Senin, 21 Mei 2012

KADANG CUPID TUH TOLOL CHAPTER 3


KADANG CUPID TUH TOLOL CHAPTER 3

Part 19

Pukul tujuh malam listrik sudah mengalir kembali. Aku sedang membereskan gelas-gelas di dapur dan meletakkannya begitu saja di wastafel. Well, kalau nyetrika saja aku benci, apalagi cuci piring. I mean, aku nggak semusuhan itu kok sama domestic stuffs. Hanya saja aku bakal mencoba menghindarinya kalau bisa.

Granny dan kawan-kawannya masih ngobrol di ruang tengah. Mereka hari ini membeli kaus bergambar SM*SH BLAST yang samaan dan dengan ributnya mencoba satu persatu setiap kaus itu. Jeng Nunuk yang paling heboh. Kaus yang dia punya katanya kurang ketat, jadi dia mencoba kaus Jeng-jeng yang lain.

Pikiranku sebetulnya masih belum beralih dari cerita terakhir yang kudapat dari Zaki di kamar tadi. Bang Dicky ngebunuh ayahnya sendiri? Masa sih? Gimana caranya? I mean, beneran atau bercanda si Zaki itu, masa sampe segitunya?

Parahnya, aku belum ketemu Zaki maupun Bang Dicky sejak Zaki dipanggil tadi. Kami nggak berpapasan sekalipun di dapur, atau barangkali mereka lewat sekali dua kali ke ruang tengah. Ketika aku sengaja mencari-cari di teras belakang pun, aku nggak melihat sedikit pun penampakannya. Kemana ya mereka?

“Granny lihat Zaki sama Bang Dicky?” tanyaku ketika Granny masuk ke dapur membawa sampah plastik bekas Mak Icih.
“Nggak, sayang. Emang kamu nggak nemu di rumah, gitu? Mungkin mereka lagi di workshop.” Granny berbalik keluar dari dapur, tapi sempat menambahkan satu informasi lagi. “Oh, Esel sama temen-temennya datang tuh. Nyari kamu katanya. Mereka ada di depan.”

Apa?! Sial.

Buru-buru aku kabur ke teras belakang dan berharap Esel nggak pergi ke sini. Huh. Bikin frustasi aja itu orang. Ngapain juga malam-malam begini dia datang? Kenapa sih dia nggak pergi karaokean kek, nyari om-om kek, bareng temen-temennya itu? Ini Saturday Nite, for God’s sake. Mestinya banci hedon macam dia bersenang-senang.

Aku bersembunyi di balik sebuah drum di halaman belakang, berharap drum biru plastik ini cukup untuk menutupi tubuhku. Sesekali kepalaku melongok, mengintip ke arah pintu belakang, jaga-jaga kalau Esel datang dan memergokiku.

Sumpah deh, satu Esel tuh sudah sangat cukup untuk menghias hidupku. Kalau dia datang bersama teman-teman the Jelitaz-nya, kamu bisa bayangin belasan Esel berkumpul dalam satu ruangan dan semuanya pada ngutarain pendapatnya masing-masing. Pernah satu kali aku duduk bareng The Jelitaz di kantin, dan itu bukan pengalaman yang ingin kuulang lagi.

“Kok gitu sih?!”

Mendadak aku mendengar suara dari kejauhan. Aku menoleh kanan kiri, mencari sumber suara.

“Dicky takut Zaki nggak bisa jaga diri.”

Itu suara Bang Dicky. Ada di mana ya dia?

“Saya bisa kok jaga diri. Emangnya saya masih anak kecil, hah?”

Mereka sedang mengobrol berdua. Tapi suaranya sayup-sayup. Ada di mana sih?

“Terus maksudnya Zaki nggak pake baju di kamarnya Agas tuh apa?”

Bang Dicky terdengar kesal. Ups. Mereka sedang ke sini! Ternyata mereka berdua sedang berjalan tergesa-gesa, datang dari arah workshop.

“Kan saya baru beres mandi, Ky. Masa kamu mikir yang macem-macem, sih?”
“Kalo yang ngelakuinnya Zaki sih, nggak aneh Dicky mikir yang macem-macem juga.”
“Ah, Sob. Nggak percayaan banget sih kamu. Udah ah, saya mau pulang. Capek!”
“Inget lho ya pesan Dicky!”

“Kapan-kapan!” Dengan kesal Zaki menendang segunduk tanah yang ada di hadapannya... dan sialnya sebagian dari tanah tersebut melayang ke arahku. Fuck.
Eits! Nggak bisa!” Dicky mengejar Zaki. “Kalo Dicky sampe lihat Zaki berduaan lagi sama Agas, nggak akan Dicky biarin untuk kali ini.”

“Terserah!” seru Zaki kesal dan berlalu mengitari rumah untuk keluar dari rumah Granny.

Ya Tuhan. Ada apa lagi ini? Kenapa mereka bertengkar?

Bang Dicky geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang. Dia lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan gundah. Kenapa sih? Apa yang mereka ributkan? Kenapa sampe namaku juga dibawa-bawa?

Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan mengejar Bang Dicky. Makin sini semua hal di rumah ini makin bikin penasaran. Ketika aku mendapat fakta baru, misalnya soal Bang Dicky—yang katanya—membunuh ayahnya (meskipun itu belum tentu benar—atau mungkin kata-kata Zaki tadi terpotong oleh suara jeritan Granny), tiba-tiba saja aku mendapat misteri baru.

Kenapa Bang Dicky nggak suka ngelihat aku berduaan dengan Zaki? Apa ada yang disembunyikan dari Zaki?

Aku sudah tiba di ruang tengah tapi nggak menemukan Bang Dicky. Yang ada hanyalah Jeng Novi yang mengajakku gabung untuk memilih antara kaus Morgan dan kaus Bisma. Aku pun mencari-cari ke dapur tapi nihil. Kamar mandi ada yang ngisi, tapi dari suaranya sih itu pasti Jeng Shinta. Dan ketika aku masuk ke kamarku...

“Nah, muncul juga nih yang ditunggu-tunggu...”

Oh... My... God...
Sial sial sial!

Kamyu kemana aja sih, Nek? Kita-kita nungguin lho dari tadi di sini.”

The Jelitaz sudah ada di kamarku!!

Keterlaluan! Pertama, itu nggak sopan! Kedua, menyalakan komputer tanpa izin adalah pelanggaran berat! Dan ketiga, koperku itu bukan tempat duduk!

“Kalian ngapain di sini?!” kataku, dengan alis mengerut kesal.
“Kita nungguin you. Nenek bilang you ada di dapur, ya udah, kita-kita tunggu di sini aja. Jadi gimana Cazzie Darling hari ini?”

The Jelitaz sebenarnya empat orang, tapi yang ada di kamarku hanya tiga. Hanya Esel, Syarifudin, dan Slamet. Well, yang namanya Syarifudin minta dipanggil Syahrini ketika kami pertama kali berkenalan, dan si Slamet itu sudah duluan mengenalkan diri dengan nama Seila Marcia. Tapi sampe sekarang pun aku nggak sudi panggil mereka dengan nama kebagusan macam begitu.

Kamyu nggak gerepe-gerepe detseu, kan?” tanya Syarifudin. Matanya mendelik-delik sombong ke arahku, dengan tangan dilipat di dada dan poni yang berkali-kali dikibaskan.

Aku nggak merespon pertanyaan itu. Pertama, aku nggak suka sama si Syarifudin ini. Kedua... aku nggak tahu, gerepe-gerepe itu artinya apa. Jadi instead of replying, aku malah berkacak pinggang dan menunjukkan wajah kesal ke arah mereka.

Detseu kenapa sih mukanya kayak babon begindang?” tanya Syarifudin ke Esel.
Esel mengangkat bahu. “Tahu tuh, udah dari sananya. Jadi Agas, cerita dooong... Cazzie ngapain aja hari ini? I pikir dia masih pingsan lho, makanya I bawa The Jelitaz ke sini. Tapi barusan ketemu Bang Dicky katanya Cazzie udah pulang dari siang. By the way, itu Bang Dicky kepalanya diperban, ya?”

Aku yang malas berkomunikasi dengan mereka, menjawab dengan pendek. “Begitu Cazzo bangun, dia langsung pulang.”

“Payah,” gumam Syarifudin.

“Eh, lihat! Bloggie gueh di GIF ada yang komen!” seru Slamet dari depan komputer. Banci yang satu ini emang dari awal udah stay depan komputerku, membuka-buka facebook dan kelihatannya sedang me-Like semua status yang ada di timeline-nya. “Kira-kira gueh bisa kenalan nggak, ya?”

Aku mengingatkan diriku, begitu semua virus ini pergi, aku bakal langsung mem-password komputerku.


“Mungkin Cazzo nggak suka lihat rakyat jelata kayak detseu,” ujar Syarifudin ke Esel, tentunya sambil mengedik ke arahku waktu menyebut “rakyat jelata” barusan.
Ember.” Esel memutar bola mata. “Udah jelas, kaleeee...”
Kamyu butuh make-over, Baby,” kata Syarifudin kemudian, kali ini ngobrol padaku. “Rambut kamyu tuh terlalu... apa, yaaa? Straight looking.”

Wuzzup with my hair, bitch?! Aku bangga dengan rambut ini! jeritku dalam hati.

Aku nggak habis pikir, kenapa aku bisa diam saja melihat mereka semua ini menindasku. Well, sebetulnya mereka nggak menindas secara langsung sih, hanya saja mereka kepedean dengan pikiran mereka sendiri. Kalau aku membantah mereka dan mengatakan yang sebenarnya, aku yakin aku bakal dianggap mencari perhatian. Benar-benar nggak ada pilihan, ya?

“Sebagai The Jelitaz, you mesti tampil mempesona,” ujar Esel sambil mengaduk-aduk wadah make-up-nya.

Aku melirik ke arah Syarifudin, menatapnya dengan pandangan: tuh-dengerin-banci!

Syarifudin menangkap maksud tatapanku. “Oh, Darling... maksud Esel tuh kamyu, bukan akyu.” Kibas poni dulu sekali, “Kalau akyu sih udah mempesona.” Kibas lagi.
Embeeeerrr...” sahut Slamet sambil terbahak.

"Aku bukan anggota The Jelitaz. Jadi kalian nggak usah repot-repot," jelasku frustasi.
"You anggota The Jelitaz, Baby. Karena kita-kita terlanjur datang ke sini, berarti you otomatis jadi anggota. It was like... nature call!"
"Lagipula kamyu kan udah ngobrol ama Cazzie," tambah Syarifudin. "Berarti kamyu udah cocok jadi The Jelitaz."

Enough!” pekikku. “Aku nggak butuh make over, okay? Dan aku bukan The Jelitaz! Aku bangga jadi diri sendiri.”
Ih, kasihan.” Syarifudin bergidik.
“Naaaahhh... ini!” Esel mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak make-up-nya. “You butuh lipgloss ini. Coba pake, biar bibir nggak kering kayak orang lagi sariawan.”

No way!” kataku.
“Aduh, plis dehh.. eloh jangan sok-sok bahasa Inggris gituh deh...” kata Slamet. “Ini khan Indonesiah...”
“Aku nggak mau pake lipgloss!” pekikku.
“Bau pesing ya di sini?” sela Syarifudin. “Kamyu ngompol, ya?”

Ya Tuhan.
Andai mereka tahu prince charming mereka lah yang ngompol di situ.

“Pantes kasurnya nggak adah!” sambung Slamet. “Gueh nggak nyangka eloh udah segedeh gituh masih ngompol jugah.”
“Bukan aku yang ngompol!” seruku. “Itu si Cazzo yang ngompol!”

Mereka semua terdiam. Menatap ke arahku dengan serius.
Lalu tertawa terbahak-bahak.

Hahaha... kamyu mesti gabung di grup lawak, deh. Ngebojegnya keterlaluan! Hahaha...”
Tinta mungkra Cazzo ngompol, darling. Udah deh, ngaku aja. Kita-kita nggak akan bilang-bilang, kok! Hahaha...”

Okay, enough! I’m sick of it!

“TER-SE-RAH!” sahutku. Kemudian berbalik dan keluar dari kamar. “Terserah kalian aja lah semuanya!”

Dengan kesal aku berjalan menuju dapur, keluar ke teras belakang, dan terus berjalan sampai ke halaman paling belakang. Mereka pikir mereka itu siapa? Sok-sok pengen make over orang lain padahal dandanan sendiri udah terlalu over! Mungkin make over yang mereka maksud tuh adalah membuat segala-galanya menjadi sangat OVER, seperti misalnya tiga lapis kalung tengkorak yang menjuntai di leher Slamet.

Aku benci The Jelitaz. Dan aku benci karena Tuhan menjodohkanku dengan mereka. Kenapa sih aku mesti ketemu The Jelitaz? I mean, mending sendirian kemana-mana deh daripada dihinggapi banci-banci itu! Aku nggak percaya masih ada orang yang segitu percaya dirinya dengan anggapan yang mereka buat sendiri.

Dan seumur hidup aku nggak bakalan sudi jadi anggota The Jelitaz!

Tanpa sadar aku sudah tiba di workshop Bang Dicky. Lampunya menyala terang—dan kupikir Bang Dicky ada di dalam—sehingga aku memutuskan untuk masuk. Untuk mencegah The Jelitaz ikut masuk, aku pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Hanya untuk jaga-jaga saja.

Workshop cukup terang dengan lampu pijar yang keemasan. Di dalamnya bau kayu dan pelitur cukup menyengat, dan ada satu frame baru diukir setengah saja di atas meja. Setelah aku mengelilingi workshop, mencari-cari ke setiap sudut, aku nggak menemukan Bang Dicky di situ. Bahkan di balik tirai-tirai yang menutupi balok-balok kayu itu. Kemana Bang Dicky, ya? I mean, kenapa workshop-nya dibiarkan menyala kalau nggak ada orang?

“Agaaasss??” Tiba-tiba kudengar suara Esel dari teras belakang. “You dimana? Kapan nih kita mulai make overnya??”

Sialan. Mereka masih antusias dengan make over sialan itu! Ya sudah, aku bersembunyi di sini saja.

“Agaaasss?? I nggak punya waktu banyak nih! Mau dugem entar maleeemmm... You dimana sih?”

Aku diam saja. Duduk di salah satu kursi dan memandangi setiap frames yang ada di situ. Hey, mana sih frame favoritku yang ada ukiran cupidnya?

Oh, itu. Di sebelah sana. Aku turun dari kursiku dan berjalan menuju Cupid. Frame ini benar-benar indah. Aku suka detailnya. Untuk ukuran “first frame”, ukirannya terlalu sempurna. Pahatan awan-awannya, si Cupidnya, warna frame-nya yang keemasan...

Traaakkk! Tak-tak-tak!!

Apa itu?
Sebuah suara mengagetkanku dari belakang. Aku berbalik dan menatap seluruh ruangan workshop, menyipitkan mata untuk mengecek segala kemungkinan, tapi nggak menemukan apa-apa. Suara apa sih? Seharian ini aku ketemu banyak suara benda berjatuhan tanpa menemukan dengan pasti siapa penyebabnya.

Tiba-tiba saja aku merinding. Bulu kudukku berdiri dan keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Apa itu si Kunti? Apa dia mau bicara padaku lewat pertanda-pertanda? Ya Tuhan... kok jadi menyeramkan begini, ya?

I mean, lihat saja suasananya. Benar-benar pas! Mirip dalam film-film horror. Hari sudah gelap... aku sendirian... di belakang rumah... di dalam sebuah workshop... workshop yang lampunya menyala padahal nggak ada satu orang pun di dalamnya... sialan... aku yakin banget pernah nonton film horror tentang tokoh utama yang digiring masuk ke sebuah ruangan kosong dengan lampu menyala... lalu pintu tiba-tiba tertutup dan muncullah...

Okay, stop it! Jangan membayangkan yang bukan-bukan! Itu hanya film! Hanya film!

Aku memutuskan untuk berpikiran positif, melepas jauh-jauh semua ingatan tentang film horror dan kembali menatapi frames yang ada di sini saja. Mungkin aku bisa mulai dengan—

“Hey, kemana cupidnya?”

Ketika aku berbalik menghadap frame Cupid itu, aku nggak menemukan pahatan cupid yang biasanya bertengger di atas bingkai di antara awan-awan. Sedikitpun nggak ada tanda-tanda bekas ada Cupid di situ. Ini masih frame yang tadi, kan? Aku mengecek labelnya. Ini masih Cupid frame favoritku! Lalu kemana pahatan cupid itu?!

Mendadak, aku berkeringat dingin lagi. Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku dari belakang. Seperti waktu aku pertama datang ke rumah Granny, saat aku yakin banget ada yang sedang mengawasiku. Siapa itu? Kenapa aku merasa ada sepasang mata yang sedang menatap tengkukku?

Aku berbalik perlahan-lahan, mati-matian berpikir positif dan nggak membayangkan si Kunti atau siapapun. Dan ketika aku berbalik, tepat seratus delapan puluh derajat dari posisiku semula... aku menemukan Cupid itu sedang melayang.

“Hai!” sapa si Cupid.
Dan dia ukurannya sebesar tubuhku.


@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


Part 20
(mungkin kalian bingung di part ini gak nyambung sama part sebelumnya karena pakai alur maju-mundur, tapi setelah kalian baca sampai akhir baru kalian paham)


Aku pikir tolol ada batasnya. Dan aku pikir, semua orang yang usianya lebih tua dariku, mestinya lebih dewasa dariku. Mestinya mereka lebih punya banyak pengalaman sehingga nggak tertipu oleh hal-hal konyol yang dibuat oleh orang yang lebih muda usianya.

“Udah ngegedein belum bos?” tanya Zaki, terkagum-kagum.
“Mana bisa diukur...” Aku memutar bola mata. “Itunya aja masih lemes begitu.”
“Oh?” Zaki terpana, menyadari bahwa kata-kataku betul juga.

Dia melihat lagi ke arah kontolnya, memutar otak, dan belum menemukan jawaban. Aku, satu setengah meter dari tubuhnya, masih kebingungan antara menghampiri Zaki (tapi takut seseorang tiba-tiba memergoki kami dan menyangka yang bukan-bukan) atau menjauhi Zaki demi jarak aman (which is impossible, karena melewatkan kesempatan memandang kontol Zaki adalah haram, sama saja membuang untung).

“Tapi kok kanjut bos belum bangun udah gede tuh,” tukas Zaki. “Apa saya anggurnya kurang?”
“Ini bukan soal anggurnya.”
“Jenis anggurnya?”
“Udah dibilangin, bukan anggurnya.”

Zaki manggut-manggut. “Berarti pijatannya?”

Berhubung bualan ini rasanya sudah terlalu jauh, dan dari pada aku pusing mengarang alasan-alasan baru, untuk yang satu ini aku mengangguk saja deh. “Bisa jadi.”

“Terus buat apa dong anggurnya?”

Oh, sialan. Sekali berbohong tentang sesuatu, bakal muncul kebohongan-kebohongan lain. “Anggurnya buat... ngng... nutrisi. Kayak bengkoang itu lho, kan bengkoang bagus buat kulit. Anggur juga fungsinya sama.”

Zaki mengernyit heran. Masih belum menerima—mungkin—bahwa buah anggur bisa membantu memperbesar alat kelamin. Well, memang non-sense, kok. Memang kibulan semata.

“Padahal saya udah pake anggur yang tumbuh di rumah Nenek, bos. Kata Nenek itu kualitas top! Dari Australia.”

Australia penghasil anggur?
Eh, maksudku, Zaki pake anggur punya Granny? Pantas saja lusa kemarin aku melihat Zaki mengendap-endap di kebun belakang, memetik beberapa buah anggur yang masih hijau, lalu bersembunyi di belakang workshop. Ya Tuhan... Dia nggak memeras anggur-anggur itu, lalu membalurnya ke kontolnya, kemudian dipijat-pijat, dan berharap kontolnya membesar, kan?

“Seperti yang aku bilang, ini bukan soal anggur.” Aku menelan ludah, melirik ke arah lain supaya nggak kentara banget merhatiin kontolnya Zaki dari tadi.

Zaki kelihatan kecewa. “Pasti pijatan saya masih salah...”
Aku benci melihat cowok ganteng terlihat kecewa begitu. Rasa ibaku muncul begitu melihat kelopak mata itu turun dan air mukanya berubah muram. “Well, namanya juga baru mulai. Butuh banyak latihan. I mean, bayi nggak langsung berjalan dalam dua tiga kali percobaan, kan? Mungkin Abang juga mesti... ngng, latihan dulu puluhan kali... atau seratus... sampe akhirnya hasilnya terlihat.”

Which is quite impossible, batinku. Setahuku, penis berhenti tumbuh di usia remaja. Si Zaki ini twenty something, kan?

“Iya, tau...” tukas Zaki. Dia terduduk di atas meja penuh serbuk kayu. Dan satu-satunya yang ada dalam otakku adalah pantat Zaki yang telanjang ditempeli serbuk-serbuk itu...

“Emang kenapa sih sampe murung begitu?” tanyaku, mencoba membantunya semangat lagi.
“Biasa bos... Si Zaenab.” Zaki terlihat sedih. “Dia ngetawain si Udin semalem. Katanya si Udin saya ini nggak lebih gede dari Udinnya satpam komplek.”

Udin? Aku pikir namanya Ucok!

Well she’s kind of a bitch if she compared you by a dick,” gumamku.
“Bos ngomong apa?”
Aku menggeleng.

Tiga puluh detik kami terdiam. Aku memandangi semua frames yang ada di dalam workshop sementara Zaki memain-mainkan kontolnya—mungkin setengah berharap ada keajaiban yang datang.

“Menurut bos...” Zaki memecah keheningan, “kontol gede itu penting nggak sih?”

Aku menoleh dan menatapnya. “Buat aku sih nggak,” jawabku. “Ada hal-hal penting lain yang lebih penting.”

Misalnya kegantengan, body yang wow, romantic senses... apalagi, ya?
Dalam hidupku, kalau misal aku ketemu cowok ganteng, body bagus, menggemaskan, dan kalau bisa romantis, tapi ternyata kontolnya mungil, I don’t care... as long as I own that guy!

“Iya lah.. orang bosnya aja udah ganteng, pinter, tititnya gede... bos pasti nggak pusing lagi kalo mau ewean ama siapapun juga.”

Absolutely, aku nggak setuju sama pernyataan itu. All guys that I want to fuck is basically having no interest at all to me, no matter I’m gorgeous, big dick, or even romantic. Kadang-kadang aku malah pengen jadi Zaenab karena dia bisa hook-up dengan Zaki kapanpun dia mau.

“Nggak juga, kok,” bantahku. “Aku juga punya masalah-masalah lain yang bikin pusing.”
Seperti misalnya deg-degan nggak keruan karena ada malaikat telanjang nan menggemaskan di hadapanku saat ini—dan sialnya aku harus berpura-pura biasa aja, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa antusias atau dia bakal curiga aku gay.

“Tapi tetep aja...” kata Zaki. “Saya pengen banget jadi kayak bos.”

“Jangan pengen jadi aku, Bang,” candaku. “Entar banyak cewek yang ngejer!”
Zaki tergelak kecil.

“Eh, bos,” seru Zaki—agak berbisik—tapi kelihatan lebih cerah dibandingkan semenit lalu, “pijitin lagi dong, Bos, si Udinnya... kali aja pijetan bos lebih mantap dari Mak Erot! Hehehe...”

“Nggak, ah! Kan kemaren udah...”

Tiga hari yang lalu, Zaki sempat menculikku ke rumahnya (sembunyi-sembunyi, of course, karena nggak mau ketahuan Bang Dicky). Aku pikir mau apa, ternyata dia minta kontolnya dipijitin. Dan meski aku menolak dengan berbagai alasan, dia tetap keukeuh minta dipijitin. Aku nggak tahu maksudnya apa. Baru kali ini aku ketemu straight yang terobsesi dengan kontol besar hingga rela alat kelaminnya dipijat orang lain demi memperbesarnya. Zaki malah bilang itu trend. Dia berkali-kali menyebut nama Mak Erot seperti barusan.

Nah, kan. Aku harus mengingatkan diriku lagi untuk meng-google nama Mak Erot.

“Biarin, Bos! Itu mah kan kemaren. Sekarang ya beda lagi. Hehe...” Zaki nyengir dan tiba-tiba saja mencolekku. “Ayo, Bos... mumpung udah siap sedia, nih.”

No way.” Aku beringsut dari tempat dudukku dan dengan gugup berjalan ke arah frames berjudul Coffin Me Tightly. (Heeey... serem amat ini bingkai! Kenapa aku baru lihat, ya?)

“Yaaah, bos... nggak solider nih...”
“Kok nyambung ke solider sih?” Aku memutar bola mata.

Hanya di Indonesia mungkin, nggak membantu memijat alat kelamin teman dianggap nggak solider. I really wonder about this thing.

“Ayo lah Bos.” Zaki turun dari meja, membiarkan serbuk-serbuk di pantat telanjangnya berjatuhan ke bawah, dan kontolnya berayun riang sambil menghampiriku. “Mumpung si Udin lagi riang gembira nih.”

Aku mengernyit. “Kalo riang gembira, nggak akan layu kayak begitu.” Aku pun membelakanginya dan nggak berani menatap kulit tubuhnya dari dekat.

Sial. Sekarang napasnya menggelitiki tengkukku.

“Bisa kok dibangunin juga,” ujar Zaki.
“Ya udah. Bangunin aja sendiri. Udah gitu pijet sendiri. Beres kan?”

“Haahhhh... si Bos...” Zaki mendesah kecewa. Ketika aku menoleh dan menatap wajahnya, dia sedang manyun, ngambek.

“Kenapa sih, mesti sama aku?”
“Karena cuma ampuh kalo sama Bos!” katanya yakin. “Saya pernah minta si Nanang, sodara saya, buat mijitin titit saya. Yang ada malah si Nanang jijik dan nggak mau ketemu saya lagi. Cuma bos yang kayaknya bisa bantuin saya. Kan bos baik hati!”

Aku benci kalo Zaki sudah mengangkat kedua alisnya dan merayu macam begitu.
Dia terlalu menggemaskan untuk dilewatkan.

“Justru karena aku baik hati, aku nggak mau ngebiarin Bang Zaki terus bergantung sama—“

Tiba-tiba saja tangan Zaki menyambar tanganku, dan tanganku langsung diletakkannya di kontol lemas yang menggantung itu. Aku sempat tersentak kaget. Tapi begitu aku meremas kontol kenyal yang mungil itu... aku nggak bisa berkutik lagi...

“Nah, gitu bos...” kata Zaki.
Dia langsung menarikku mendekati meja terdekat, duduk di atas meja, dan aku dibiarkannya berdiri dengan tolol di hadapannya, dengan satu tangan sedang meremas kontolnya.

“Ngapain sih ini?” Aku memicingkan mata.
“Pijit bos...” sahut Zaki.

Butuh sekitar sepuluh detik untuk menimang-nimang sampai akhirnya aku meremas kontol itu tapi berusaha untuk kelihatan nggak peduli. “Well, abang ini aneh, ya. Mau-maunya kanjutnya dipegang-pegang orang lain.”

“Ah, biasa aja,” timpal Zaki. “Udah sering, kok.” Dan dia nyengir.
“Ih, nggak tau malu, yah.”
“Nggak bos. Yang penting enak! Hehe...”
“Emang dipegang sama aku enak?”
“Enak bos!”

Aku terpana.

“Gimana kalo aku mau berbuat jahat, hayo?” Lalu aku memutar otak. “Misal aku potong kanjutnya gitu...”
“Yakin bos mau ‘berbuat jahat’?”
Dan lagi-lagi dia nyengir! Sambil menatap tepat ke mataku. Astaga, kenapa di saat-saat seperti ini dia mesti menggodaku, sih?

Kontol Zaki sudah mengeras. Of course, kontol itu nggak muncul meski aku menggenggamnya dari pangkalnya. Aku merasakan geli di buku-buku jariku saat tanganku meremas kepala kontolnya yang keras dan saat pangkal kuku-kukuku bersentuhan dengan jembutnya. Hal-hal macam begini suka bikin perasaan nggak keruan.

Aku memijat-mijat pangkal kontolnya yang dipenuhi jembut menggunakan tekanan jempol dan jepitan telunjukku. Cowok ganteng sialan itu malah berbaring di atas meja, meletakkan tangannya di bawah kepala, dan memejamkan mata. Apa-apaan coba?

Aku meremas kontolnya dengan kuat. Kesal. Tapi dia malah mendesah.
“Abang ngapain, sih?”
“Eh?” Kepalanya mendongak. “Nggak ngapa-ngapain bos. Emang kenapa?” Sambil menunjukkan wajah polos.

“Jangan macem-macem ah, Bang! Entar aku gigit lho kanjutnya!”

Zaki malah berseri-seri. “Ide bagus tuh!” Dan dia malah berbaring lagi, siap menikmati gigitanku. Tapi karena aku malah diam melongo, menatap nggak percaya sama cowok ganteng sialan yang mesum ini, kepala Zaki mendongak lagi. “Lho? Bos? Kok diem? Katanya mau ngigit?”

Benar-benar, deh.
Untung dia ganteng rupawan! Kalo jelek sih aku cabut kontolnya dari selangkangannya!
Sambil kesal, aku malah mengulum kontol itu. Aku tahu kok, maksud si Zaki tuh sebenernya pengen dikulum. Bahkan mungkin dari awal dia di sini, memergokiku ada di workshop, lalu tiba-tiba mengunci pintu workshop, telanjang, dan curhat soal pijatan anggurnya, sebetulnya dia pengen aku mengulum kontolnya.

At least begitulah kesimpulan yang kudapat tiga hari yang lalu waktu dia meminta hal yang sama. (Yang akhirnya kuberi juga, karena nggak mungkin aku menolaknya. Kalau aku menolak mengulum kontol Zaki, aku ini seolah-olah pindah agama.)

Hmmmhh...
Sebetulnya sih, ada untungnya ngulum kontol sekecil ini. Semua bagian kontol masuk, sampai hidungku menyesak jembutnya, dan aku dapat menghirup aroma kontol yang khas. Dari dekat aku bahkan dapat melihat bahwa jembut ini nggak selebat yang aku kira. Dan perasaan saat kepala kontol itu menggelitik rahang atasku, seperti aku sedang mengulum lolipop.

Tanpa sadar aku meraba-raba testis Zaki, menarik-narik kulit bijinya yang agak kendur. Lalu tanpa sadar pula jariku menekan-nekan selangkangan Zaki, antara pelir dan lubang pantatnya. Dan saat itulah aku merasakan mulutku penuh dan hangat. Dan becek.

Sialan. Dia sudah orgasme!
Secepat itu?!


“Bandung, musim gugur yang indah.”

Aku menoleh ke arah Zaki, mengernyitkan alis.

“Kenapa, bos? Ayo tulis!”
“Surat cinta macam apa itu dimulai dari musim gugur yang indah? This city doesn’t even have autumn!
“Surat cinta macam Zaki!” Dia menggoyang-goyangkan tanganku. “Tulis, Bos. Bandung, musim gugur yang indah.”

... Bandung, on a beautiful autumn ...

“Kepada yang tercinta, Zaenab.”

... Dear, Zaenab...

“Kok pendek, bos?”
“Pendek apa?”
“Itu, saya bilang ‘kepada yang tercinta’ kok di situnya cuma ‘dwer’?”
“Memang cuma ini, kok.”

“Bawel amat, Zaki. Udah, Zaki nurut aja!” Bang Dicky cekikikan dari seberang sofa.
“Berisik lu, monyet!” Zaki melempar segumpal tisu ke arah Bang Dicky. Dia lalu kembali ke arahku dan mulai berargumentasi. “Kepada yang tercinta mestinya kan tiga kalimat, bos? Kok itu cuma satu kalimat?”

Kalimat?

“Ini juga cukup, kok Bang. Udah bisa merepresentasikan kalimat itu.”

Zaki kelihatan nggak senang. Alisnya mengernyit dan otaknya berputar. “Tapi nanti suratnya jadi pendek, dong? Panjangin aja lah, Bos. Bisa, kan?”
Aku memutar bola mata. Kucoret kalimat tadi dan menggantinya dengan yang baru.

... To the dearest, Zaenab...

Granny menghambur masuk ke ruang tengah sambil membawa pop corn buatan sendiri. Dia mengenakan celana kulit warna coklat, jaket kulit warna putih, dan di atas blusnya yang bercorak tropis ada syal sutra warna pink. “Ini pop corn organik. Nenek dapet dari petani jagung di Somalia,” katanya. Lalu karena aku menunjukkan muka nggak percaya, dia buru-buru menambahkan. “Kata tokonya sih ini dari Somalia.”

Zaki menggoyang-goyangkan tanganku lagi. “Lanjut bos,” bisiknya. “Setiap hari aku selalu membayangkan dirimu...”

???

“Masa belum apa-apa udah ‘membayangkan dirimu’, sih?” protesku. “Tanya kabar dulu, kek. Muji-muji dulu, kek.”
“Nggak apa-apa, bos! Yang penting kan mencurahkan hati.”

“Bener kata Agas, Zaki. Mending kamu tanya kabar dulu,” sela Granny. “Misalnya, 'gimana kabar kamu hari ini? Cuaca cerah, ya? Ekonomi negara Indonesia juga mulai membaik'.”
“Granny, ini surat cinta!” tegasku.
“Oh, nggak apa-apa, Darling. Yang penting kan basa-basi dulu.”

Zaki memutar otak. “Ya udah, gini aja. ‘Semoga kamu baik-baik aja sekarang, karena...’”

... Wish you were fine today, because....

“...Setiap hari aku selalu membayangkan dirimu...”

Astaga.

“Luka kamu udah kering, kan Gas?” tanya Granny.
Sambil lanjut menulis surat cinta Zaki in English, aku menjawab, “Udah Granny. Tapi belum lepas luka keringnya.”
“Hari ini kamu pake perban lagi?”
“Nggak, ah. Ngapain? Kan udah kering!”

Tepat satu minggu yang lalu, pada Sabtu malam, aku mendapatkan semacam kecelakaan. And to make it worse, aku sama sekali nggak ingat kecelakaan apa yang kualami. Tahu-tahu begitu sadar, aku sudah terbaring di kamarku, Bang Dicky bolak-balik di depan meja rias, dan Granny sedang main sudoku di smartphone-nya. Aku mengerang kecil dan tiba-tiba semua orang di ruangan itu menghampiriku dengan terkejut seolah aku baru bangun dari kematian.

Satu-satunya bayangan terakhir yang kuingat adalah aku bersembunyi dari Esel di workshop Bang Dicky. Saat itu aku masih ingat dengan jelas diriku berjalan menyusuri setiap bingkai dan berhenti di depan bingkai Cupid. Si bingkai Cupid ini tiba-tiba menghilang—maksudku, pahatan cupidnya, bukan bingkainya. Dan begitu aku berbalik, aku melihat cupid yang biasanya menjadi pahatan dalam bingkai tiba-tiba melayang berdiri di hadapanku.

Ukurannya besar. Sebesar aku. Dengan kulit mulus, kain putih dililitkan di badan, sayap malaikat putih, harpa emas yang juga merupakan busur panah, rambut keriting berwarna putih, dan wajah manis anak kecil, melayang-layang dan menyapaku, “Hai!” Setelah itu, blackout... gelap... aku nggak ingat apa-apa.

Selain terkejut karena aku nggak ingat dengan semua kejadian yang terjadi antara sapaan si cupid dan terbangun di kamar sendiri, aku juga terkejut mendapati pelipisku terluka.

Luka tersebut hanya goresan kecil, tapi Granny bilang darah yang mengucur banyaaaak sekali. Aku sampai berkali-kali ganti perban karena darahnya agak susah mengering. Alhasil, tiga hari pertama di minggu ini, aku bolos sekolah. Kepalaku sering pusing dan setiap aku kekurangan darah, aku selalu mual.

Satu hal yang unik dari luka tersebut adalah: letaknya sama persis dengan lukanya Bang Dicky yang kuobati minggu kemaren. Hanya saja lukaku lebih kecil. Dan nggak cepat kering kayak Bang Dicky yang sudah bisa lepas perban esok paginya.

Begitu aku terbangun, pelipisku sudah dibalut perban. Granny langsung memberondongku dengan beragam pertanyaan, dan Bang Dicky sama paniknya sampai-sampai menginap di rumah ini selama dua malam untuk menjagaku. Aku berusaha menjelaskan pada mereka bahwa aku melihat cupid di workshop sebelum akhirnya aku lupa ingatan.

Aku yakin banget aku nggak pingsan. Aku yakin banget setelah aku bertatapan dengan cupid itu, aku melakukan sesuatu. Entah apa itu, tapi aku nggak pingsan. Aku ingat banget nggak ada bagian dimana dunia terasa gelap, badan terasa lemas, dan lain-lain... aku yakin aku masih sadar saat itu... hanya saja aku benar-benar lupa apa yang terjadi. Seperti ada bagian yang hilang dalam rentang waktu tersebut. Seperti saat kita menonton film di GOM player, lalu menekan arrow kanan untuk memforward film, tiba-tiba scene berubah 10 detik kemudian.

Sayangnya nggak ada satupun yang percaya bahwa aku bertemu cupid di workshop.

“Mungkin itu si Kunti, Gas...” kata Jeng Nunuk waktu itu. “Kamu tau kan setan bisa berubah wujud? Dia bisa jadi orang, bisa jadi binatang, kamu tahu nggak kalau Kakak pernah lihat si Kunti menjelma jadi panci?”

Bang Dicky pun tiba-tiba menutup workshop-nya selama beberapa hari. Dia bahkan langsung melarangku masuk ke sana karena khawatir hal yang sama bakal terjadi lagi padaku. Atau at least, kalau aku memang ingin masuk ke sana, harus ditemani seseorang.

“... Cintaku bagaikan rembulan yang bersinar di malam hari...”

... my love is like

Wait. Lama-lama jadi bullshit ya kata-kata Zaki ini. Sekalipun nggak kelihatan tuh binar-binar cinta di matanya yang bagaikan rembulan bersinar di malam hari. Aku benci cowok-cowok gombal macam begini!

PART 21


“Sayank, udah selesai belum? Jeng Nunuk udah nunggu di depan komplek tuh. Kamu jadi nebeng, kan?” sela Granny.
“Bentar, Nek! Satu kalimat lagiii aja,” pelas Zaki. “Ini si Agas lagi nulis yang terakhir, kok. Ya kan Gas?”

Aku nyengir.

... my love is like

... my love is like a moon which only came at night and once a month hide behind the shadow of the earth, coz I only care about your pussy...


-XxX-

Ada satu lagi yang belum aku ceritakan tentang Granny. (Dan mungkin masih ada jutaan hal lagi yang belum aku ceritakan—atau bahkan aku sendiri belum tahu.) What was that? Granny gabung dengan geng motor! Silly, huh?

“Di Bandung, gabung dengan geng motor itu penting, Gas,” kata Granny beberapa hari lalu. “Semacam... strata sosial, lah. Dan dengan gabung di geng motor, kita bisa menjalin tali persaudaraan.”
“Kita namakan itu sisterhood!” sambung Jeng Nunuk dengan percaya diri. “Dan sisterhood kami travelling pants banget. Sangat luaaasss...”

Granny bilang, dia, dan The Jandaz, sebetulnya anggota geng motor dengan nama “Gadis Matic”. Yes, karena motor mereka skuter automatic yang mini dan full color. Kebetulan banget di minggu-minggu pertama aku datang, semua motor mereka sedang dicat ulang biar warnanya samaan (dominasi pink dengan garis kuning sana-sini, lalu ada tulisan The JAMS—Jandaz Association Matic Sister), sehingga aku nggak tahu kalau dibalik kecentilan nenek-nenek ini, ternyata ada hal yang lebih centil lagi.

Awalnya aku membayangkan Granny kebut-kebutan macam mafia di Jepang menggunakan skuter matic-nya. Tetapi thanks God, nenek-nenek ini nggak pernah melajukan kendaraan mini tersebut melebihi 30 Km per jam. Mereka lebih seperti kumpulan orang tua yang sedang... sepeda santai. Dan bahkan, weekend ini, mereka berencana mengunjungi panti asuhan untuk bagi-bagi kaus Sm*sh gratis!

Aku berdiri di carport, memandangi lukaku di kaca spion skuter matic Granny yang kelihatan baruuu banget—karena memang baru dicat. Luka itu sudah cukup kering dan aku bersyukur karena nggak harus repot-repot mengompresnya lagi dengan antiseptik dan kapas.

“Kamu pake ini, Gas... cukup kan?” Granny muncul dari garasi dan menyodorkanku helm coklat dengan wajah monyet di atasnya.

“Harus pake ini?” Aku memandangi helm itu dengan jijik.
“Oh, harus Darling,” jawab Granny sambil memasang helm Princess warna pink di kepalanya. “Di Indonesia memakai helm tuh wajib!”

Sebetulnya maksudku, haruskah aku memakai helm bergambar monyet? I mean, nggak ada yang lebih polos atau apa gitu? Aku nggak keberatan kok kalau aku nggak eye catching seperti The Jandaz.

Granny menepuk jok belakang skuternya. “Ayo sini, duduk! Jeng Nunuk bilang The Jandaz udah pada nungguin di depan komplek! Yuk, cepetan...”

Sabtu siang ini aku ada janji dengan Cazzo. Sejak kejadian minggu kemarin, entah kenapa cowok itu malah deket banget sama aku. Semua keluh kesah dan riang gembiranya selalu ditumpahkan padaku—termasuk harapan-harapannya buat bisa gabung lagi di Mahobia. Aku, yang pada dasarnya emang nggak pilih-pilih temen, nerima-nerima aja waktu dia terus menerus memborbardirku dengan curhatan-curhatannya yang nggak penting. Kapan itu waktu aku nggak sekolah karena kepalaku masih sakit, Cazzo nelepon hanya untuk bilang, “Gue barusan ke WC sendiri, lho! Hebat, kan?”

“Gas,” panggil Granny, saat kami berdua sudah melaju di jalan komplek, “Kamu beneran nggak inget kejadian yang kamu alamin minggu kemarin?”

Another same topic. Meski aku sudah menjawab sejujur-jujurnya, mereka tetap bertanya lagi bertanya lagi. Aku nyaris tergoda untuk bilang bahwa aku tawuran dengan kuntilanak di dalam workshop sehingga pelipisku terluka—tapi mereka nggak mungkin percaya. I mean, berjuta-juta kali aku bilang aku ketemu cupid di sana, mereka nyaris menganggap aku gila.

“Kan udah aku ceritain berulang kali ke Granny. Kenapa sih kalian pada nggak percaya?”
“Karena yang kamu lihat cupid, Darling. Kalo si Kunti sih masih masuk akal.” Granny melamun sebentar sambil membelok ke jalan utama komplek. “Ngomong-ngomong, cupid tuh dewa petir, bukan?”

“Dewa cinta,” jawabku agak geram. Hari Senin lalu Granny sempat berpikir bahwa cupid adalah sejenis burung. Tapi Jeng Nunuk yang lebih parah. Dia pikir cupid adalah Band Rock asal Amerika.

“Oh, iya Dewa Cinta!” Dan Granny melamun lagi. “Kenapa ya ada Dewa Cinta di dalam workshop?”
“Kalo Granny emang percaya Dewa, mestinya Granny juga percaya kalo Dewa bisa ada di mana-mana. Lagipula yang mestinya ditanyain tuh bukan kenapa ada cupid di dalem workshop, tapi kenapa Bang Dicky bikin cupid itu untuk frame pertamanya.”

“Kamu udah tanya si Dicky, Darling?”
“Udah, Granny. Bang Dicky bilang frame pertama itu dia buat asal-asalan. Katanya dia pengen bikin miniatur dirinya sendiri, tapi malah jadi ada sayapnya, rambutnya keriting, cuma pake cawat, dan pokoknya mirip cupid deh.”

“Mungkin waktu kecil si Dicky rambutnya keriting!” kata Granny penuh ide. “Mungkin itu adalah sosok si Dicky waktu dia masih kecil!”

Dengan sayap malaikat di punggungnya? batinku.

“Sebetulnya Nenek nggak sering-sering amat lihat hasil karya si Dicky. Tapi kalo ada temen Nenek yang request pigura dengan ukiran-ukiran tertentu, Nenek baru minta dia buat bikinin. Nenek juga jarang masuk ke workshop-nya.”

“Emang gimana sih pas kalian nemuin aku di workshop? Aku masih belum ngerti.”

“Oh, ya pokoknya gitu deh, seperti yang udah Nenek ceritain. Pertama, Esel nyari-nyari kamu karena kamu katanya pengen dimake-over tapi malah kabur. Kita semua nyari-nyari ke seluruh penjuru ruangan, tapi tetep nggak nemu. Banyak kok padahal orang yang ke belakang, eit-eit eit!” Granny ngerem mendadak lalu membiarkan seekor anak kucing lewat di hadapannya. Setelah mengurut dada dan berkomentar sedikit bahwa anak kucing itu punyanya Pak Mardi, Granny melanjutkan lagi bercerita.

“Dicky juga udah ke workshop, dan katanya workshop itu lampunya mati total, gemboknya kekunci. Lagipula Dicky sama Zaki baru dari sana, katanya. Dan mereka ngunci workshop itu! Entah gimana deh caranya kamu bisa ada di sana, Darling...”

Aku masih ingat dengan jelas saat aku menemukan workshop itu dalam keadaan terang dan pintunya terbuka.

“Intinya sih, tiga jam kemudian, kamu akhirnya ketemu. Waktu itu si Dicky ada ketinggalan apaaa gitu di workshop, dan pas dia masuk ke sana, dia nemu kamu udah terbaring pingsan di atas lantai. Darah udah ngucur dari kepala kamu. Dicky langsung manggil Nenek, udah gitu--Oh, itu The Jandaz!”

-XxX-

Ingin tahu rasanya menarik perhatian banyak orang? Ikutlah bersama salah satu dari genk motor Gadis Matic ini. Niscaya semua mata tertuju padamu. Dan bahkan, gara-gara hal ini, aku bersumpah nggak akan nebeng Granny sampai kapanpun, kecuali sound system yang mereka tanam dibawah kemudi itu mereka lepas atau at least mereka berjanji nggak menyalakan lagu apapun selama perjalanan.

“Oh-oh-oh, ini bagian favorit saya nih!” pekik Jeng Nunuk.

:hear music:... Tak peduli, gue di-bully, omongan lu gue beli... :hear music:

“Cacian lo gue cuci, dengan senyuman prestasiiii!” Jeng Nunuk bersenandung dengan sangat keras, sampai kupikir dia sebetulnya sedang tercekik.

Aku menutup muka, di bawah helm monyetku, dan sebisa mungkin berlindung di balik punggung Granny. Gimana kalo ada anak CIS yang kebetulan berpapasan dengan kami? Gimana kalo ada liputan dari teve yang kebetulan sedang berkeliaran di sekitar sini lalu menganggap The Jandaz ini menarik dan aku terpaksa masuk teve sebagai narasumber?

“Sebentar lagi nyampe, Gas...” ujar Granny. Lagaknya sekarang benar-benar mirip mafia. Duduk dengan kaki mengangkang, jaket kulit, rambut ubanan berkibar-kibar, dan mungkin tinggal ditambah tato supaya mirip rider Harley Davidson.

Sebetulnya bisa saja aku minta antar Bang Dicky. Tapi kebetulan aku lagi sebel sama dia. Seminggu terakhir Bang Dicky ada di mana-mana. Ngebuntutin terus. Apalagi kalo Zaki datang ke rumah, Bang Dicky pasti udah siaga bikin jarak antara aku sama Zaki, minimal tiga meter, entah untuk alasan apa.

Masa sih dia cemburu?
Sesayang itukah dia padaku?
Sayang macam apa, pula?

Untung saja dua hari yang lalu Granny minta Bang Dicky mengantarnya ke Pasar Baru. Karena waktu itu, waktu rumah kosong, waktu aku sembunyi-sembunyi masuk ke workshop karena penasaran dengan cupid itu, tiba-tiba Zaki muncul untuk mengantarkan kayu. Baru saat itulah aku benar-benar bisa dekat dengan Zaki di rumah sendiri, tanpa harus ada Bang Dicky membayangi kami kemanapun. Bahkan pertemuan itu berakhir dengan oral sex. (Which is not a new thing, thou. Karena tiga hari sebelum itupun, aku mengulum little Jack-nya Zaki—di tempat lain, bukan di rumah.)

Cowok kurir kayu itu makin sini makin gila seks. Sumpah deh. Untung aku gay, jadi aku bisa tahan ngelihat alat kelaminnya berulang-ulang. Mungkin kalau aku straight, aku sudah jijik. Yang aku heranin sih, kok mau-maunya dia nunjukin “itu”-nya terus menerus padaku, dan bahkan memintaku memijitnya.

Dia nggak berubah orientasi seksual, kan?

“Nanti Nenek jemput dimana?”
“Oh, nggak usah, Granny!” Buru-buru aku menyerahkan helm monyet itu dan sebisa mungkin menjaga jarak dari Granny, mungkin melewati pelataran parkir itu dan berbicara dengan Granny dari sana. Aku nggak kelihatan kayak habis turun dari motornya genk Gadis Matic, kan?

“Nenek mungkin selesai jam limaan. Kalo kamu masih di luar, nanti twit aja, oke? Entar Nenek jemput, deh.”
“Iya, Gas. Nanti rombongan Gadis Matic bakal jemput di manapun kau berada...”

Aku nyengir dan buru-buru berbalik. Sambil berjalan, masih dapat kudengar Jeng Nunuk mengutak-atik mp3 di motornya, mencari lagu baru.
“Kita putar lagu ini, ya?” seru Jeng Nunuk. Kemudian intro lagu dangdut khas Indonesia muncul... suaranya mungkin mengalahkan mesin jet pesawat terbang. Berisiiiik banget.

Aku geleng-geleng kepala. Semua pengguna jalan harus siap-siap dengan musik membahana yang datang dari kumpulan Gadis Matic ini.

Nah, sekarang, di mana Gigglebox yang dibilang Cazzo semalam, hmh?
Di mana, ya...

:hear music:... di mana... di mana... di manaaaa...
Ku harus... mencari... di manaaa...
:hear music:

Eh? Lagu macam apa itu?
Kenapa harus ikut-ikutan mencari di mana, sih?

Aku menoleh dan melihat The Jandaz baru saja pergi dengan lagu “di mana-mana” entah judulnya apa membahana di sepanjang jalan Progo. Aku makin geram dengan kelakuan grup cewek-cewek janda tuwir ini. Kenapa mereka nggak muter lagu yang lebih seusia mereka, sih? The Beatles, misalnya... atau lagu-lagu pertama Madonna.

“Hey-hey! Sini!”

Seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan menemukan Cazzo baru saja muncul dari sedan hitamnya yang mulus. Dia parkir tepat di depan Gigglebox yang kucari-cari barusan.

“Udah lama?” tanyanya.
“Baru nyampe, kok.”
“Gila, tadi ada nenek-nenek banyaaaak banget. Rombongan naek motor. Udah gitu muter lagunya Ayu Ting-Ting!” Cazzo bergidik.

Haha, at least sekarang aku tahu nama penyanyinya Ayu Ting-ting.

Gigglebox tempatnya cozy, meski menunya masih terlalu standar. Banyak anak muda kumpul di sini untuk bercengkerama dan bahkan ada beberapa anak sekolah (wait, di sini masih ada yang sekolah sampai hari Sabtu??) sedang ngerumpi sambil minum jus.

“Gue sering ke sini bareng nyokap gue. Biasa lah, kalo mau santai-santai sore, di sini lumayan asyik!” Padahal Cazzo baru saja memesan Beef Schnitzel dua porsi, sesuatu yang buatku jauh banget dari “santai-santai sore”.

Santai-santai sore mestinya minum teh dan mengunyah beberapa biskuit.

Cazzo kelihatan begitu bersemangat hari ini. Dia berbinar. Berjuta-juta derajat berbeda dari waktu aku menemukannya di WC minggu kemarin. Cazzo memotong rambutnya menjadi lebih pendek, lalu entah apa yang terjadi tapi buatku kulitnya terlihat lebih mulus. Dia juga tebar senyum ke sana kemari, masih sadar kalau dia ganteng jadi nggak melewatkan kesempatan untuk tebar pesona layaknya Prince Charming.

“Eh, gue semalem ngerjain pe-er matematika sendirian, lho! Hebat, kan!”

Apa?
Seumur hidupku, aku mengerjakan pe-er matematika sendirian. Nothing great in it.

Tapi karena aku nggak tega menghapus binar riangnya, aku ikut tersenyum dan bertepuk tangan. Mungkin dalam hidupnya, mengerjakan pe-er matematika sendirian sama dengan memenangkan medali emas olimpiade.

Aku jadi teringat hari Kamis kemarin.

Setelah bolos tiga hari, aku akhirnya masuk dengan pelipis masih dibalut perban dan mengundang banyak tanya dari semua orang di kelas.

“Kamu berantem sama genk motor, Gas?”
“Kamu jatuh dari tangga, Gas?”
“Kamu operasi otak, ya? Di mana sisa otak yang dibuang? Bagi-bagi, dong...”

Tapi untung ada Esel yang dengan inisiatif sendiri menjadi juru bicaraku. “Sebetulnya, saudari tercinta I ini diculik kuntilanak waktu malem minggu kemarin. Serem, em? Kuntilanaknya pake baju putih, rambutnya panjang, lalu berantem sama si Agas sampe si Agas terluka begini, dan toketnya yang panjang sampe lutut itu tiba-tiba—“
“Itu Kalong Wewe, kali!”
“Apa sih you, Yanti! Suka ikut campur cerita orang aja, deh... kalau I bilang kuntilanaknya toketnya panjang, ya udah, dengerin aja... kalo nggak suka, pergi deh...”

Nah, mendengar kabar heboh tentang aku yang masuk sekolah, tiba-tiba Cazzo muncul tanpa diundang di kelas Biologi-ku. Waktu itu bel istirahat baru saja berbunyi, ketika aku keluar kelas, kutemukan cowok itu sedang menatap cemas ke arahku. Tangannya diremas-remas gelisah, dan dia seperti ingin menangis.

“Lo nggak apa-apa, kan Gas?” tanyanya.
“Aku baik-baik aja. Kamu kenapa?”

Cazzo malah marah. “Tau nggak sih, gue tuh bete waktu lo nggak masuk sekolah! Gue nggak punya temen ngobrol, tau? Mana gue masih dijahilin sama Mahobia...!”

Dan semenjak itulah dia jadi buntut keduaku, mengekor kemana-mana.


PART 22


Nggak kebayang deh kalo aku nggak pernah ada di CIS. Mungkin Cazzo sudah bunuh diri. Karena dari sikapnya, dia jelas-jelas sangat membutuhkan aku. Setiap jam selalu menghubungiku untuk curhat tentang apapun yang dilakukannya. Kapan itu, tengah malam, dia juga meneleponku untuk bilang kalo dia belum makan malam. Penting, em?

“Jadi kamu masih pengen gabung di Mahobia?” tanyaku, membuka obrolan sambil menunggu pesanan datang.
“Masih dong!” Dia mengernyit bangga. “Kalo udah gabung sama Mahobia, weiisss... hidup di CIS pasti lebih sejahtera.”

“Dan seudah gabung pasti bakal ninggalin aku?”

Dia terdiam. Matanya lirik kanan kiri, bingung mau menjawab apa.

Well, jujur aja. Aku sih nggak masalah kalo dia mau ninggalin aku. I mean, itu artinya aku bisa bebas dari sms dan teleponnya yang datang setiap jam, kan?

“Kita masih bisa backstreet!” serunya mendapat ide.
“Aku bukan pacar kamu, ngapain backstreet?”
“Oh... iya ya.” Cazzo menggaruk kepalanya.

“Oh!” Dia mendapat ide lagi. “Lo bisa gabung di Mahobia!”

Aku mengernyit. “No way. Aku nggak phobia sama homo. Aku bahkan nggak punya phobia apapun.”
“Nggak apa-apa. Yang penting gabung.”
“Nggak, ah.”

“Ayolah...” pelas Cazzo, dan somehow dia kelihatan manis sekali waktu memelas seperti itu. “Kita bisa main futsal bareng kalo udah di Mahobia!”

Aku benci futsal, batinku. Pada dasarnya sih aku benci Mahobia.

“Nggak ada kegiatan lain emangnya selain futsal?” tanyaku.
“Ada sih... misalnya, ngng...” Cazzo berusaha keras memutar otak. “Main bola... terus, ngng...”
“Kalo Saturday night kayak sekarang biasanya suka ke mana?”
“Malam minggu?” ulangnya. “Biasanya sih pada pacaran masing-masing. Hehe.”

“Terus kenapa kamu nggak pacaran?”
“Gue? Ngng...” Matanya berputar ke kanan dan sesekali melirik ke arahku, kelihatan salah tingkah. “G-gue kan udah nggak di Mahobia lagi. Jadi gue bisa bebas pas malam minggu. Nggak mesti pacaran mulu.”

Mataku menyipit, menatap menyelidik. “Bilang aja nggak punya pacar.”
“Punya, kok! Si Melissa itu kan pacar gue!” sanggah Cazzo. Tapi kemudian dia menelan ludah. “Maksudnya kemaren, pacar gue. Tapi dia udah gue putusin. Sebab dia boring, ah!”

“Kamu yang mutusin?” Aku menatap Cazzo dengan ekspresi datar. “Aku pikir Melissa yang mutusin karena kamu udah didepak dari Mahobia. Jelitaz bilangnya sih gitu sama aku.”
“Ngapain lo percaya sama Jelitaz?! Sila ke satu Mahobia tuh: basmi Jelitaz! Gue kok yang mutusin si Melissa!”

Cazzo mulai memainkan tisu yang ada di atas meja, kelihatan nggak nyaman membicarakan persoalan tersebut.

“Ya udah,” kataku. “Terus kalo udah bebas kayak sekarang, kenapa ngabisin malam minggu sama aku? I mean, kan kamu bisa hangout ke manaaaa gitu sambil relaksasi?”
“Lo banyak nanya banget ya dari kemaren.”
“Namanya juga ngobrol, mesti ada sesuatu yang ditanyain.” Aku memutar bola mata. “Ya udah, terserah kamu aja. Jadi sekarang mau gimana?”
“Tuh, kan! Nanya lagi!”

Pesanan kami datang.

-XxX-

Ketika kami sudah menyantap setengah dari makanan kami, seseorang datang ke dalam cafe. Awalnya ku nggak ngeh siapa orang itu. I mean, setiap menit selalu ada orang lalu lalang di pintu masuk. Tapi ketika Cazzo tiba-tiba melambai ke orang itu, memanggilnya, aku langsung ingat bahwa aku pernah bertemu dengan orang itu. Kami ketemu di Iga Bakar tempo hari.

“Mbak Lita!”

Seorang cewek mengenakan dress pendek warna hitam dan heels tinggi datang menghampiri kami. Dia kelihatan seperti selebritis. Dengan rambut diikat kuncir kuda, kulit mulus, dan make-up yang begitu sempurna.

“Cazzooo!” Mbak Lita berlari menghampiri kami. Rok dress-nya yang pendek berkibar-kibar, membuat beberapa cowok di meja lain sebisa mungkin mengintip apapun yang bisa terlihat. “Kangen nggak ketemu kamuu... entar Mbak mau ke Singapore sama Louie. Kamu ikut nggak, Sayang? Dua minggu lagi, lah...”

“Yaaah, mana mau kak Louie ngajak gue!” Dan mereka berdua pun terbahak. Tertawa dengan sempurna. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Sebagai cowok, aku pengen banget semenawan Cazzo. Dan kalau aku cewek, tentunya aku sangat pengen jadi Mbak Lita.

“Oh, ini kenalin temen gue dari sekolah. Namanya Agas!”
“Oh, Hallo... Lita...” Cewek itu mengulurkan tangan dengan anggun. Aku menjabatnya dan memperkenalkan diriku. Dia lalu minta izin untuk duduk. “Mbak sebenernya janjian sama temen, tapi kayaknya belum pada datang. Mbak duduk di sini dulu, ya? Boleh nggak?”

“Boleh, dong!” Cazzo menggeser duduknya, membiarkan cewek itu duduk di sampingnya. “Mbak Lita ini pacarnya kakak gue, Gas. Bentar lagi mau nikah!”
“Apa sih kamu...” Mbak Lita mencubit pipi Cazzo dengan gemas.

Wah, kebetulan banget Cazzo. Mbak Lita ini juga pernah jadi pacarnya Bang Dicky, kakak angkatku. Dan mereka juga asalnya mau menikah.

Saran aku buat Cazzo: jangan biarkan kakakmu dan Mbak Lita ini masuk workshop. Nanti pernikahannya batal.

“Eh, jadinya di mana mbak venue-nya?” tanya Cazzo.
“Ih, kamu kecil-kecil banyak tanya, ya! Itu rahasia, ah...” Mbak Lita mengibaskan rambut dengan centil. “Lagian baru rencana kok, Sayang. Belum diputusin. Louie pengennya di Milan. Tapi masih ada pilihan lain. Prague, mungkin. Atau London—mbak dari dulu pengen banget nikah di istana.”

“Yah, pokoknya nikahnya mesti jadi!” seru Cazzo. “Di mana pun boleh. Asal jangan Somalia, alright? Banyak perang!”
“Ya enggak lah, Sayang... itu kan negara Islam. Wedding dress mbak basic-nya bikini. Jadi bentuknya tuh, tops dikasih kain-kain ngembang gitu, Caz, supaya kelihatan kayak wedding dress.”

She has already set her wedding dress?
And bikini basis?


“Emang kapan nikahnya?” tanyaku, mencoba gabung.
“Oh, masih lama sih... tahun depan, mungkin. Tapi kan mesti disiapin dari sekarang.”
“Iya. Daripada gagal lagi,” ujar Cazzo. “Dulu mbak Lita nyaris mau nikah ama cowok, tapi cowoknya banci. Untung deh nggak jadi. Gue sih nggak tau siapa orangnya. Yang pasti, untuuung aja nggak jadi kawin. Abis mbak Lita sama kak Louie cocok banget sih. Nggak kebayang kalo mereka nggak pernah ketemu.”
“Aduh, Cazzo... kamu ini bawel, yaaa...” Dan mbak Lita mencubit lagi pipi Cazzo, seolah cowok itu anak lima tahun.

Wait...
“Banci?” ulangku. “Banci kayak gimana?”
Setahuku Bang Dicky nggak kelihatan banci sama sekali. Dia hanya... aneh. Dan menyebalkan—akhir-akhir ini aja sih.

“Ah, itu masa lalu...” mbak Lita mengibaskan tangan di udara. “Mbak juga udah lupa. By the way, kamu makan apa tuh, Caz?”
“Jadi dia kayak cewek, gitu?” tanyaku, ngotot ingin membahas Bang Dicky.

Mbak Lita memutar matanya, mengingat-ingat. “Nggak juga sih. Maksudnya bukan ke situ, bukan banci kayak... bencong atau apa gitu. Cuma dia yaa... nggak berani aja ngambil keputusan. Mbak minta minum kamu ya Caz?”
“Maksudnya gimana Mbak?”

“Maksudnya si mantannya mbak lita itu homo!” seru Cazzo.
Mbak Lita tersedak dan buru-buru meletakkan gelas di atas meja.
I didn’t say that...” bela mbak Lita sambil tergelak dan terbatuk-batuk. “Bukan kata mbak lho, ya... mereka aja si Cazzo sama Louie yang bikin kesimpulan kayak begitu. Sebetulnya sih bukan begitu. Ini urusan orang dewasa, Sayang...”

“Kalo cowok nolak nelanjangin cewek di tempat sepi, berarti homo, mbak...” Cazzo kelihatan yakin sekali.
“Aduuuh, mbak nggak tahu deh ya, soal itu...” Tanpa ragu-ragu mbak Lita mengambil gelasku dan meminum isinya. “Bisa jadi dia cuma pengen bersikap sopan. Mungkin dia cowok baik-baik.”

“Tetep aja homo.”

Astaga, nyebelin banget sih si Cazzo ini. Nggak tau ya kalo cowok yang narik kerah bajunya minggu lalu di rumahku adalah cowok yang dia anggap homo tersebut!

Tapi aku jadi teringat. Apakah yang dimaksud Zaki tentang kejadian di workshop antara Bang Dicky dan Mbak Lita ini adalah tentang “Bang Dicky nolak nelanjangin cewek di tempat sepi?”

Well, kalo iya, yang bermasalah pastinya bukan Bang Dicky. This bitch is a real bitch, then.

“Lagipula orangnya aneh, mbak nggak sanggup deh ngebayangin hidup ama dia,” kata mbak Lita. “Dia nyebut namanya sendiri lho, kalo ngomong. Dan kayaknya dia punya banyak phobia gitu lah. Mungkin punya kehidupan kelam or something. Padahal dia ganteng... eh, ini minum kamu, ya? Aduh, sorry... nggak apa-apa, kan?”

Aku melirik gelasku. Yang ternyata isinya tinggal... seperempatnya.

“Jadi mbak batal nikah karena dia nggak mau nelanjangin mbak?”
“Ssst! Jangan keras-keras,” kata mbak Lita sambil terkikik. “Tapi kalo kamu nanya soal itu, well, sebetulnya banyak faktor sih. He’s just too... weird. Misalnya dia hobi banget bikin bingkai... sampe-sampe punya workshop segala... aneh, kan? Dan dia yatim piatu. Aduh, nggak deh. Mana kerjaannya nggak jelas, pula... tinggal ama nenek-nenek... iiihhh...”

What a bitch! Aku juga yatim piatu! Wuzzup with yatim piatu?!

“Katanya rumahnya serem, Gas! Mirip rumah lo!” sela Cazzo. “Nggak mau deh, gue datang ke rumah macam begitu. Ke rumah lo aja gue mesti mikir dulu jutaan kali, sekarang...”

“Litaaaa..!!”
“Eh, Nadine!” Mbak Lita melambai-lambai ke arah pintu. “Mbak ke sana, ya... temen-temen mbak udah pada datang tuh. Thank you ya guys... met kenal juga buat Agas... aduh, temen-temennya si Cazzo ini pada cute-cute ya. Andai mbak masih SMA. Bye bye...”

Mbak Lita mengacak-acak rambut Cazzo dan cowok itu nyengir bangga. Setelah cewek itu pergi, tiba-tiba Cazzo menarik tanganku, memintaku membungkuk ke arahnya. Kemudian dia berbisik.

“Gue sih tetep yakin, mantannya si mbak Lita itu homo.”

-XxX-


Aku pikir ini hanya pertemuan antar dua orang teman biasa yang terjadi pada hari Sabtu. Tapi lama-lama malah jadi nge-date. Bukannya aku ge-er atau apa, ya. Cazzo mengajakku nyaris ke segala tempat dengan dalih ingin menunjukkan kota Bandung padaku.

“Lo besok nggak kemana-mana kan, Gas? Kali aja gue mau jemput lo buat main bareng. Yaaah, mumpung libur, lah.”
We’re just dating, dude...” Aku memutar bola mata. “Emang kamu mau ngajak aku kemana lagi?”
“Siapa yang ngedate!” sangkal Cazzo, tapi agak salah tingkah. “Kita kan cuma... cuma hang-out biasa. Gue sering kok hangout kayak barusan bareng anak-anak Mahobia.”
“Tapi Mahobia itu jutaan orangnya, nggak cuma berdua kayak kita.”

Cazzo nggak menjawab. Dia kembali fokus ke kemudi mobilnya.

Kalau mau tau, barusan kami main jalan-jalan di Parijs Van Java berdua. Kami main ice-skating berdua—dan Cazzo dengan sabarnya melatihku meluncur. Lalu kami makan sushi berdua. Minum-minum kopi di J.CO berdua. Karaokean di Inul Vista berdua. Dan sebagai acara pamungkas, kami nonton film action terbaru di Blitz Megaplex. Berdua. And to make it worse, Cazzo insists to pay all of these “hangout” by himself... ckckck. Itu jelas-jelas dating, kan? Dan aku ngerasa jadi ceweknya! Sialan.

Bedanya emang tipis antara aku dianggap miskin sama Cazzo karena jadi yatim piatu, atau dia memang menganggap ini sebagai kencan.

“Sebetulnya, kamu udah nyoba buat gabung lagi sama Mahobia, nggak sih?” tanyaku, diiringi sms yang datang ke ponselku.

—bos,lg ngapain?—

Dari Zaki.

—barusan jalan2, skrg lg mau pulang—

“Udah, kok!” jawab Cazzo, agak ketus. “Mungkin mereka lagi mikirin ulang soal nerima gue lagi.”
“Yakin?”
“Kok lo nggak percaya, sih?” Alisnya bertaut kesal.
“Karena hari Jumat kemarin aku dikasih tau sama temen kalo kamu masih dijahilin sama Mahobia. Katanya kamu di—“

Tiba-tiba tangan kiri Cazzo membekap mulutku. “Ssst-sst-sst! Diem, ah! Jangan banyak omong, lu!”

Ck-ck-ck.
Sebetulnya Cazzo ini cute, lho, kalo udah ngambek gitu. You should see his face! Mukanya memberengut, alisnya bertaut, dan bibirnya agak... yaaah, mengundang gitu lah..

—bos, sya gagal euy nembak si Zaenab. Trnyata tuh cwek cm pgn uhu-aha doang ama sya bos! Udh gt dy malah ngejek sya geura, ktnya kanjut cengek! Goblog!—

—sebetulnya abang cinta si zaenab ga sih?—


“Cazzo, kenapa kamu ngajak aku jalan-jalan hari ini?” tanyaku akhirnya, sebuah pertanyaan yang sudah ingin kuajukan sejak tadi. Tepatnya saat ice-skating. Aku pikir pertemuan dengan Cazzo selesai di Gigglebox, tapi dia malah mengajakku ice-skating. Mirip orang pacaran aja. (Dan tempat ice-skating-nya pun dipenuhi orang-orang pacaran!)

“Kan lo temen gue, sob!” Cazzo menoleh sebentar dari kemudinya, lalu nyengir ke arahku. “Abis gue nggak punya temen lagi sih yang bisa diajak main.”
“Cari pacar, kek?”
“Nggak, ah! Punya cewek tuh ngerepotin. Kesana kemari minta antar-jemput, kesana kemari minta jajanin.”

Aku mengernyitkan alis. “Well, nggak ada bedanya dong dengan ngajak aku jalan. I mean, sekarang kamu lagi nganterin aku pulang, padahal aku udah bilang aku bisa pulang naik taksi. Dan seharian ini kamu juga maksa biar kamu yang bayar semuanya. Padahal aku juga bawa uang, kok.”

Cazzo terdiam.


PART 23


“I-itu... itu lain, Gas. Gue kan cuma pengen ngenalin lo sama kota ini. Lo dari Kanada, kan?”
“Amerika.”
“Nah, itu maksud gue!”

—sya cinta si zaenab kok, bos! Dia tuh seksi. Bibirnya menggoda. Toketnya itu, wuih.. kalo diremes2 rasanya empuk, bos. Kyak bantal sofa d rumah nenek. Rambutnya jg wangi. De best, lah. Bos jg pasti jatuh cinta!—

—itu sih bukan jatuh cinta. Itu namanya nafsu semata!—


“Lo sendiri, kenapa lo mau hangout ama gue?” tanya Cazzo, giliran dia yang menginterogasiku.
“Jelas, lah. Karena aku nggak punya temen lain. Nggak mungkin aku temenan ama Esel. I mean, di sekolah aja sampe ada grup yang pengen musnahin si Esel dan kawan-kawan. Itu artinya si Esel parah, kan? Berhubung cuma kamu anak CIS yang ngajak aku hangout, ya udah kenapa ditolak.”

Cazzo terpana. Kami baru saja melewati persimpangan tanpa rambu lalu lintas. “Tapi kan gue baru didepak dari Mahobia. Orang lain justru jijik ngelihat gue karena gue bukan anggota Mahobia lagi. Orang yang dikeluarin dari Mahobia itu statusnya langsung turun.”

Aku mendesah. “Aduh, sorry, ya. Aku nggak temenan karena status. Orang miskin atau orang kampungan pun boleh jadi temen aku. Kecuali Esel, ya. Dia itu pengecualian. Karena dia tuh semacam... kuman. Nggak cocok dijadiin teman.”
Cazzo tertawa mendengar ungkapanku.

—emang cinta tuh kayak gimana, bos?—

—cinta tuh ga butuh toket empuk, bibir menggoda, atau rambut yg wangi. Itu sih perasaan yang alamiah muncul dr dalem, ga bisa dibentuk2. Cinta tuh rela ngelihatin se2org dr jauh demi bsa ngliat org itu, ga peduli si orgnya bakal ngeh atau ga. Cinta tuh mikirin terus si orangnya d dalem kepala, lg makan lg bobo lg kerja, psti dipikirin terus. Bsa ketemu aja rasanya seneng banget. Apalagi klo ngbrol. Sampe2 qta nulis nama org itu wktu lg belajar, atau malah ngejadiin namanya password facebook. Kyak gitu, lah—


Well, sebetulnya itu hanya perasaan yang aku rasakan waktu naksir seorang cowok di New Jersey. Tapi maksudnya sama aja, kan? Cinta juga seperti itu, kan? Mungkin yang aku rasakan waktu itu hanya cinta monyet. But still, it is some kind of love.

“Smsan ama siapa, sih?” tanya Cazzo, dengan nada cemburu.
“Sama temen.”
“Katanya nggak punya temen lain!”
“Emangnya temen aku cuma kamu doang? Aku juga punya orang lain yang jadi temen aku.”

“Ih! Tapi barusan bilangnya nggak punya temen lain!”
“Lho, itu kan cuma ungkapan. Itu artinya, temenku nggak begitu banyak. Tapi bukan berarti aku nggak punya temen sama sekali. Aku punya beberapa temen kok di kelas Biologi.. atau Fisika. Atau kelas-kelas lain juga. Aku kan—“

“Cowok, cewek?” sela Cazzo. Dia menoleh sekilas ke arahku dengan tatapan tajam.
“Apa?”
“Cowok atau cewek?” Rahangnya mengeras. “Yang barusan smsan sama lo.”
“Cowok!” Aku melongo nggak percaya. Bisa-bisanya orang ini sampe nanyain gender orang yang smsan denganku barusan. “Wuzzup with the gender, dude?

“Tuh, kan! Entar gimana kalo lo lebih seneng main sama dia?” seru Cazzo kesal.
“Aku nggak bakal gitu, kok. Nggak mungkin aku—“

“Anak CIS, bukan?” selanya lagi.
Aku mengernyit. Makin nggak percaya dengan pertanyaan-pertanyaan Cazzo. “Dia bukan anak CIS. Malah kayaknya dia nggak lulus SD. Dia itu temennya kakakku! Kenapa sih, kamu?”

“Oh...” Cazzo terlihat lebih lega. “Gue pikir...” Dia mengedikkan kepala, bermaksud menyampaikan sesuatu. Tapi nggak jadi.

Belum juga aku bertanya maksudnya apa heboh barusan mempermasalahkan siapa yang smsan denganku, mobil Cazzo sudah tiba di depan komplek rumahku. Mobil ini menepi. Agak jauh sih dari gerbang. Cukup jauh malah. Cazzo menghentikannya di depan warung tenda nasi goreng yang ramai, yang terang, dan banyak orang. Dan mungkin pedagang nasi goreng itu mengira kami mau mengunjungi warungnya.

“Kok, di sini? Kamu mau makan nasi goreng dulu?”
“Nggak, kok. Kan seperti janji gue tadi, gue cuma mau nganterin sampe gerbang aja. Amit-amit kalo sampe masuk komplek.”
“Tapi gerbangnya kan di sana!”
“Sama aja!”

Sialan.

Aku melepaskan seatbelt dan bersiap turun. Cazzo ini kalo udah menyebalkan emang kelihatan cute. But nyebelin still nyebelin. Nothing great in it.

“Selamat nyetir sendirian deh,” ejekku, membalas perbuatan Cazzo yang mengantarkanku jauh dari gerbang. Tahu gitu aku naik taksi dari tadi. “Mudah-mudahan nggak ada kuntilanak yang nebeng sampe Padalarang.”

Grab!
Tiba-tiba tangan Cazzo menggenggam lenganku, tepat saat aku mau turun dari mobil.

“Kenapa lagi sih?”
Aku menoleh ke arahnya, dan dia kelihatan ketakutan sekarang. Wajahnya pucat.

“Lo jangan gitu, dong!” bisiknya, sambil merinding. “G-gue jadi takut nih pulang sendirian.”
“Ya maaf... aku cuma bercanda barusan. Sekarang lepasin tangan aku.”

Cazzo menggeleng-geleng kecil sambil bergetar. Matanya lirik kanan kiri, waspada, kalau-kalau ada kuntilanak muncul dari dalam mobilnya.

“Astaga Cazzo... aku cuma bercanda barusan. Nggak bakal ada kunti yang nebeng, kok. Tenang aja. Aku bohong barusan.”
“Gimana kalo bener?!”
Cazzo menarik tanganku ke dalam, dan aku terpaksa duduk lagi di jok depan.

“Nggak! Aku jamin nggak bakal ada kunti yang nebeng.” Aku menarik tangan Cazzo dari lenganku, tapi cowok itu menggenggamnya terlalu kuat. “Lepasin, dong. Aku mau pulang nih!”
“Jangan tinggalin gue sendiri dong...”

Dan Cazzo pun memberikan tatapan memelas itu.

“Terus mesti gimana? Aku nganterin kamu pulang ke rumah, gitu?”
“Wah! Ide bagus, tuh!” Dia kelihatan berbinar.
“Enak aja! Entar aku pulangnya gimana?”
“Nginep aja, sob!”

Sial!
Aku mengutuk diriku sendiri karena ngomong soal kunti tadi.

No. Way.” Aku menarik lagi tanganku biar lepas, tapi Cazzo sekarang malah menggenggamnya dengan kedua tangannya.
Please...”

“Aku nggak bisa nginep, Cazzo. Aku mesti pulang. Aku udah janji sama Granny buat pulang. Ini udah jam...” Aku mengeluarkan ponsel. “Jam sebelas?!”
“Tuh, kan!” seru Cazzo ketakutan. “Si Tante pasti keliaran jam segini... temenin gue pulang dooong...”

Aku dan Cazzo kemudian berdebat selama sekitar... tiga puluh menit. Sampai-sampai pedagang nasi goreng itu menghampiri kami. Aku kira dia mau mencoba melerai dan menolongku lepas dari Cazzo. Ternyata dia menawarkan nasi goreng dan kwetiaw.

“Ya udah, gini aja,” sahut Cazzo, setelah kami berdebat sengit. “Lo anterin gue pulang, udah gitu gue pesenin taksi buat lo pulang dari rumah gue ke rumah lo. Ongkos taksinya gue yang bayar. Tapi lo mesti nemenin gue pulang sampe rumah!”

“Apa?!” Aku melongo tak percaya. “For God’s sake! Rumah aku tinggal beberapa ratus meter dari sini, ngapain aku ke rumah kamu dulu?”
“Tapi rumah gue masih jauh! Dan gara-gara lo gue jadi keingetan soal si Tante!”

Sial, sial, sial, sial!

-XxX-


Mau tahu gimana endingnya? Akhirnya aku setuju sama idenya Cazzo. Aku nemenin dia pulang ke rumah, dan dia janji memesankan taksi untukku, dan dia yang membayar taksi tersebut, demi membayar kesalahanku karena ngungkit-ngungkit soal kuntilanak.

At least aku belajar untuk nggak nyebutin soal hantu kalo lagi bareng Cazzo. Bisa-bisa dia nempel terus sama aku.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Cazzo, tangan kiri cowok itu nggak pernah lepas dari lenganku. Dia teruuus menggenggamnya. Bahkan saat ganti persneling, dia tetap menggenggam lenganku.

“Lepasin aja, kali. Aku nggak akan kemana-mana. Jadi repot tuh mau ganti gear...” sahutku.
No way!” balas Cazzo mantap. “Gimana coba kalo pas gue lepasin tangan lo, gue ganti gigi, terus pas gue pegang tangan lo lagi, eeeeh ternyata tangan kuntilanak, hmh?”
“Gue orang. Bukan kuntilanak. Dan di sini nggak ada kuntilanak.”
“Eh, siapa tau dia ngumpet di jok belakang!”

Dan Cazzo jadi merinding sendiri.
Yang barusan salah dia sendiri, ya. Aku nggak ikut campur.

Aku tiba di rumahku sendiri sekitar pukul setengah satu malam. Singkatnya sih semua berjalan sesuai rencana. Begitu sampai di rumah Cazzo, taksi yang sudah dipesan sejak kami masih di Bandung, sudah nongkrong di depan rumah Cazzo. Cazzo mengeluarkan uang dua ratus ribu ke si sopir, entah cukup entah kurang. Dan tanpa basa-basi aku buru-buru naik taksi ke rumah. Aku takut Cazzo berubah pikiran dan malah memaksaku menginap di rumahnya. Nggak deh, ya. Tidur bareng cowok ganteng lagi? Aku bisa gila. Dan khusus si Cazzo ini, ganteng nggak ganteng tetep bisa bikin gila...

Ketika aku tiba di rumah Granny, pintu depan terkunci. Rumah pun terlihat gelap dari luar, seperti nggak ada tanda-tanda kehidupan. Beginikah suasana rumah Granny dari luar di malam hari? Ya Tuhan. Sekarang aku juga jadi merinding. Bagaimana kalau si Kunti sedang duduk-duduk di atap rumah lalu terganggu karena aku dari tadi mengetuk pintu dengan keras.

“Granny! Di mana? Kenapa pintu nggak dibuka?” kataku saat telepon dariku diangkat Granny.
“Oh, Darling... Nenek lagi di rumah Jeng Nunuk. Lagi sleepover. Kita-kita di sini lagi rapat, ngebahas program Gadis Matic bulan depan.”
“Terus aku gimana dong?”
“Kunci ada di bawah pot Daun Kuping Gajah.”

Aku membungkuk mengambil kunci di bawah pot. Untung aku tahu yang mana Kuping Gajah tuh. Kapan itu Granny bilang soal bunga Vijaya Kusuma, aku nggak tahu bunganya yang mana.

Eh, wait.
“Jadi aku di rumah sendiri, Granny?”
“Iya, Darling. Atau kamu mau gabung sleepover di sini? Jeng Nunuk pesan McD, lho. 14045.”
“Eh, nggak usah. Aku di rumah aja sendiri.”

Tapi aku nggak bisa membayangkan berada di rumah Belanda macam begini. Dengan suasana suram di mana-mana. Tirai-tirai putih mirip gaun kuntilanak. Lalu ruang-ruang terkunci yang dirahasiakan Granny... eh, tunggu. Mungkin mumpung nggak ada Granny aku bisa menyelinap masuk ke ruang-ruang rahasia itu! Sudah sejak kapan aku penasaran dengan ruang-ruang itu. Mudah-mudahan Granny menyimpan kuncinya di laci samping tempat tidurnya.

“Kalau mau, kamu bisa minta temenin si Dicky, Darling...” kata Granny, setelah tertawa terbahak-bahak dengan Jeng Nunuk soal saus yang tumpah di piyama Jeng Novi. “Nenek teleponin si Dicky.”

“Eh, nggak usah, Granny. Sendirian juga nggak apa-apa.” Aku membuka kunci pintu, lalu disambut ruang tamu yang gelap, suram, dan menyeramkan. Tinggal ditambah pocong berdiri di samping lampu meja maka rumah ini cocok jadi lokasi syuting film horor. “Tapi boleh, deh.” Aku berubah pikiran. “Granny tolong panggilin Bang Dicky ya buat nemenin aku.”

“Oke-oke... Eh, Jeng Sinta... itu maskaranya kebanyakan! Sedikit aja...”
Astaga. Sebenernya program apa yang mereka bahas, sih?

“Emang Bang Dicky ada di mana, Granny?” Aku buru-buru menyalakan lampu ruang tamu. Dan ruang tengah. Dan dapur. Semua lampu di rumah aku nyalakan, sebelum pocong yang tadi sempat aku bayangkan benar-benar muncul.

“Dicky seperti biasa ada urusan, Sayank... mungkin ke Cimahi lagi. Nah, gitu Jeng Sinta. Sini saya bantuin maskara yang kirinya...”

Selesai menelepon Granny, aku buru-buru mandi. Aku memanaskan air, menyalakan teve biar nggak kesepian, dan bahkan memutar piringan hitam yang ada di ruang tengah. Aku mengambil piringan hitam paling atas, lagunya Wieteke van Dort (entah siapa, ya..) dengan judul Hello Bandung. Aku sudah diajari Granny bagaimana menggunakannya. Gampang, kok... hanya tinggal masukkan seperti ini... lalu pindahkan ini... lalu... tuh... sudah mulai...

:hear music:...‘t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor...
:hear music:

Oke. Lupakan.
Hal terakhir yang ingin kulakukan di dalam rumah bergaya Belanda yang kosong adalah memutar piringan hitam lagu-lagu klasik Belanda yang mengingatkanmu pada penjajahan Belanda di Indonesia puluhan tahun lalu.

Dan suaranya yang klasik itu membuatku membayangkan adanya orang-orang Eropa di ruang tengah ini, dengan kostum medieval, berdansa, berkulit pucat, berambut keriting, wanitanya menggenggam kipas bulu-bulu, dan ternyata mereka semua melayang...

No way.
Aku nggak mau apa yang terjadi di Insidious juga terjadi di rumah ini.

Aku mematikan piringan hitam itu dan akhirnya memutar lagu Michael Buble keras-keras melalui ponselku yang digantung di dekat panci-panci, supaya kedengaran sampai kamar mandi.

Sepanjang mandi dengan air hangat, aku bersyukur di sini nggak ada shower seperti di film-film horror. Tak henti-henti aku membayangkan bakal muncul tangan dari kepalaku waktu aku keramas. Atau tiba-tiba ada kuntilanak ikut mandi! Atau di dalam bathub yang udah nggak berfungsi itu muncul sesosok anak kecil keturunan Eropa, dengan kulit pucat, mata bulat, kaki melayang, dan... sebaiknya aku nggak perlu mengunci pintu kamar mandi—kalau-kalau aku butuh akses untuk kabur. Dan sebaiknya handuk diletakkan di sini saja deh—kalau memang aku bakalan kabur.

PART 24


Krriieettt... kreeeeetttt...

Pagar depan rumah ada yang membuka. Memangnya nggak dikunci, ya?
Oh, aku memang belum menguncinya.

Rrrrrmmmmmm.... rrrrmmmmmm...

Suara mobil. Siapa itu? Bang Dicky?

Aku membasuh semua busa yang bergantung di sekujur tubuhku. Sengaja pula aku menumpahkan air ke badanku dengan berisik, berharap Bang Dicky bisa notice bahwa aku sedang mandi. Ketika kudengar pintu depan terbuka, aku sedang mengeringkan tubuhku dengan handuk. Dalam tempo singkat, aku melompat keluar sambil menghampiri ruang tengah.

Thank God. Itu memang Bang Dicky.

“Bang?”

Bang Dicky menoleh. Tapi ketika melihatku setengah telanjang, hanya dibalut handuk putih saja, dia langsung salah tingkah dan berbalik, membuang pandangannya ke arah lain.
“Owh... Gas... ka-katanya... katanya sendirian di sini?”

“Iya, Bang. Granny sleepover lagi. Bang Dicky dari mana?”
“Dari... itu... anu, ngng... biasa, lah...”

Kenapa sih, dia?
Apa dia malu melihat aku telanjang begini? Setahuku Zaki sering mengantarkan kayu sambil bertelanjang dada, dan Bang Dicky kelihatan biasa-biasa aja.

“Aku pake baju dulu, ya?”
“Oke!” sahut Bang Dicky, mengelus-elus tengkuknya dan masih enggan berbalik ke arahku.

Ada apa sih?

-XxX-

Sebetulnya aku agak menyesal nggak nerima tawaran Cazzo untuk menginap di rumahnya. I mean, Granny sleepover dan rumah kosong. Satu-satunya orang yang menemaniku tidur malam ini adalah Bang Dicky, orang yang kalau tidur cuma pake celana dalam doang. Kondisi macam begini suka bikin aku susah tidur. Kapan ya terakhir kali aku onani? Aku takut semua spermaku sudah menunggu di boarding gate dan siap meluncur kapan saja. Dengan adanya Bang Dicky tujuh per delapan telanjang bisa membuat sperma-sperma itu melompat malam ini.

At least kalo aku menginap di rumah Cazzo, aku bakal terganggu dengan annoying attitude-nya dia.

“Semua udah dikunci.” Bang Dicky menghambur masuk ke dalam kamar dan mulai melepaskan kausnya. Aku menatap lagi tatonya... punggungnya yang mulus... lekukan garis tengah punggungnya yang menawan... otot-otot lengan yang membentuk itu... eh, maksudku. Aku menatap tatonya! Tato burung itu, kok!

“Tapi kok lampunya masih pada nyala?”
“Nggak apa-apa, lah... biar... biar terang!”

Oh, iya. Aku hampir lupa kalau Bang Dicky nggak begitu suka tempat gelap.

Bang Dicky menyampirkan kausnya di kursi belajarku. Lalu dia membuka celana jins-nya, dan hanya menyisakan celana dalam abu-abu yang mungil. Astaga... kenapa dia memakai itu, sih? Itu kan seksi banget!

Bedanya Zaki dengan Bang Dicky adalah aku nggak bakal melewatkan kesempatan sedikitpun untuk curi-curi pandang ke tubuh telanjang Zaki. Tapi kalau Bang Dicky yang telanjang—itupun masih mengenakan celana dalam—aku jadi salah tingkah. Banyak sekali pandanganku yang dibuang ke sana kemari, meski sebetulnya aku ingin menatap lekukan-lekukan maskulin itu, tapi entah kenapa rasanya malu... rasanya... nggak pantas. Terlalu indah.

“Agas pulang jam berapa tadi?”
Bang Dicky menghampiriku dengan santai.
Dan mataku sebisa mungkin nggak menatap bulu-bulu di bawah pusarnya yang terus tumbuh ke bawah, hilang di balik celana dalam abu-abunya.

“Se-setengah satu, Bang!”
Bang Dicky mengernyit. “Malem amat! Ngapain aja?” Dia terdengar posesif dan geram sekarang. Tangannya berkacak pinggang di hadapanku.
“Main, dong. Kayak anak muda yang lain...”

Oke, Agas, jangan memperhatikan puting susu yang menggiurkan itu. Dan jangan pula terpesona oleh rambut-rambut ketiak Bang Dicky yang menggantung cukup lebat itu.

“Tapi itu keterlaluan!” Bang Dicky mendengus. “Gimana coba kalo Agas diculik genk motor, hmh? Gimana coba kalo Agas diperkosa di angkot? Sekarang tuh lagi ngetrend diperkosa di angkot. Bahaya Gas main malem-malem di kota ini mah!”

“Aku nggak naik angkot, kok!” bantahku. “And technically, aku tinggal bareng anggota genk motor. Apa bedanya?”
“Nenek sih nggak bisa dimasukin kategori genk motor. Nenek mah termasuk genk... matic.”

Ya Tuhan... lihat bahunya yang lebar itu!

“Agas jangan pulang malem-malem lagi, ya?” Bang Dicky mengernyit serius, dia juga mulai menyibakkan selimut dan naik ke atas ranjang. “Jangan bikin Dicky kehilangan orang yang Dicky sayang lagi.”

“Eh, emangnya siapa?”
Tiba-tiba aku lupa sama semua hasrat seksualku akan Bang Dicky, dan kini aku lebih tertarik dengan rasa penasaranku.

“Bukan siapa-siapa.” Bang Dicky merebahkan kepalanya di atas bantal dan melempar pandangan ke arah lain. “Met malem Agas.”

Kenapa sih dia?

“Cerita dong!” Aku menggoyang-goyangkan bahunya yang keras itu.
“Udah malem, Gas. Besok lagi aja...” Kemudian buru-buru meralat. “Kalo inget...” Dan meralat lagi. “Kalo nggak ujan, ya.”

Apa sih?

“Ah, nggak mau! Sekarang!” Aku menggoyang-goyangkan bahunya, bahkan menarik kepalanya agar menoleh ke arahku. “Ayo ceritain, atau kalau nggak, aku nggak akan bobo nih!”
“Ah, terserah!” Bang Dicky nyengir lalu menutup matanya.
Sial.

“Bang Dicky bangun!” Aku menepuk-nepuk pipinya. “Ayo cerita dulu!”
Tapi cowok itu bergeming. Pendiriannya kuat sekali untuk nggak membocorkan rahasia dirinya. Aku sih kalau sudah memberikan “clue-statement” macam barusan, pasti langsung nyerocos detail rahasia yang aku simpan.

“Iiih... bangun!” Aku mencubit puting susunya. Bang Dicky bergidik tapi lalu menghalau tanganku dan memunggungiku. Kurang ajar!

Aku memukul-mukul punggungnya dengan lembut. “Bangun nggak?”
Bang Dicky menggeleng.
“Eeeh, pake ngegeleng segala lagi... ayo bangun! Ceritain, siapa yang Bang Dicky sayang tapi sekarang udah kehilangan?”

Dia bergeming. Tetap diam. Sialan!
Nah, kan. Sudah kubilang, aku menyesal nggak menginap di rumahnya Cazzo. At least cowok phobia hantu itu nggak akan membuatku penasaran macam begini.

-XxX-

Sampai pukul dua malam, aku masih belum tidur. Aku masih sibuk menerka-nerka siapa orang yang dimaksud Bang Dicky. Apakah itu mbak Lita? Atau orang lain? Misalnya keluarganya atau siapa gitu? Dan kenapa rasa khawatir ini muncul gara-gara aku pulang larut malam? Apakah “kehilangannya” ada hubungannya dengan pulang larut malam?

Jutaan pertanyaan terus menerus muncul di benakku. Aku bolak balik dengan gelisah. Dan saat aku membalik menghadap punggung Bang Dicky yang berdiri kokoh, aku jadi penasaran dengan tatonya. Kenapa gambarnya burung? Kenapa burungnya terkungkung? Siapa yang menggambar tato itu? Di mana di gambarnya? Apa Bang Dicky melepas bajunya waktu di tato tersebut? Oh, silly. Of course he’s shirtless!

Kadang pikiranku berkelana ke bahasan lain. Misalnya Zaki, soal kenapa dia nggak membalas sms-ku yang terakhir. Apakah dia sudah tidur? Atau justru sedang memikirkan siapa orang yang dicintainya sesuai dengan deskripsi cinta dariku? Atau mungkin sedang menusuk-nusukkan kanjut cengeknya ke Miss V cewek tetangganya? (Dan bisa jadi sambil direkam menggunakan kamera handphone...)

Zaki sebetulnya cowok yang lucu. Lucu dalam arti dua-duanya, ya: cute maupun funny. Dia penggila seks. Atau spesifiknya, dia penggila Mr. Happy. Bukan berarti dia gay atau apa. Tapi baginya (menurut kesimpulanku), Mr. Happy adalah benda paling menakjubkan di dunia. Bahkan kalau memilih antara melihat menara Eiffel secara langsung atau melihat alat kelamin cowok Slovakia yang jumbo-jumbo, dia pasti memilih yang kedua. Dan uniknya bukan karena dia punya hasrat tinggi untuk mengulum little jack-little jack itu. Tapi karena senang sekali dengan fungsi dan segala keajaibannya.

Meski Bang Dicky melarangku ketemu Zaki tanpa pengawasan darinya, jujur aja aku justru mencari kesempatan sebanyak mungkin untuk ketemu Zaki. Aku ingin bertanya lebih lanjut soal "larangan" tersebut. Apa faktor yang menyebabkannya? Emangnya apa yang dilakukannya sampai-sampai Bang Dicky begitu geramnya?

Apa karena Zaki eksibisionis yang senang memamerkan alat kelaminnya?
For God’s sake, aku justru bahagia bisa mengulum si Ucok tersebut.

Apa karena Zaki tukang pemerkosa di angkot?
Kalau iya, aku bakal mulai naik angkot nih besok-besok.

Honestly, Zaki buatku hanyalah orang yang agak tolol dan nggak berbahaya. Dia—

ZAP!

Astaga!
Barusan ada bayangan hitam lewat di jendela!
Kejadiannya persis seperti waktu itu, waktu pertama kali aku datang ke rumah ini!

Aku merasakan bulu kudukku merinding. Keringat dingin langsung membasahi perut dan punggungku. Nggak biasanya lho aku begini. Aku sering mendapat penampakan-penampakan selintas dari si Kunti, dan karena terlalu sering, aku jadi terbiasa. Tapi barusan benar-benar mengagetkan dan entah kenapa aku jadi ketakutan.

Jantungku berdegup sangat kencang. Hawa dingin tiba-tiba menyergap kulitku, membuat rambut-rambut kecil yang ada di lenganku berdiri.

Aku menggeser tubuhku mendekat ke arah Bang Dicky. Bahkan kutempelkan tubuhku di punggung kokoh Bang Dicky.

Sialan! Kenapa sih ketika suasana spooky begini aku belum tidur?!

Tiba-tiba kudengar suara gemeratak dari ruang tengah. Seperti suara gelas yang bergeser dengan berisik di atas meja kaca. Ya Tuhan ya Tuhan... ada apa ini...?

“Na na... na na na... na na... na na na...”

Sayup-sayup kudengar suara seseorang bersenandung. Seperti suara anak kecil. Anak kecil perempuan. Aku langsung meringkuk dan menarik selimutku lebih tinggi lagi. Suara itu timbul tenggelam, kadang kudengar kadang hilang. Tapi jelas sekali aku mendengar suara itu.

Inikah suara si Kunti?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar, tiba-tiba merasa ruangan ini begitu mencekam. Sudut langit-langit yang kupikir beberapa menit lalu terang, tiba-tiba menjadi remang-remang. And to make it worse, aku mendengar suara aneh lain.

Ngik... ngik... ngik...

Seperti suara rantai ayunan yang terayun-ayun sendiri. Suara rantai besi berkarat yang digerakkan perlahan-lahan.

Ngik... ngik..

Astaga... memangnya Granny punya ayunan, ya?
Atau salah satu tetangga Granny ada yang punya ayunan?
For God’s sake, kenapa pula aku membayangkan itu suara ayunan yang berayun-ayun sendiri tanpa ada yang menaiki?
Bisa saja kan itu suara microwave! Atau salah satu baut di kasurku, mungkin!

Ini semua pasti gara-gara acara uji nyali yang kutonton hari Kamis kemarin. Cazzo sialan! Dia secara nggak sengaja nyeritain acara teve di Indonesia yang menayangkan program uji nyali setiap Kamis pukul setengah dua belas malam. Aku, yang kebetulan belum tidur pada saat tersebut, sengaja menonton Masih Dunia Lain ditemani semangkuk mie rebus. Jujur aja acaranya garing, aku pikir bakal ada kuntilanak berlari-lari di sekitar kamera atau si pesertanya kesurupan atau apa gitu biar heboh, tapi entah kenapa aku nggak bisa melupakan soundtrack-soundtrack yang diputar dalam acara tersebut.

Dan sialnya, soundtrack-soundtrack menyeramkan itu tiba-tiba kuingat dengan jelas saat ini. Saat kamarku sedang mencekam macam begini.

Di tengah-tengah perasaan takutku, tiba-tiba kulihat sesuatu bergerak dari atas lemariku. Kali ini penampakannya jelas. Si Kunti udah nggak mau sembunyi-sembunyi lagi! Jantungku nyaris copot waktu melihatnya... dan aku membeku... menggigil... bahkan aku maklum waktu Cazzo ngompol di atas kasurku minggu lalu... I mean, mendapat penampakan macam begitu sih, semua orang pasti mati ketakutan!

Lemari yang ada di kamarku terbuat dari kayu jati gelap yang berat. Lemari itu menjulang tinggi. Di bagian atasnya kuletakkan koperku, karena somehow aku sudah selesai membereskan semua pakaianku ke dalam lemari. Nah, di atas lemari itu, ada yang sedang duduk-duduk. Tubuh dan wajahnya nggak kelihatan karena tertutup koper. Yang kelihatan hanya... kakinya.

Sepasang kaki pucat berayun-ayun dari tepi atas lemari. Kaki itu ditutupi rok panjang putih yang transparan. Secara bersamaan, kaki itu bergerak maju mundur, berayun-ayun dengan riang...

Aku menarik selimutku sampai menutupi hidung. Badanku menggigil, aku ketakutan. Dengan gerakan sekecil mungkin, aku menggoyang-goyang tubuh Bang Dicky, berharap cowok itu bangun dan membuat si Kunti kabur. Tapi Bang Dicky hanya diam... seperti mati.

"... Cang uncang angge... mulung muncang di parangge..."


Sialan! Si Kunti mulai bernyanyi!

Sambil mengayunkan kakinya itu, makhluk tersebut menyenandungkan lagu Sunda yang tak kumengerti. Suaranya sendu dan bergaung. Dan kadang-kadang suara ngik-ngik-ngik itu muncul lagi seiring ayunan kaki si Kunti.

"... digogog ku anjing gede... anjing gede nu pa lebe..."

Suaranya yang mendayu-dayu itu membuatku ketakutan. Aku gemetaran. Rasanya seperti... seperti... ingin pipis.

"Ari gog... gog cungunguk... hihihihihihi.... hiiiiihihihi...."

Lagu sunda itu selesai, diakhiri dengan tawa melengking dari si Kunti. Tapi kaki itu masih berayun-ayun juga, nggak ada tanda-tanda bakal berhenti atau apa gitu, mengganti posisi misalnya. Aku sekarang ketakutan... jangan-jangan setelah lagunya selesai, lalu si Kunti berdiri, dan dia menunjukkan wajahnya dari balik koperku.

Ya Tuhan ya Tuhan ya Tuhan...
PART 25


Aku menggoyang-goyang tubuh Bang Dicky, mendorong-dorong punggungnya sampai cowok itu terbangun. Thanks God, akhirnya terbangun juga. Bang Dicky tersentak dari tidurnya, mengangkat kepala setengah sadar, lalu buru-buru menoleh ke arahku.

“Kenapa, Gas?” Dia menyipit-nyipitkan mata, mencoba beradaptasi dengan lampu kamar yang terang.
“Aku mau pipis!” bisikku.

Bang Dicky mengernyit. “Pipis aja... Nggak ada yang ngelarang.”
“Ih, temenin!” Sesekali aku melirik ke arah lemari, barangkali si Kunti mendengar pembicaraan kami atau apa gitu.
“Lho, Agas kan udah gede, kenapa minta ditemenin?”
“Barusan ada si Kunti. Aku takut! Jadi temenin...”

Bang Dicky langsung tergugah. Dia langsung bangun dan menatap ke setiap sudut ruangan. Matanya awas sekali, seolah mencari mangsa. Sementara aku, di sampingnya, terpesona dengan bau maskulin yang dihasilkan Bang Dicky setelah tidur. Dan tentunya otot-otot lengannya itu...

Astaga... betapa sex-stuffs bisa langsung membuat seseorang lupa akan mystic-stuffs dalam sekejap!

“Di mana si Kuntinya?”
Bang Dicky memang berhasrat sekali ingin ketemu si Kunti. Kelihatannya, satu-satunya orang di kota ini yang belum pernah melihat si Kunti, hanyalah Bang Dicky.

“Tadi sih di lemari...”

Bang Dicky langsung turun, menghampiri lemari dan membukanya. Aku, di atas ranjang, terpesona oleh pipi pantatnya yang dibalut celana dalam abu-abu bergerak empuk seperti agar-agar yang bergetar.

“Anterin aku pipis, Bang!” kataku.

Bang Dicky menatap terakhir kali ke arah lemari, lalu menoleh ke arahku, lebih santai dan rileks (tatapan memburunya sudah hilang). Tapi dia masih tetap menanyakannya. “Kapan Agas ngelihat si Kunti?”

“Barusan sih... sebelum Bang Dicky bangun...” Aku turun dari kasur, agak takut mendekati lemari karena bayangan kaki-kaki pucat yang berayun-ayun itu masih terekam dengan jelas. “Yuk, cepetan!”

Aku menarik Bang Dicky keluar dari kamar. Dia masih tujuh per delapan telanjang, kok. Tapi dia nggak keberatan. Lagipula aku sama sekali nggak mikirin soal dia yang cuma pake kancut doang dari kamar ke kamar mandi.

Aku berjalan di depan Bang Dicky... kemudian tiba-tiba membayangkan bisa saja muncul Kunti ketika aku memasuki dapur.

“Eh, bentar, aku di belakang, deh!” Aku pindah ke balik punggung Bang Dicky. “Takutnya entar ada Kunti yang nongol di situ.”

Bang Dicky geleng-geleng kepala dan kami berjalan lagi.

Tapi, tunggu... gimana kalo si Kunti justru mengekori kami dari belakang?

“Eh, aku di pinggir aja. Tapi aku yang jalan di deket tembok. Sini Bang Dicky-nya.” Aku mengatur-ngatur posisi perjalanan kami dan sepanjang menyusuri lorong menuju kamar mandi, aku terus meraba dinding.

Pengalaman bertemu si Kunti rupanya bukan pengalaman menyenangkan. Aku pikir aku sudah begitu terbiasa dengan hantu yang satu ini. I mean, aku melihat selebat-selebat bayangannya setiap hari. Tapi ketika dia menunjukkan kakinya.. (baru kakinya!) aku nyaris mati berdiri...

Sumpah deh, sekarang aku tahu alasan kenapa tokoh-tokoh film horror berteriak waktu sang kuntilanak muncul. Dan bahkan phobia Cazzo ke hantu pun jadi masuk akal. Jadi sesuatu hal yang wajar.

“Emang ngapain kuntinya?” tanya Bang Dicky.

Aku menjelaskan dengan singkat apa yang kualami beberapa menit lalu. Aku juga menjelaskan soal lagu Sunda tersebut, tapi karena aku sedang ketakutan, aku nggak ingat bagaimana lirik lagu itu.

Kebetulan juga, kami sudah sampai di kamar mandi sekarang.

“Bang Dicky tungguin di sini, ya?” kataku.
“Iya. Dicky tunggu di luar.”
“Eh, bukan...” rengekku. “Di dalem. Aku takut, Bang... masih trauma nih...”

Bang Dicky tiba-tiba memerah. Dia jadi salah tingkah dan lagi-lagi melempar pandang ke arah lain sambil mengusap-usap tengkuknya. “Nggak apa-apa, kok... Dicky tunggu di sini aja... pintunya dibukain...”

“Nggak!” paksaku rewel. Aku lagi nggak mau jauh-jauh dari manusia, ya. Siapapun itu, bahkan meski itu Esel, akan kupaksa masuk ke dalam kamar mandi.

Aku menarik tangan Bang Dicky sampai cowok itu masuk. “Pokoknya Bang Dicky tunggu di sini.” Lalu aku membuka celana dan mengarahkan pipisku ke toilet.

It isn’t the best moment, though. Satu tanganku memegang tangan Bang Dicky, satu tanganku mencoba mengarahkan pipis tetap pada jalurnya. Sempat aku merasa canggung, tapi begitu ingat kaki si Kunti tadi, aku langsung membuang jauh-jauh perasaan canggung itu. Yang penting malam ini aku selamat.

Sampai sekarang aku masih nggak ngerti kenapa malam ini aku harus melihat penampakan itu? Kenapa saat aku belum tidur penampakan itu muncul dengan jelas? Kenapa tepat pada pukul 2 dini hari? Kenapa mengayun-ayunkan kaki dan bernyanyi? Oh, benar-benar deh. Para hantu itu tahu gimana caranya membunuh orang tanpa harus menyentuhnya—hanya perlu membuat manusia-manusia ini jantungnya copot.

Kemungkinan besar, selama beberapa hari ke depan, aku bakal agak menjauh dari lemariku sendiri. Mungkin aku perlu mengeluarkan beberapa pakaian untuk persediaan selama beberapa hari. Hal ini benar-benar traumatis.

Astaga. Kenapa pipisku lama sekali sih? Emangnya hari ini aku minum air berapa liter?

Aku menggenggam tangan Bang Dicky lebih erat. Pandanganku kemudian tertuju ke bathub yang penuh air di sebelah kanan. Bathub itu udah nggak bisa dipake berendam. Tapi Granny mengisinya dengan air sampai penuh, seolah-olah itu bak mandi di rumah-rumah biasa.

Ya Tuhan... jangan sampai keluar kuntilanak juga dari situ, oke? Aku nggak bisa menghadapi lagi penampakan lain malam ini. Apalagi dalam otakku sekarang ada bayangan tentang rambut hitam panjang yang mengapung di permukaan bathub... lalu muncul kepala berwajah seram—

Eh, tunggu. Bang Dicky tiba-tiba meremas genggaman tanganku dengan kuat.

Aku menoleh seketika dan menemukan Bang Dicky setengah tertidur. Matanya sih tertutup, tapi dia berdiri dengan tegak meski agak sempoyongan... kenapa Bang Dicky? Masa sih dia tertidur? Aku kan baru meninggalkannya selama sepuluh detik saja... atau dua puluh...

Aku mengernyit menatap wajah Bang Dicky. Sesuatu muncul dari ujung matanya dan meluncur ke bawah melewati matanya.

Air mata?


Bang Dicky mendekat dan merangkulku dari belakang. Dia seperti orang kesurupan. Tubuhku dipeluknya dengan erat (dan sebagian pipisku ada yang jatuh kesana kemari karena aku kaget). Kedua lengannya yang besar mendekap dadaku. Hidungnya tahu-tahu sudah menyusuri tengkukku, menggelitikku dengan hembusan napasnya. Bang Dicky mengendus kulit leherku kemudian mendekap lebih erat lagi.

“Bang Dicky?” bisikku.

Bang Dicky semakin meremas tanganku dengan erat. Beberapa saat kemudian akhirnya dia berkata...

“Jangan khawatir, Dicky ada di sini...” Bang Dicky lalu menangis. “Dicky tetep sayang Dennis.”

-XxX-

Seumur-umur aku hidup, orang bernama Dennis yang kutemui semuanya laki-laki. Ada Dennis Griffin dari Portland, ada Dennis Well yang kutemui di facebook, Dennis The Menace kartun favoritku, dan waktu aku gemar-gemarnya mendownload film-film telenovela Filipina, aku ngefans dengan yang namanya Dennis Trillo.

Mungkin ada kok cewek yang namanya Dennis. Bisa jadi Dennis Spears, Dennis Aguilera, Dennis Gaga, atau apapun, karena Dennis kedengarannya unisex. But in the end, kayaknya nggak penting juga ngebahas gendernya apa. Yang jadi main issue-nya kan, siapakah si Dennis yang dibicarakan Bang Dicky semalam?

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan menemukan Bang Dicky lenyap dari sampingku di tempat tidur. Ketika aku memasuki ruang makan, semua sarapan lengkap telah tersedia—dan seperti biasa, sarapannya ala kerajaan. (Astaga... memangnya Granny nggak bakal bangkrut, ya?)

Aku duduk di sana dan memutuskan untuk menghabiskan corn soup with chicken ini sambil santai-santai. Dengan wajah terpana, otakku langsung replay ke kejadian-kejadian yang kualami semalam.

Jujur aja, melihat penampakan emang the worst thing ever happened to me. Tapi aku juga belajar bahwa apapun yang berbau mistis bisa dihalau dengan apapun yang berbau seks. Seperti kapan itu aku merinding karena kupikir ada si Kunti di kamarku, tapi begitu aku nonton video por-no gay dari BelAmi, tiba-tiba saja aku lupa urusan si Kunti.

Tapi ternyata apapun yang berbau seks bisa dihalau juga dengan hal lain, yaitu: misteri.

Misteri Bang Dicky sampai saat ini masih merongrong rasa penasaranku. Banyak sekali hal-hal tak terduga yang kutemukan dari Bang Dicky, tapi sialnya aku sama sekali nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seolah Bang Dicky hanya meninggalkan clue, tapi sama sekali nggak menunjukkan jalan menuju jawaban sebenernya.

Bayangin aja, apa maksudnya tiba-tiba memelukku saat pipis, lalu berkata, “Dicky sayang sama Dennis” ???
Pasti ada sesuatu, kan?

Kemungkinannya cuma dua. Satu, Bang Dicky kesurupan—misalnya si Kunti jahil nyebut-nyebut nama Dennis biar aku penasaran. Dua, memang ada orang bernama Dennis di dunia ini yang disayangi Bang Dicky, yang kemudian teringat lagi oleh Bang Dicky gara-gara aku pipis atau gimana gitu. Dennis ini bisa jadi adiknya, kakaknya, sahabatnya, sepupunya, atau artis idolanya, pokoknya bisa siapa saja.

Awalnya aku mau masukkan kemungkinan ketiga, bisa jadi Dennis adalah pacar Bang Dicky. Bisa jadi memang benar apa kata Cazzo bahwa Bang Dicky adalah gay. Bisa jadi faktor yang membuat pernikahannya batal adalah Mbak Lita tahu bahwa orientasi seksual Bang Dicky bukan seperti kebanyakan. Bisa jadi pahatan cupid di frame-nya itu adalah ekspresi ke-gay-annya... I mean, semua parade gay di Brazil rata-rata model cowoknya mengenakan kain putih tipis dan sayap malaikat saja, kan? Mirip cupid, kan? Lagipula, di mana sih ada cowok “straight” yang mau-maunya memahat cupid untuk frame pertamanya?

Tapi aku nggak mau berpikiran negatif macam begitu. For God’s sake, aku ini cowok. Nggak seganteng artis Hollywood, tapi tetap cowok. Kalau iya Bang Dicky gay, dari awal mestinya dia merkosa aku kalau tidur bareng. Mestinya dia meraba-raba tubuhku waktu aku tidur atau at least mendekapku saat tidur. Kenapa malah cowok straight kanjut cengek macam Zaki yang hobi memintaku mengulum little jack-nya?

Oh, Tuhan...
Mungkin aku mesti menanyakannya selewat atau gimana gitu sama Bang Dicky.

Semalam setelah dia mendekapku dengan erat, dan pipisku selesai, lalu aku memanggil-manggil nama Bang Dicky berjuta-juta kali, Bang Dicky akhirnya terbangun sambil mengusap wajahnya. Dia sama sekali nggak sadar dia sedang mendekapku sampai sesak. Dia malah mengucek matanya dan bertanya, “U-udah, Gas?”

Setelah itu kami pergi tidur dan tidak ada yang membahasnya lagi.

By the way, Bang Dicky sekarang ada di mana ya?

Aku menghabiskan corn soup-ku buru-buru dan mencoba mengecek workshop untuk mencari Bang Dicky. Ya, dia ada di sana ternyata. Sedang memahat sebuah frame, hanya mengenakan kaus sleeveless tipis yang membuatku jadi panas dingin lagi karena bergairah. Dia tampak mengagumkan dengan pose seperti itu. Duduk di atas kursi, asyik mengukir-ukir sesuatu, dan alisnya bertaut.

“Bang? Udah makan?” tanyaku. Aku menghampirinya dan melihat apa yang sedang dikerjakannya. Dia sedang membuat... tangan-tangan yang menyeramkan.

“Dicky udah makan, Gas. Agas udah makan belum?” Bang Dicky mendongak sebentar lalu melanjutkan lagi makannya.

“Aku udah makan. By the way, itu bikin apa Bang Dicky?”
“Tangan si Kunti. Terinspirasi dari kejadian semalem.”
“Tapi yang semalam muncul tuh kakinya... bukan tangannya...”
“Nggak apa-apa. Entar kakinya dipahat di bawahnya aja.”

“Dan frame-nya bakalan dijual?” Aku nggak bisa membayangkan ada orang yang benar-benar membeli frame dengan pahatan kuntilanak.
“Kalo bagus sih nggak bakal dijual...”

Ya sudah, berarti mudah-mudahan hasilnya jelek, batinku.

“Aku mau lihat si Cupid lagi, ya?” kataku.
“Hobi amat sih lihat pigura yang itu?”
“Sebab aku masih penasaran sama cupidnya.”

Hening di seantero workshop. Hanya terdengar suara sayup-sayup gesekan pisau dan kayu dari Bang Dicky. Aku berdiri di depan The Cupid, meraba lagi wajah si cupid, and of course, masih mengharapkan jawaban pasti tentang kejadian minggu kemarin.

“Bang Dicky sebetulnya percaya nggak kalo aku ketemu cupid?” tanyaku sambil lalu.

Bang Dicky bergeming, masih sibuk memahat tangan-tangan kunti itu. Tapi lama kelamaan dia mendesah dan mengutarakan juga pikirannya.

“Dicky nggak percaya sama makhluk-makhluk macam begitu,” katanya, berhenti memahat. “Tapi Dicky juga nggak percaya kalo Agas ngebohong. Mungkin yang dilihat Agas emang si Cupid. Tapi kan bisa jadi itu halusinasi atau jin atau si Kunti atau apa gitu.”

“Dia si Cupid,” gumamku. “Sebab dia ramah, nyapa aku sambil tersenyum.”
“Emangnya si Kunti nggak bisa nyapa orang dan tersenyum?”

Well, setahuku sih, dari film-film, nggak ada kuntilanak yang nyapa orang dan tersenyum.

PART 27


Dengan tidak sabar aku pindah ke ranjangku dan duduk makin gelisah di situ. Pintu depan rumah terbuka, seseorang masuk. Dengan santainya seseorang berjalan menyeberangi ruang tamu, bersenandung, dan bahkan kudengar dia membuka-buka toples kue kering yang ada di ruang tamu. Siapa itu? Zaki? Granny?

—jgn salahin saya dong! Perasaan ini tiba2 ada d hati saya... emgnya, apa salah cinta sama cowok? Saya kirain, cinta itu nggak mmandang alat kelamin..—

Well Mahobia won’t hang with me all day long and keep smiling thou i annoy them. And they dont even tolerate my weakness. They dont accept me as i am, like u do. And i blieve they will never assist me to home in the middle of the nite, due to my problem with ghost, when they’re actually at home at that time.

what if i dont want to be a part of Mahobia anymore? What if i just want to be a part of...... you?
10 detik yang lalu.

-XxX-

Oh, God.
Sekarang perasaanku makin kacau. Aku bahkan nggak bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana perasaanku saat ini. Aku terduduk di atas ranjang. Gemetar. Bingung bagaimana harus merespon.

Seingatku baru beberapa jam lalu aku berharap aku tahu siapa saja orang yang mencintaiku. Tapi sumpahnya, aku nggak berharap jawabannya bisa datang secepat ini. Bahkan aku nggak menyangka bahwa orang-orang tersebut adalah “mereka”. For God’s sake, nggak adakah stranger di luar sana yang mencintaiku? Atau selebritis? Jujur aja, dalam kamusku, rasanya janggal mencintai sahabat sendiri. Zaki dan Cazzo jelas sudah jadi sahabatku, semenyebalkan atau se-annoying apapun.

Jika memang inilah jawaban dari harapanku pada si Cupid pagi tadi, well, yang bisa kukatakan hanyalah: kadang cupid tuh tolol.

Eh, bukan.

Cupid tuh memang tolol.

“Oh, you di sini rupanya!” Tiba-tiba Esel muncul di ambang pintu kamarku, mengenakan long coat warna kuning yang mencolok, dengan penutup kepala rajutan warna putih dan tas Louis Vuitton palsu warna coklat. “I cari-cari ke workshop cuma ada My Precious lagi bikin pigura. Katanya you lagi di kamar.”

“Kamu mau ngapain ke sini, Esel?”
“Mau bikin perhitungan.”

Esel menghampiriku dengan tatapan dingin yang nggak menyenangkan. Dia seperti ibu tiri yang baru saja mengetahui bahwa Cinderella nggak becus ngepel ruang tamu. Sorot matanya tajam, rahang mengeras, dan pilihan lipgloss yang makin menunjukkan bahwa “ada masalah besar yang mesti kita selesaikan bersama”.

Sorry, aku lagi nggak mood ngitung, oke?”
“Oh, nggak bisa.” Esel mengedikkan kepalanya dengan angkuh. “Ini masalah penting. Antara hidup dan mati. You mesti ngedengerin kata-kata I.”

“Emang ada apa, sih? Nggak ada orang lain buat diganggu lagi ya selain aku? Udah dari awal aku bilang, aku bukan The Jelitaz dan aku nggak mau di-makeover!”

Of course!” kata Esel, dengan suara melengking dan nada mencibir. “You bukan The Jelitaz sekarang, karena you udah kita keluarin.”
For God’s sake! I wasn’t even—“
SHUT UP!” pekik Esel. “Gue ke sini karena gue baru aja ngelihat sesuatu hal yang ganggu banget buat gue, dan gue nggak bisa diem aja ngebiarin semua itu terjadi!”

Esel kelihatan berapi-api. Marah besar. Bahkan matanya merah, entah contact lens, entah dia memang iblis. Dia bahkan mengganti You and I-nya yang memuakkan dengan yang lebih Indonesian.

“Dan hubungannya sama aku apa?” Aku mengernyitkan alis.

“Oh, lo hubungannya gede banget, Banci!” Esel balas mengerutkan alis. Dia bahkan berkacak pinggang. “Apa maksud lo mesra-mesraan sama Cazzie, hmh? Lo kan udah tau, kalo dia itu cuma milik gue! Satu-satunya banci yang boleh nyentuh dia cuma gue! Dan lo udah ngelanggar itu dengan mesra-mesraan sama dia! Ini nggak bisa dibiarin lagi! Waktu kemarin gue tinggalin lo ama Cazzie itu karena gue kasihan ama lo, kali aja di idup lo nggak pernah ketemu cowok ganteng khas Indonesia. Tapi kali ini udah keterlaluan! Udah kelewat batas!”

“Kelewat batas apaan, sih?! Maksud kamu tuh apa?”

“Itu, foto lo bareng Cazzie yang mesra-mesraan makan Sushi sambil ditulis FOREVER segala!”
“Itu bukan aku! Itu Cazzo sendiri yang—”
Bullshit!” Esel mendengus seperti kerbau. “Nggak mungkin Cazzie ngedit foto berduaan ama cowok sambil ditulisin forever! Cuma banci yang mungkin ngelakuin itu! Cazzie-nya nggak mungkin! Jadi lo jangan coba-coba nipu gue!”

Aku menatap Esel nggak percaya. “Emang kamu nggak lihat profil picture Cazzo, hah? Dia sendiri kan yang upload foto itu? Dia sendiri yang edit dan dengan bangganya majang foto itu?”

“Tapi, kan...” Esel berhenti, baru ngeh kalo kata-kataku ada benarnya juga. “Intinya sih lo udah keterlaluan!”

Esel menatap kertas yang ada di tanganku. Tanpa banyak basa basi dia langsung merebutnya dan mendorongku hingga terjatuh ke atas ranjang.

“ESEL!” sentakku. “Itu punya aku!”
“Berisik lo!” Dia mendorongku lagi... dan entah kenapa aku terjatuh lagi.

Ketika aku bangun untuk merebut surat itu, aku sudah sangat terlambat. Esel sudah melakukan quick scanning hal-hal yang perlu dibaca, misalnya namaku, nama Zaki, dan kesimpulan utama dari isi surat itu.

“Jadi lo sekarang ngerebut zaki dari GUUEEE?!” Esel melongo nggak percaya. Ekspresi wajahnya mirip ekspresi wajahku waktu kulihat di cermin tadi. “Gue nggak nyangka lo bener-bener backstabber!”

I’m NOT a backstabber!” pekikku. “Dan aku nggak ngerebut siapapun dari kamu! Mereka yang nyamperin aku! Mereka yang datang sama aku! Dan semua itu pun nggak aku harepin! Kamu jangan seenaknya ya nuduh-nuduh aku udah ngelakuin hal jahat sama kamu! For God’s sake, you’re a dumbass, Esel!”

Shut up, Bitch!” Esel mendorongku lagi. Aku sebetulnya mencoba menghalau, tapi banci yang satu ini benar-benar kuat—karena aku terjatuh lagi untuk ketiga kalinya. “Mulai sekarang, gue nggak bakal easy lagi ama lo. Gue bakal terus bikin perhitungan ama lo!”

Esel meremas surat cinta dari Zaki dan melemparnya ke belakang.

“Kecuali lo mau nurut sama kata-kata gue, lo bakal selamet.” Esel memberikan tatapan penuh nafsu seperti harimau mengintai mangsanya. “Atau lo... gue... END.”


Hari ke-13 Perang Dunia III (dan hari ke-3 suspended)...

“Jadi, mendingan yang mana, Gas? Topi bulu-bulu yang ini? Atau yang ada tudungnya yang itu?” Granny menyeberangi kamar dan menarik sebuah topi lebar bertudung (nyaris mirip dengan topi Lady Gaga di video klip Telephone) dari dalam lemari. “Kalau yang ini kan bisa menghalau panas, betul?”

“Astaga... dari mana sih Granny dapet topi-topi itu, hah?”
“Dari mana-mana, Darling... yang ini dari Cimol Gedebage... yang ini Pasar Baru... lalu yang itu dari toko antik di Jalan Riau... yang ini juga... oh, yang ini sih bikin sendiri di tukang rajut, sengaja Nenek datang ke Binongjati buat ngerajut topi ini. Murah lho ongkos rajutnya!”

Dan Granny pun mengacungkan topi rajut paling aneh yang pernah kulihat.

“Pake yang ini aja, Granny. Yang ini manis, kok.” Aku mengacungkan topi mungil cantik warna pink pucat yang mirip dengan topi di kartun Strawberry Shortcake.

Nehi-nehi-nehi,” kata Granny dengan logat India dan kepala bergoyang kanan kiri. “Yang itu kurang mencolok. Nenek butuh yang mencolok. Yang bikin orang-orang terkejut. Yang bikin orang-orang bilang, ‘ya ampun, siapa gadis cantik itu?’”

Ha-ha. Yang bener aja, deh.

“Dengan Granny datang ke acara Inbox pun, Granny udah mencolok. I mean, sejak kapan acara anak muda macam Inbox ditonton sama nenek-nenek? Granny pasti bikin heboh kalo muncul di sana.”
“Tapi gimana kalo Nenek nggak kesorot kamera, hah? Gimana kalo kameramen nya ngantuk dan nggak ngeh kalo ada nenek-nenek di acara itu? Bisa-bisa gagal rencana Nenek.”

Aku menepuk dahi dan menggelengkan kepala. Satu hal yang pasti, aku nggak akan nonton acara Inbox tersebut. Bahkan kalau perlu, aku bakal pura-pura nggak kenal dengan Granny setiap kami jalan berdua di tempat umum.

Jadi begini, Granny sedang berantem dengan sahabat terbaiknya, Jeng Nunuk. Pertempuran mereka aku sebut Perang Dunia III karena efeknya benar-benar bikin pusing. The Jandaz otomatis goyah sekarang. Program Gadis Matic “memberi minum gratis untuk anak-anak jalanan” pun batal dilaksanakan dua hari yang lalu, semua gara-gara perseteruan Granny dan Jeng Nunuk.

Apa penyebabnya?
No other else: the fight between me and Esel.

Terakhir kali Esel datang ke rumahku, dia ngamuk-ngamuk karena dia pikir aku merebut semua orang yang dia sayang. Meski telah kujelaskan bahwa aku sama sekali nggak melakukan apapun, banci itu nggak mau percaya. Dia telanjur sakit hati. Dia telanjur berpikir bahwa aku backstabber, tukang merebut kebahagiaan orang lain (si Selamet malah bilang aku ini kayak Dementor), dan bahwa aku mengancam kelangsungan hidup banci-banci CIS karena aku “katanya” terlalu banyak tebar pesona.

For God’s sake, kapaaaaan aku tebar pesona? The only place I often visit in CIS is the library! Setahuku, nggak sempet tuh aku tebar-tebar pesona ke sana kemari.

Intinya, sejak saat itu, kami musuhan. Sialnya, Esel kalo lagi musuhan sama orang, bakal melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan musuhnya. Salah satunya adalah mengatakan yang jelek-jelek tentang aku ke Jeng Nunuk sambil meyakinkannya bahwa aku ini berbahaya. Of course, Jeng Nunuk percaya sama cucu kesayangannya itu dan langsung menghubungi Granny untuk “membicarakan” masalahku tersebut.

Katanya aku ini tukang merebut kekasih orang lain, maniak seks, kuper, sering mencuri penghapus dan pulpen di kelas, menghisap ganja, dan parahnya sih Esel bilang ke Jeng Nunuk kalau aku gay dan dia juga menyebut-nyebut sesuatu tentang Ryan Jombang.

But Thanks, God, bukannya percaya sama Jeng Nunuk, Granny malah membelaku. Granny bilang satupun kata-kata Jeng Nunuk nggak ada yang bener. Granny malah bilang aku ini anak gaul karena pernah tinggal di Amerika, majalah-majalahku berbahasa Inggris dan bergambar Oprah Winfrey, dan tentunya Granny memastikan bahwa aku punya stock pulpen dan penghapus yang cukup di rumah tanpa harus mencurinya di kelas.

Waktu mengatakan soal gay pun Granny hanya tertawa. Katanya impossible aku gay karena aku nggak pake anting di kiri dan bajuku nggak ketat-ketat macam Esel. Granny malah menyerang Jeng Nunuk dengan bilang bahwa Esel-lah yang sudah pasti gay karena Esel sering banget pake lipgloss dan contact lens. Jeng Nunuk tersinggung. Ujung-ujungnya kedua best friend itu bermusuhan dan suasana komplek dalam 2 minggu terakhir terasa panas.

Granny sekarang selalu memutar ke blok sebelah hanya karena nggak mau melewati rumah Jeng Nunuk yang lebih dekat dengan gerbang komplek. Granny bahkan membuang semua bunga-bunga sedap malam pemberian Jeng Nunuk ke dalam tong sampah. Status-status facebook-nya pun terdengar sangat menyebalkan.

t03HaN , , q4wh Tw y9 trB4eeq , ,

cMuu9Ha dYa s4D4R s3s4DaR-s4DaR-xx , , F*cq y0u ! !


Persaingan terbaru mereka adalah tampil di teve. Bukan jadi artis tentunya, melainkan penonton. Aku baru tahu di Indonesia ada acara teve pagi hari yang menyajikan konser kecil-kecilan dari artis lokal, menyanyi lipsync dipandu host yang garing setengah mati, dan ditonton oleh penonton yang ada di panggung. MTV TRL mungkin maksudnya. Rada-rada mirip seperti itulah. Setiap stasiun teve kayaknya punya program yang sama persis. Ada Derings, Inbox, Dahsyat, dan lain-lain.

Nah, dua hari yang lalu, Jeng Nunuk berhasil bikin Granny panas dengan tampil di acara Dahsyat. Dia datang bersama Esel, mengenakan kostum warna kuning dan tampil beda dibandingkan penonton yang lain. (And of course, kehadiran Esel di situ bikin aku muntah! Dia mirip... banci kampungan. I mean, dia mengenakan kaus ketat berlengan pendek, celana ngepas selutut, rambut lurus berponi, bibir berlipgloss, dan mata dipasangi contact lens warna hijau cerah. Belum lagi soal bedak yang kelihatan kentara dan gelang-gelang Bali-nya itu, lho. Yuck.)

Si Host, Raffi Ahmad (Correct Me If I’m Wrong), terkejut melihat penampakan gadis lanjut usia di bangku penontonnya. Dia langsung menarik Jeng Nunuk ke tengah panggung dan dalam waktu 3 menit Jeng Nunuk berhasil tampil di depan jutaan penonton Dahsyat di seluruh Indonesia. Dan satu dari jutaan tersebut adalah Granny, yang akhirnya membanting-banting piring plastik karena kesal.

Alhasil, Granny langsung menghubungi program acara Inbox dan menanyakan program hari esok mereka. Dan hari ini Granny sedang melibatkanku dalam “pemilihan baju fantastis” yang kira-kira bakal membuat Gading-Martin-Whoever menariknya ke atas panggung.

“Yang kembang-kembang ini gimana?” Granny mengacungkan dress paling kuno yang pernah ada. “Yang ini warnanya mencolok, kan?”

“Tapi itu kurang modern, Granny... pake yang biasa aja, deh...” Aku mengacungkan dress hitam polos yang sudah kutandai dari tadi. “Ini gimana?”
“Ah, no way.” Granny mengaduk lagi lemarinya. “Yang itu terlalu... pemakaman.”

Granny muncul dari balik lemari medieval-nya dan mengeluarkan jaket merah mencolok dari bahan kulit (yang mengilat). “Yang ini bagus, kan?”
“Dalemnya pake apa?”
“Ngng...” Mata Granny berkeliaran ke tumpukan bajunya. “Tanktop putih yang itu, mungkin.”

“Bawahannya?”
“Celana jins!” Granny buru-buru mengambil celana jins yang sudah ditandainya dari tadi. “Nah, kan... Nenek pasti kelihatan kayak cewek karir.”
“Ckckck. Asal Granny bahagia aja, deh...” Aku memutar bola mata.

Setelah puas menentukan pakaian fantastisnya (yang sebetulnya jauh dari fantastis—I mean, Granny malah kelihatan kayak nenek-nenek kaya raya yang tampil modern dan mengendarai Benz terbaru), Granny pun menggantung kostumnya itu di belakang pintu dan mulai mengaduk-aduk tumpukan sepatunya.


PART 28

“Kamu yakin kamu nggak mau ikut, Darling?” tanya Granny sambil mencoba menyelipkan kaki ke dalam wedges warna mocca.

No, Granny. Aku di rumah aja. Lagian, kan, grounded means staying in the ground. Aku nggak boleh terbang kemana-mana buat jalan-jalan. Dan juga CIS ngasih banyak tugas selama masa skorsing ini.”

“Kamu udah ngerjain tugas-tugas kamu, Sayank?”
“Sebagian.”
“Pokoknya nggak usah khawatir, Darling. Nenek selalu dukung kamu. Bahkan meski kamu suspicious macam begini—“
Suspended, Graannn..” selaku.
“Ya, pokoknya itu. Apalagi kamu waktu itu membela diri, kan? Dari Esel, kan?”

Ini adalah hari ketiga di mana aku diskors dari CIS. Aku dirumahkan selama 7 hari dan dibebani banyaaak sekali pekerjaan rumah. Don’t worry, Esel juga mengalami hal yang sama. Intinya sih ini semua gara-gara perang antara aku dan Esel, yang juga sama panasnya dengan Granny dan Jeng Nunuk.

Hari pertama sejak kami bermusuhan, Esel tiba-tiba menyebarkan rumor bahwa aku gay ke seantero CIS! Well, basically yes, I’m gay. Tapi kan aku nggak tampil di depan orang-orang sebagai gay. Hal ini malah membuat sebagian orang resah. Misalnya beberapa cowok yang sekelompok denganku di pelajaran olah raga tiba-tiba melontarkan berbagai alasan waktu aku mengajak mereka ganti baju bareng. Ini bener-bener bikin aku sakit hati. Memangnya aku ini bawa penyakit atau apa, hah? I mean, seiyanya aku gay, maksudku mengaku gay di depan publik, bukan berarti aku bakal memangsa segala jenis cowok di dunia ini. Aku juga pilih-pilih, okay.

Rumor gay itu pun membuatku didekati oleh DIGEOLS (Discreet Gay, Bisexual, or Lesbian Association), sebuah klub rahasia di CIS yang fokus dalam bertahan hidup sebagai gay, bi, atau lesbi di sekolah. Mereka sembunyi-sembunyi mengajakku gabung dalam klub mereka, bahkan menawariku posisi sebagai Future Public Relations.

Aku jelas menolak penawaran tersebut. But thanks to Digeols, aku jadi tahu siapa-siapa saja homosexual discreet di CIS.

Yang paling parah adalah aku masuk daftar buruan Mahobia. Aku sempat dikerjai mereka dengan cara dikunci di dalam WC, dilempari ular, dan diputarkan lagu Lingsir Wengi—mungkin mereka pikir aku sama pengecutnya seperti Cazzo. Tapi untung satupun dari kejahilan tersebut nggak ada yang membuat takut. It’s a bit silly, though.

Sampai akhirnya empat hari lalu aku membabibuta di laboratorium Biologi dan memecahkan boneka patung organ tubuh hingga jantung dan livernya pecah berkeping-keping. Semua dimulai gara-gara Esel bikin ulah.

You masih berani-beraninya ya, deketin Cazzie,” desis Esel beserta The Jelitaz di belakangnya, tepat saat aku sedang membereskan peralatan lab-ku. Kebetulan memang aku yang kebagian mengunci laboratorium, sehingga saat itu aku sedang sendirian.

Shut up,” sahutku. “Aku lagi nggak mood ngobrol ama oposum.”
You pikir I lagi mood ngobrol ama platipus macam you?” Esel geleng-geleng kepala dan berkacak pinggang. “I di sini karena ini udah darurat. Kelihatannya you dari lahir nggak pernah dianugerahin kuping, ya? I udah ultimatum you buat nggak ngedeketin Cazzie, tapi you budeknya nggak ketulungan. Cocok deh you kalo jadi setan budek di persimpangan kereta api.”
“Embeeeerr... mukanya aja sama!” sahut Selamet.

“Kamu yang lebih budek, Setan Budek,” sahutku. “Udah berapa kali aku bilang, aku nggak pernah ngedeketin Cazzo—dia yang ngedeketin aku—tapi teteeep aja kamu mikir yang sebaliknya.”
“Karena faktanya begitu, Bondon! Cuih.” Esel meludah ke samping. “Tinta mungkra seorang Cazzo secara sengaja ngedeketin you. Yang ada juga you nyantet detseu, dan you ngebikin seolah-olah dia yang ngejer-ngejer you. So pathetic...

Aku nggak percaya Esel bisa bilang “pathetic” padahal JELAS-JELAS dia yang pathetic.

Suit yourself, bitch,” sahutku. “Aku nggak peduli, okay. Ultimatum apapun terserah kamu, deh. Toh yang rugi selama ini cuma kamu karena mikirin masalah ini setiap menit. Aku sih nggak.”

Rahang Esel mengeras. “Oh, really?” Esel memberikan tatapan jahat penuh kemenangan. Susah payah dia membangun kembali percaya dirinya. “Semoga beruntung deh entar pulang ke rumah nggak ada yang ngegodain. Atau at least, nggak ada yang nanyain nomor telepon. Hihihi...”

“Apalagi sih Esel, hah? Sekarang kamu ngapain lagi? Ngegosip ke stasiun teve kalo aku gay?”

“Oh, better,” katanya sambil cekikikan dengan The Jelitaz. “I baru aja nge-email link manjam you, bahkan ngeprint sebagian buat ditempel di gerbang, dan bahkaaaannn—this is the best part: I kirim profile manjam you ke guru BP kita!”

So you think it would make any different?” Aku memutar bola mata dan meraih ranselku. “Orang-orang udah berpikir kalo aku gay, SEANTERO CIS, sampe-sampe ada klub gay rahasia yang ngajak aku gabung. Ngasih profil manjam aku sama sekali nggak ngubah apapun. Lagipula, aku tinggal bilang account itu palsu. I mean, account macam begitu bisa dibikin sama siapa aja, kan?”

No, dear, no. Itu nggak semudah yang you bayangkan...” Esel berhenti sejenak untuk menambah efek dramatisir. “I juga bilang kalo you sama persis sama Ryan Jombang. Tipe-tipe gay yang mesti diwaspadai. Apalagi you berasal dari keluarga broken home karena yatim piatu, jadi kemungkinan you butuh perawatan medis dan psikiater buat ngobatin sakitnya you sebagai binan.”

Fuck you, Esel. Don’t care!” Aku bergegas keluar dari laboratorium. Tapi Esel menahanku. “Mau apa lagi sih?”

I mau you enyah dari—“

Aku mendorong tubuh Esel sampai terjatuh sebelum dia menyelesaikan kata-katanya. Aku sudah frustasi sampai-sampai ingin membunuhnya sekarang juga. Esel jatuh menindih tiga anggota The Jelitaz yang lain—satu di antara mereka langsung menangisi kuteks kukunya yang belum kering.

“Ini yang terakhir buat kamu! Aku sama sekali NGGAK ada niatan buat deketin Cazzo! SEDIKITPUN! Okay? Kalo kamu masih nggak mau nerima juga, berarti kamu yang BUDEK!”

Faktanya memang begitu, kok!
Semenjak aku dirumorkan gay, Cazzo bukannya menjauh dariku, dia malah makin nempel. Dia bahkan meminta maaf berkali-kali karena dia yakin rumor gay itu datang gara-gara dirinya. Gara-gara profile picture itu lah, atau gara-gara foto kami itu lah, atau karena dia selalu membuntutiku selama istirahat lah...

Malah, dia jadi satu-satunya orang yang berusaha meyakinkan murid-murid se-CIS kalau aku straight, kalau rumor itu hanya salah paham.

Esel buru-buru bangkit dan balas mendorongku hingga aku tersungkur di antara meja-meja laboratorium yang panjang. “Biasa aja, Bondon! Jangan pake dorong-dorongan segala! Lo pikir gue takut, hah?!”

Dan terjadilah catfight sialan itu. Aku dan Esel bertarung di laboratorium Biologi, saling menjambak rambut, mencekik, dan mencakar muka. Banci itu lebih canggih lagi karena dia berhasil menendang perutku sampai aku tersungkur di atas meja penuh gelas Kimia. Aku akhirnya membabibuta, aku mengambil bangku terdekat dan melemparkannya ke arah Esel. Sayangnya lemparanku meleset.

Selama sekitar dua menit kami berdua menghancurkan laboratorium Biologi. Anggota The Jelitaz yang lain bukannya melerai malah menyemangati Esel biar menang. Si Syarifudin bahkan mengeluarkan pom-pom dari dalam ranselnya dan meneriakkan yel-yel.
"Yow-yow, Esel! Give me E! Give me S! Give me L! Give me... ngng... apalagi, sih?"

Puncak paling parah dari kekacauan itu adalah boneka patung organ tubuh pecah tercerai-berai di atas lantai dan seorang guru kebetulan lewat di laboratorium waktu insiden itu terjadi.


Alhasil, aku dan Esel di-suspend dari CIS. Dirumahkan selama 7 hari dan dibebani dengan banyak sekali homework. Aku dan Esel dikenai hukuman karena dianggap telah “membuat keonaran” dan “merusak properti sekolah”. Well, nggak bisa ngelak juga, sih. Karena emang begitu kejadiannya.

Tapi yang bikin aku frustasi adalah kami—aku dan Esel—sempat didudukkan beberapa jam di ruang BP, dikelilingi banyak guru, dinasihati beragam hal soal menjaga sikap dan betapa memalukannya kami berdua. Sebalnya, topik tentang “aku gay” pun tiba-tiba jadi pembahasan utama di ruang BP. Oh, worse, semua kekacauan ini seolah terjadi gara-gara aku gay. Seolah orientasi seksualku adalah biang kerok semuanya.

Aku bahkan dinasihati jutaan kali untuk meluruskan orientasi seksualku, dan bahwa semua guru di CIS mendukungku untuk menjadi “normal”, dan bahwa di lemari dokumen di ruang wakasek ada banyak brosur tentang melawan perasaan menyimpang sebagai gay, dan bahwa ekskul sepakbola masih butuh orang, dan lain-lain, dan lain-lain.

Oh, I’m sick of it!

Lama-lama aku bersyukur karena diskors dari CIS. At least, aku bisa menenangkan diri.

“Kamu setuju kan sama heels yang ini?” Granny membuyarkan lamunanku. “Kira-kira Nenek kelihatan lebih tinggi nggak ya?”

“Ya, ya...” jawabku malas-malasan.

Aku beringsut di atas ranjang Granny dan memerhatikan wanita tua itu membereskan semua outfit-nya sambil memisahkan barang-barang mana saja yang bakal dibawanya pergi.

“Nah, udah selesai. Tinggal masukin ke koper,” gumam Granny. “Oh, Agas, kamu mau dibawain oleh-oleh dari Yogyakarta?”
“Terserah Granny aja. Aku belum pernah ke sana, jadi nggak tahu apa aja yang ada di sana.”

“Nenek bawain Nasi Kucing, deh, ya?”
“Whiskas?” Aku mengerutkan alis.
“Bukan makanan kucing, darling. Tapi nasi kucing. Kalo Nenek ke Jogja, Nenek selalu nyempetin makan di warung tenda pinggir stasiun, makan nasi kucing...”

Rute “menonton Inbox” Granny terbilang agak boros. Granny bakal berangkat sore ini menggunakan pesawat dari Bandung ke Jakarta, menginap di salah satu hotel Bintang 4, lalu menonton acara Inbox sepagian, siangnya ke bandara untuk terbang dari Cengkareng ke Jogja (karena udah nggak ada penerbangan Jakarta Bandung lewat dari jam 10 pagi), lalu malamnya terbang dari Jogja ke Bandung.

Intinya sih: naik pesawat. Granny emang hobi ngumpulin Frequent Flyer Miles.

“Udah Nek?” Bang Dicky muncul dari balik pintu, melongokkan kepala dan mengerutkan alis. “Entar taksinya dateng jam empat. Jangan lupa tiketnya.”

Oh, iya. Aku belum bilang, ya? Bang Dicky juga ikut Granny ke Jakarta, sehingga yang tinggal di rumah ini hanyalah aku seorang. Dan untuk mengantisipasi kesepian maupun rasa mencekam rumah ini di malam hari, aku sudah menghubungi Zaki untuk sleepover. (Of course, dia girang bukan main.)

Entah apa yang mesti kukatakan soal Zaki nyatain cinta padaku dua minggu yang lalu. Aku pikir dia cuma bercanda (sampai sekarang pun aku pikir dia memang bercanda). Tapi dia berkali-kali bilang, “Saya serius!” sampai-sampai membuatku ngeri. I mean, seorang cowok yang hobi nge-sex bareng jutaan cewek tiba-tiba nyatain cinta padaku?

It would be too sweet. Too... sexy. Saking seksinya mestinya ini impossible. Coba bayangin, ada berapa juta gay sih di dunia ini yang mendambakan bercinta dengan cowok straight? Aku bertaruh, dari 1 juta gay, ada sekitar... 1 juta yang mendambakannya. Dan hal yang paling banyak didambakan adalah hal yang paling mustahil. Contohnya... perdamaian dunia... atau hujan uang dari langit.

Meski sudah kujelaskan, bahwa mungkin perasaan yang dia rasakan hanyalah perasaan sayang sebagai teman, atau keluarga, atau menganggapku adik misalnya, Zaki tetap keukeuh bahwa yang dia rasakan adalah cinta. Dia nggak ngerasain hal yang sama buat cewek-cewek lain. Katanya aku pengertian lah, aku sabar lah, aku ngegemesin lah, et cetera, et cetera. Dan rasanya dia pengen memelukku terus.

Well, sekarang merangkul tubuhku memang sudah jadi hobinya. Setiap rumah kosong, lalu kebetulan Zaki mampir, (atau kapan itu aku memang sengaja datang ke rumahnya yang sempit karena bosan di rumah melulu), Zaki suka mengajakku duduk dan merangkul pundakku, menarik kepalaku agar bersandar di bahunya. Mirip orang pacaran aja gimana. Tangan Zaki bergerilya di rambutku... dan tiap aku mengangkat kepala karena pegal, cowok itu ngambek.

Nyebelin, kan?
I mean, di tengah usaha mati-matianku untuk nggak jatuh cinta sama cowok, ternyata aku malah dapat anugerah macam begini.

“Nih-nih-nih, udah selesai...” Granny berdiri dan menyerahkan koper mini warna hitam itu pada Bang Dicky. “Tiketnya udah di dalem. Kamu cek lagi, Sayank. Nenek mau mandi dulu.”
Bang Dicky mengangkat kedua alisnya menandakan oke.

Setelah Granny hilang ke kamar mandi, lalu Bang Dicky selesai meletakkan koper Granny di ruang tengah, Bang Dicky menghampiriku di kamar Granny. Saat itu aku sedang melamun sambil ketakutan dengan interior kamar Granny yang dutchy abis. Ada wallpaper jaman medieval, meja rias jaman medieval, karpet tebal jaman medieval, hingga lampu dinding yang temaram.

“Agas yakin nggak mau ikut?” tanya Bang Dicky. Dia duduk di kursi keras dari kayu jati, yang tadi sudah kucoba kududuki tapi rasanya tidak nyaman.
“Nggak, Bang. Aku banyak pe-er. Akunya juga lagi nggak mau ke mana-mana.”

Bang Dicky terlihat cemas. Matanya memandang kosong ke atas lantai, berusaha deal dengan kenyataan bahwa Zaki bakal menemaniku semalaman. Bang Dicky memang masih nggak setuju aku main sama Zaki—entah untuk alasan apa.

“Agas yakin nggak ada temen Agas yang lain yang bisa diajak nginep bareng? Supaya banyakan, gitu... nggak cuma berdua aja...”
“Aku udah ngajakin temen-temenku, Bang... tapi begitu tahu rumahku di sini, semua orang tiba-tiba punya kesibukan. Mereka takut sama isu si Kunti.”

Bang Dicky mengangguk-angguk. Pandangannya masih kosong.

“Hati-hati ya sama si Zaki,” kata Bang Dicky kemudian. “Kalau dia mulai macem-macem, telepon Dicky.”
“Ya, ya...”
“Zaki tuh agak... mesum orangnya.”

Ember, batinku. Dan sejak awal pun aku sudah tahu... bahkan aku sudah mesum-mesuman bareng cowok itu.

“Agas nggak apa-apa kan sendirian? Maksudnya, nggak ada Dicky di sini?” Bang Dicky terlihat khawatir. “Entar gimana kalo si Kunti muncul...”
“Udah ih, Bang... jangan dipikirin mulu... kan ada Bang Zaki... tenang aja.”

Begitu aku menyebut nama Zaki, Bang Dicky justru terlihat lebih cemas.

“Ya udah...” katanya akhirnya, menyerah dengan segala kekhawatirannya. “Tapi inget ya... jangan macem-macem. Apalagi sampe masuk ruang yang dikunci di belakang—“
“Aku nggak masuk ruangan itu!” potongku. “Udah kubilang, kemaren tuh aku lihat kucing masuk ke situ, niatnya mau aku keluarin, tapi belum juga aku masuk Bang Dicky udah nongol... lagian pintunya dikunci. Sejak aku datang ke sini pun udah dikunci.”

Bang Dicky menghela napas. Dia lalu bangkit dari duduknya dan memelukku. “Jaga diri baik-baik, ya...”

-XxX-


PART 29

Masih ingat kan, kapan itu aku pernah nyerita kalau ada dua ruangan di rumah Granny yang dikunci? Nah, kemarin-kemarin, mungkin sekitar empat atau lima hari yang lalu, aku sempet punya kejadian yang bikin kaget.

Waktu itu sekitar jam lima sore. Aku lagi nonton Penguin of Madagascar sambil nyemil keripik Bukan Si Emak (di Bandung sekarang sedang perang keripik, dan aku sudah agak lama murtad dari Maicih). Saat aku mengambil minum di dapur, kulihat seekor kucing melompat dari atas lemari dan menghilang di koridor yang menuju salah satu “kamar terkunci”. Kucingnya warna emas, kok. Bukan kucing hitam gelap yang kupikir bakal banyak berkeliaran di rumah hantu macam begini.

Aku mengikuti kucing itu karena pada dasarnya aku suka kucing. Sumpahnya, aku sama sekali nggak kepikiran buat masuk ke kamar terkunci tersebut.
Pertama, ruangannya terkunci, and I have no idea where is the damn key.
Kedua, sejak menginjakkan kaki di sini, Granny sudah mewanti-wanti untuk nggak masuk ke ruangan tersebut, dan Granny bicaranya seolah di dalam ruangan itu ada tahanan paling mematikan, lebih mematikan dibandingkan Sirius Black.
Ketiga, aku cukup banyak nonton film horor, dan aku sudah menyimpulkan bahwa kehororan selalu dimulai saat si tokoh utama melanggar peraturan dari yang punya tempat.

Nah, aku jelas nggak mau menambah kehororan dalam hidupku. Jadi aku sama sekali nggak keberatan nggak pernah tahu ada apa di dalam kamar tersebut.

Tapi begitu aku membuntuti kucing itu, aku menemukan kucing itu lenyap ke balik pintu kamar yang terkunci. Kucing itu menembus pintu, seperti hantu. Dan setelah tiga detik berada di dalamnya, dia mengeong-ngeong seperti memanggilku.

Berhubung kuntilanak saja sudah pernah kulihat di atas lemari, aku nggak kaget lagi melihat kucing menembus pintu. Yang kuherankan adalah kenapa si kucing terus menerus mengeong dari dalam. I mean, kalau di dalam kamar itu gelap, kenapa dia nggak keluar lagi saja dan mencari makanan di sini? Dia bisa menembus tembok, kan?

Aku, yang merasa dipanggil-panggil oleh si kucing, berdiri terus di depan pintu dan mencari cara untuk membukanya. Bukannya aku penasaran sama kamarnya, ya—aku penasaran sama si kucing, kok. Aku membungkuk, berjinjit, mengintip ke balik engsel, mengintip ke lubang kunci, berharap ada suatu petunjuk yang menarik atau apa...

Tapi setelah dua menit berjuang keras, aku nggak menemukan apapun. Bang Dicky keburu muncul dan agak ngambek waktu melihat aku main-main di depan kamar terkunci itu. Sedikit banyak aku tersinggung waktu Bang Dicky menuduhku mencoba menjebol kunci kamar itu.

Ya sudah, lah. Lagipula sejak awal aku memang nggak berniat masuk ke kamar itu. Bahkan jika kuncinya menggantung di lubangnya, aku tetap nggak bakal membukanya. Kurang kerjaan.

—n3nEEq uDzz nY4mvve bnDr4 , , zAqqY uDzz d4t4N9 LuMzz ? ?—

Astaga... apa sih yang Granny sms-in ini? Bahasa Rusia, hah?

—belum. Msh di jalan katanya—

Sudah dua puluh menit berlalu sejak Granny dan Bang Dicky meninggalkan rumah. Aku mati gaya di ruang tengah, bosan browsing internet dan acara teve jam empat sore belum ada yang menarik. Tugas sosiologiku nyaris selesai tapi skorsing masih empat hari lagi—aku masih punya banyak waktu.

Hmmmh... ngapain, ya?

Workshop dikunci nggak, ya?

Aku sudah beberapa kali masuk lagi ke workshop demi bisa melihat penampakan si Cupid yang terbaru. Aku jadi terobsesi sekarang. Selalu berpikir bahwa bisa saja si Cupid melompat keluar dari frames, mengajakku ngobrol, syukur-syukur bisa mengabulkan tiga permintaanku seperti Om Jin, atau empat permintaan, lalu mungkin saja bisa jadi hantu peliharaanku... kapan itu aku pernah sengaja mengelap frames The Cupid hanya karena penasaran apakah akan keluar Cupid dari dalamnya.

Tapi penampakan yang kutunggu-tunggu itu tak kunjung terjadi. Minimal mata mengedip, deh. Nihil. Mungkin karena saat aku masuk ke workshop, Bang Dicky selalu ada di sana, mengawasiku. Dia jadi makin nyebelin sekarang. Setiap masuk workshop aku selalu dijaga ketat. Memangnya Bang Dicky nyimp—

KLETAK! KLETAK!

Apa itu?!

Aku mendongak dan duduk tegak di atas sofa. Kepalaku langsung memutar ke arah dapur dan mataku waspada. Jantungku berdegup kencang. Sumpah deh, yang barusan bikin kaget. Aku lagi asyik-asyiknya melamun tiba-tiba suara itu muncul begitu aja.

Suaranya seperti... baskom plastik yang jatuh ke atas lantai. Tapi suaranya keras sekali. Sekeras suara petasan.

Perlahan-lahan aku menyandarkan lagi punggungku ke sandaran sofa. Aku juga berusaha menenangkan jantungku. Kejadian suara-suara mistis memang lumrah terjadi di sini. Tiba-tiba benda jatuh lah, tiba-tiba lampu gantung bergoyang-goyang, atau tokek yang bernyanyi tiada henti, apapun yang menyeramkan bisa terjadi. Aku cukup terbiasa dengan suara-suara benda jatuh itu. Hanya saja yang barusan benar-benar keras.

KLETAK! KLETAK! KLETAK!

Nah, kan. Muncul lagi.

Aku terduduk di atas sofa selama beberapa menit. Bingung antara berdiri dan mengecek ke dapur apa yang terjadi, atau membiarkan itu berlalu begitu saja. Setelah semenit bergumul dengan pikiran sendiri, aku memutuskan untuk kembali merebahkan punggung ke sandaran sofa. Aku anggap saja si Kunti sedang asyik bermain atau apa gitu, jadi aku nggak perlu gangg—

KLETAK! KLETAK! KLETAK! KLETAK!

Oke-oke-oke. Aku ke sana sekarang.

Fiuh. Setan yang satu ini agak maksa, ya? Gampang ngambek.

Aku berjalan dengan hati-hati ke arah dapur. Di tanganku sudah ada majalah yang kuambil dari bawah meja, jaga-jaga andai aku mesti menggulungnya dan memukulnya ke pembuat onar barusan. Jujur aja aku deg-degan. Amat sangat deg-degan.

Tapi aku yakin kok, semua bakal baik-baik aja. I mean, se-harm apa sih hantu? Mereka nggak bisa bunuh manusia, kan? Mereka bahkan nggak bisa menyentuh kita... Tangan mereka menembus badan kita saat mencoba memeluk... atau at least, begitulah yang kulihat dari serial Casper.

Ketika aku tiba di dapur, ruangan itu kosong—ha, sesuai dugaanku, kan? Tapi mungkin di salah satu sudut ruangan ini, di balik lemari piring atau di langit-langit, ada seekor Kuntilanak sedang memperhatikanku atau apa gitu, jadi aku mesti jaga-jaga.

Aku menggulung majalah yang kupegang, membuatnya seperti pentungan. Saat aku melihat majalah apa yang sedari tadi kubawa... Oh, great... ternyata majalah Misteri. Ckckck. Cocok banget, em?

Aku berjalan layaknya pemain bisbol yang siap mengayunkan tongkatnya. Mataku waspada. Lirik kanan. Lirik kiri. Agak curiga dengan pintu lemari makan yang terbuka sedikit. Juga posisi teflon yang digantung yang menurutku agak miring sedikit. So where’s the Kunti? Where are you hiding, Bitch?

Miiaawww...”

ARGH!” Aku melompat kaget menabrak dinding dan nyaris menjatuhkan sebuah sapu. Dengan terkejut aku langsung menoleh ke sumber suara...

Di atas kompor sedang berdiri kucing keemasan yang kulihat tempo hari. Kucing itu menatapku seolah aku ini tolol. Dia mengeong beberapa kali sambil mengendus-endus udara untuk mencari pijakan melompat.

Heh! Kamu hantu, ya?!” seruku menodongnya.
Miaw.”
“Kamu makhluk halus?!”
Miaw.”

Gemetaran, aku memutar otak. “Kamu... kamu kuntilanak, ya? Menjelma jadi kucing?”
Miaw.”

Astaga. Aku nggak lagi ngobrol ama kucing, kan? Kenapa kucing ini menjawab pertanyaanku? Kebanyakan kucing kalau kuajak bicara biasanya langsung menatapku heran, memandang seolah aku ini orang gila.

Kucing itu melompat. Hop! Dia lalu berjalan melewatiku, mengeong lagi, dan bergegas menuju kamar Granny.
Miaw!” panggilnya.
“Apa?”

Kucing itu menatap pintu kamar Granny, lalu menatap ke arahku... penuh harap.
Miaw,” katanya.
“Kamu pengen aku masuk ke kamar Granny, hah?”
Miaw.”
No way!”
Miaw.”

Kucing itu menghampiri pintu Granny lebih dekat. Salah satu kakinya mengais-ngais kusen pintu, mencoba membukanya.

“Kamu nggak bakal bisa masuk ke kamar Granny!” ejekku, sambil menghampirinya. “Pergi kamu!”

Kucing itu menoleh. Menatapku. Lalu memutar bola matanya. Dan dua detik kemudian dia berjalan menembus pintu. Lenyap ke balik kamar Granny...
Sialan. Aku lupa kalau dia hantu!

Tiba-tiba saja kucing itu menjulurkan kepalanya dari dalam, menembus pintu—hanya kepalanya saja. Dia menatapku lagi. Lalu menjulurkan lidahnya. “Weeekk!” cibirnya.

“Sialan!” umpatku.

Aku langsung mendobrak pintu kamar Granny, yang pada dasarnya memang nggak dikunci, dan langsung menemukan kucing itu sudah ada di atas meja rias. Dia seperti pesulap saja... bisa berada dimana-mana dalam hitungan detik.

“Sebenernya kamu mau ngapain?!” Aku berkacak pinggang dan melotot menatap hantu kucing itu.
Miaw-miaw,” jawabnya.
“Kalo ngomong yang jelas, deh!”
Miaw.”
“Apa?!”
Miaw.”

Percuma. Apapun pertanyaannya, jawabannya pasti Miaw. Kucing hantu ini jelas nggak bisa bahasa Indonesia.

Do you speak English?” tanyaku, just in case ternyata dia bisa bahasa manusia.
Miaw.”

Oh, forget it!
Lama-lama aku jadi orang tolol berharap seekor kucing bisa berbicara layaknya manusia. Seekor hantu kucing, to be exact.

Kucing itu lalu mengendus-endus laci meja rias. Berkali-kali dia mengeong lagi, menatap mataku, lalu mengendus-endus lagi. Aku bergeming di posisiku, belum mengerti maksudnya apa. Setelah akhirnya dia mengais-ais laci meja rias, aku akhirnya mengerti kalau dia ingin aku membuka laci itu.

“Tapi kamu kan hantu! Tembus aja langsung kalo mau masuk,” kataku.
Miaw, miaw.” Kucing itu lalu memperagakan tangannya yang menembus ke dalam laci, menunjukkan bahwa “bukan mau masuk, tapi mau buka!”

Aku melipat tangan di depan dada, memicingkan mata. “No way, aku nggak mau buka laci Granny, karena itu kan privacy!”
Miaw.” Kucing itu memelas. Matanya bulat besar dan berkaca-kaca... mirip kucing oranye di film Shrek yang sering memberikan tatapan memohon. Tinggal diberi sepatu bot dan topi koboi, kucing hantu ini pasti bakal mirip dengan Puss The Boot.

“Nggak!”
Mew...”

Astaga. Makin sini kucing itu makin imut-imut. Padahal dia hantu!

“Oke! Tapi cuma buka aja, ya...”

Kucing itu terlihat gembira. Dia mundur beberapa langkah mempersilakanku membuka laci Granny. Huh, sialan. Kok bisa-bisanya aku nurut sama hantu.

Hantu kucing, pula.

Ketika aku membuka laci itu—yang ternyata nggak dikunci, padahal aku sudah berharap lacinya terkunci sehingga aku nggak perlu membuka apapun—kucing itu langsung melompat ke dalam dan mengarahkan kaki kanannya ke salah satu benda.

Miaw-miaw-miaw!”

Aku membelalak menatap benda yang ditunjuk si kucing. Kuambil benda itu, kuangkat, dan wajahku pucat tak percaya. “Oh my God! Granny punya G-string?! Disimpan di dalam laci?!”

Dan G-string-nya warna merah!

MIAAAWWW!!” pekik kucing itu marah. “Miaw-miaw-miaw-miaw-miaw!” Kucing itu menjejak-jejak laci, menunjuk benda yang dimaksudnya.
“Jadi maksud kamu tuh bukan G-string ini? Emang apa yang pengen ditunjukkin, hah?”
Miaw-miaw-miaw.” Kucing itu tetap menunjuk ke arah yang sama. Arah tempat aku meraih G-string merah milik Granny barusan. Tapi aku nggak melihat apa-apa lagi selain G-string ini dan...

Astaga! Ini vibrator?!

Aku menarik alat itu ke depan mukaku dan membelalak tak percaya. Baru sekarang aku melihat benda seksual macam begini—I mean, secara langsung. Benda ini nyata! Dan Granny memilikinya! Warnanya pink pula... gimana cara menyalakannya?

MIAAAWWW!!” kucing itu menjerit lagi.
Aku terkejut dan nyaris menjatuhkan vibrator itu.
Miaw-miaw-miaw!”

Dasar kucing sialan! Maunya apa, sih?!

1 komentar:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus