ya bro… tega banget lo ngeduluin gue haha…”

“Lo sih berbelit-belit… kapan nih nyusul?” tanyaku ceria.

“Tahun ini juga lah, ya kan beb?” tanyanya sambil melirik gadis di sampingnya. Gadis itu hanya tersipu malu.

“Gue tunggu undangannya..”

“Sipp… langgeng ya..” kata Risky sambil memberikan kado kemudian menyalami kami secara bergantian.

-0-0-0-

Selesai resepsi aku pun ke kamar pengantin, tak sabar ingin membuka hadiah apa yang Risky berikan? Kubuka tergesa-gesa dan aku menemukan album besar. Kubuka halaman demi halaman, terlihat wajah-wajah polos anak SMP yang bahagia di sana, saat SMA juga dan saat-saat hidup bersama di kost. Aku dan Risky memang sangatlah narsis dan terlihat sangat bahagia di foto, paling tidak aku punya bukti perjalanan persahabatan kami. Aku masih mencintai Risky sangat dalam, mungkin hanya bisa kupendam dan kukenang.

“Apa itu Kak?” tanya Istriku.

“Album persahabatan terindah.”

TAMAT


Aduh maap kalo ancur *gelundungan* butuh masukan nih… tapi jangan dibully ya kaka2 member BCG hehe sok atuh dikomentari please?